
“Kyaa!!” teriakku begitu menyadari seseorang yang berdiri di sana ternyata bukanlah orang yang kuharapkan.
Pria itu segera menutup mulutku dengan tangan besarnya, membekapku hingga tak ada suara teriakan yang lolos dari dalam mulutku.
“Kok teriak, gitu sih? Memangnya aku keliatan seperti hantu?” tanya pria itu tanpa menurunkan tangan yang membungkamku.
Aku menggelengkan kepalaku. Jantungku berdebar sangat kencang. Bagaimana bisa Om Damar masuk ke ruang ganti cewek? Ah .... Tentu saja karena tak ada seorangpun di sana. Tapi ... dimana gadis berkacamata itu? Jangan-jangan … Malah Om Damar yang mengatur semua ini.
Sepertinya karena dia merasa aku sudah tak mungkin lagi berteriak. Pria itu melepaskan tangan yang membungkamku. Sepasang matanya yang tajam, masih menatapku yang masih merasa sangat canggung karena pakaianku yang koyak.
Tanpa menunggu lebih lama, aku segera menuju ke pintu untuk mencari gadis berkacamata tadi. Mungkin saja dia berada di pintu luar ruang ganti umum. Semakin cepat aku mengganti pakaianku, semakin baik. Dan pekerjaanku hari ini akan semakin cepat selesai.
Tapi tangan kekar itu menahanku. Om Damar memegang lenganku. "Jangan keluar!" perintahnya padaku.
Aku menghentikan langkahku. "Tapi … aku harus …."
"Apa kamu akan keluar dengan penampilan seperti itu?" tanyanya sambil melemparkan pandangannya pada bagian dada yang masih kututupi dengan satu tanganku.
Ah … benar juga. Bagaimana aku bisa keluar dengan bagian yang sobek ini? Bisa-bisa semua kru melotot menatap bagian yang tanpa sengaja harus terekspos ini.
Tiba-tiba aku mendengar suara ponselku. Suara dering yang tak juga berhenti dari dalam kamar ganti, tempat aku menyimpan pakaianku. Mendengar deringnya yang tak kunjung berhenti, entah kenapa perasaanku jadi tak nyaman. Aku pun bergegas mengambil benda pipih itu.
Nomor asing terlihat berkedip di layarnya. Biasanya jika mendapat panggilan tak dikenal seperti ini, aku bakalan skip, nggak mau nerima. Karena seperti yang sudah-sudah itu hanya panggilan dari teman-temanku yang sedang iseng. Tapi kali ini naluriku mengatakan ada sesuatu yang penting.
Aku menggeser tombol berwarna hijau di layarnya. Sekejap saja, aku mendengar suara panik seorang wanita dari seberang sana.
"Halo, Tiara. Kamu dimana?" Tanya wanita itu ketika membuka percakapan kami.
__ADS_1
"Tiara di studio, Tan," sahutku menyadari bahwa itu adalah suara tante Ambar yang tinggal di sebelah rumah kami.
"Sebaiknya kamu cepat kemari. Mama kamu … mama kamu pingsan. Tante udah bawa mama kamu ke rumah sakit, kamu nyusul kemari, ya," pintanya. "Tante nggak tahu harus menghubungi siapa lagi."
Seketika sepasang kakiku terasa lemas. Pikiranku bercampur aduk tak menentu. Aku segera mencari sesuatu yang bisa menahan tubuhku.
Apa yang bisa aku lakukan sekarang? Aku cuma bisa berharap tak terjadi sesuatu yang buruk pada mamaku. Aku masih sangat membutuhkan dia.
"Tiara? Kamu kenapa?" tanya Om Damar.
Perlahan aku menggelengkan kepala. "Maaf Om, Tiara nggak bisa lanjutkan pemotretan hari ini."
Kepalaku tertunduk lesu. "Tiara sudah buat kacau hari ini, membuat robek pakaian yang seharusnya untuk pemotretan. Bahkan sekarang …."
Om Damar memegang kedua bahuku. "Siapa yang menelpon? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya dengan nada tegas.
Pria itu segera memberikan jasnya untuk menutupi pakaian yang kupakai. "Kita ke sana sekarang. Jangan cemas, semua akan baik-baik saja."
Aku berusaha bersikap tegar. Sungguh memalukan jika aku menangis di hadapannya. Aku pasti bisa. Bukankah selama ini aku selalu bisa bersikap tegar di hadapan orang lain?
Tiba-tiba Om Damar meraihku dalam pelukannya. Rasanya begitu hangat dan tanpa terasa cairan hangat itu menyelinap begitu saja di pelupuk mataku. Entah kenapa beban yang ada di pundakku terasa sedikit berkurang.
"Kalian mau kemana?" tegur Om Marcel ketika melihat kami melintas begitu saja di depannya.
Aku menundukkan kepalaku karena tak mampu menjawab pertanyaan itu dalam isakanku. Entah berapa banyak orang yang kini sedang menatapku. Aku tak peduli.
"Om, sebaiknya kita tunda pengambilan gambar hari ini," sahut Om Damar. "Aku akan mengantarnya ke rumah sakit. Dia mendapat kabar, mamanya baru saja pingsan."
__ADS_1
"Tante Nilam?" Suara Darren terdengar seolah terkejut mendengar kabar itu.
"Baiklah, jaga dia baik-baik Damar," ucap Om Marcel. "Beri aku kabar, apapun yang terjadi."
Om Damar segera membimbingku keluar dari studio. Dan tak berapa lama kemudian, mobil hitam dengan logo putih birunya itu telah meluncur, membawa kami ke rumah sakit terbesar di kota kami itu.
"Aku mengerti perasaanmu. Jangan terlalu cemas, semua akan baik-baik saja." Sekali lagi pria itu berusaha menenangkan aku.
"Bagaimana bisa Om mengerti perasaanku? Bahkan Om Damar tidak pernah berada di posisiku," sanggahku.
Mana bisa dia mengerti bagaimana perasaanku. Bukankah dia terlahir sebagai seorang yang berkecukupan, ah … bukan, lebih tepatnya kaya. Bahkan dari cerita Kak Merry, ayahnya bahkan sempat mengancam membatalkan pemesanan iklan, jika Om Marcel tidak memakainya sebagai model pendamping gadis model yang merupakan cinta pertamanya.
"Tentu saja aku mengerti. Aku juga pernah merasakan sakitnya kehilangan." Suara Om Damar terdengar begitu tenang, seolah mengatakan hal yang sama sekali tak mempengaruhi perasaannya.
Aku menatap pria yang sedang fokus dengan kemudinya itu. Sepertinya dia merasa jika aku sedang memperhatikannya.
"Aku baru saja kehilangan papaku, Om. Dan, sekarang … aku takut …."
Entah kenapa di hadapannya aku merasa begitu aman untuk membagi perasaanku. Entah kenapa di depannya aku merasa begitu nyaman menumpahkan semua yang ada dalam pikiranku.
Aku merasa begitu tak peduli jika dia menganggapku seperti anak kecil. Aku sama sekali tak peduli seandainya dia menilaiku begitu rapuh. Mungkin saja aku sudah terlalu lelah bersikap tegar dan menyembunyikan segala kesedihanku di hadapan semua orang.
Om Damar menepikan kendaraannya. Sepasang tangannya menyentuh pipiku, menahannya untuk membuat wajah kami saling berhadapan.
"Aku sangat memahami perasaanmu, karena … aku pernah berada di posisi yang sama." Om Damar menatapku, sementara jemarinya mengusap lembut cairan bening yang mengalir menuruni pipiku. "Pertama kali, aku kehilangan mamaku. Saat itu aku bahkan masih sekolah dasar. Setelah itu … aku kehilangan Paula dan … terakhir papa."
Aku kembali terisak. Tapi Om Damar sebaliknya, dia menarik sudut bibirnya dan merangkul aku ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Menangislah, jika itu bisa membuatmu lega. Karena hanya air mata yang mampu membasuh luka dalam hatimu," ucapnya dengan begitu bijak.