Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Sekelumit Kisah Masa Lalu


__ADS_3

"Fretty!" 


Dua pria itu berdiri menatap kami. Wajah mereka masing-masing memperlihatkan sesuatu yang tak nyaman. Ah … tentu saja, mereka sedang bertengkar. Aku yakin, pria bule setengah baya itu adalah suami wanita itu. 


"Tiara, kita pulang sekarang!" ucap Om Damar. Pria itu tiba-tiba saja meraih lenganku dan menarikku pergi dari tempat itu. 


"Jadi … benar perkiraanku," ucap pria bule itu tiba-tiba. "Kamu bahkan belum bisa move on. Kamu tidak bisa melupakan Tiara, hingga mencari seorang Tiara lain sebagai pelampiasanmu."


Om Damar menghentikan langkahnya. Pria itu seakan terusik oleh ucapan sang pria bule. Tangannya mengepal, bahkan lenganku terasa sakit saat cengkramannya itu semakin mengetat. 


"Aduh, sakit Om," lirihku saat berusaha melepaskan cengkraman tangannya. "Apa salah Tiara?"


Pria itu mengendurkan cengkraman tangannya. Perlahan dia berbalik dan berjalan mendekat kembali pada sang pria bule itu.


"Lima belas tahun yang lalu aku pernah mengalah padamu. Aku melepaskan cintaku dan merelakannya untukmu. Bagiku semua akan kulakukan bagi wanita yang aku cintai. Aku akan melindunginya, menjaga hatinya agar selalu bahagia. Bahkan aku bisa berpura-pura mencintai orang lain agar dia tak lagi memikirkan perasaanku, tapi …." Om Damar tak melanjutkan perkataannya. 


Pria bule itu tersenyum penuh kemenangan. "Kenapa tidak kau akui saja kalau kamu hanyalah seorang pecundang?" 


Sebuah pukulan kali ini melayang ke wajah pria bertubuh tinggi itu. Aku memekik terkejut melihat peristiwa yang sama sekali tak kuduga itu. Om Damar menyerang pria itu, membuatnya sedikit terhuyung menahan pukulan yang mengenai rahangnya kirinya.


Pria bertubuh besar itu tampak mengusap bercak merah yang keluar dari bibirnya. "Kamu benar-benar seorang pecundang yang tak bisa melepaskan masa lalu. Heh! Aku merasa sangat kasihan pada setiap wanita yang kau dekati. Mulai dari Rissa dan sekarang … dia."


Aku terkejut ketika pria bule itu menatapku seolah sedang memberikan sebuah kode peringatan atau apapun itu. Sssh … sebenarnya apa yang pernah terjadi di masa lalu Om Damar? Kenapa suami wanita itu juga tak menyukainya.


Om Damar mengacungkan jari tengahnya pada pria setengah baya itu. "Jangan ikut campur dengan urusanku. Dan kali ini aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku." 

__ADS_1


Om Damar kembali menarik lenganku dan mengajakku pergi dari gedung tempat acara reuni itu berlangsung. Benar-benar acara reuni yang kacau. 


"Dam … Dam, tunggu sebentar. Kamu nggak papa, kan?" tanya pria yang bernama Tirta itu saat menghentikan langkah kami. 


Om Damar menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari temannya itu. 


"Ah, sudah aku bilang. Nggak usah memaksakan diri untuk datang. Aku bisa menebak apa yang terjadi," ucapnya.


"Sejak kapan kamu jadi cenayang?" ucap Om Damar dengan suara datar. "Aku datang dengan maksud baik. Untuk membuktikan padanya bahwa semua yang terjadi pada Rissa bukan aku yang melakukannya." 


"Aku ngerti … aku ngerti, Dam," ucap Om Tirta. "Tapi celakanya nggak ada bukti. Kamu nggak punya alibi yang kuat." 


Aneh sekali. Apa sih yang mereka bicarakan? Heh … apa benar yang dikatakan oleh pria bule itu kalau Om Damar tidak benar-benar mencintaiku, tetapi hanya menganggapku sebagai bayangan wanita itu? Kalau memang itu yang terjadi, maka celakalah aku. 


Om Damar membuka pintu mobilnya dan menyuruhku masuk ke dalam. Aku masih melihat sebuah perdebatan di antara mereka. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi bagaimana seandainya Om Damar membohongiku dengan ceritanya. Seperti halnya dia mengatakan tak pernah dekat dengan wanita manapun selain aku, sepanjang lima belas tahun ini.


Sementara waktu aku hanya berdiam diri di sisinya. Bayangan menjadi bintang di sebuah acara reuni yang megah, lenyaplah sudah. Hanya suasana muram yang hadir di depanku. Bahkan gemerlap lampu di sepanjang jalan, tak dapat mewarnai malam kami.


"Kenapa?" tanyanya saat mendengar helaan napas panjangku. 


Aku mengatupkan bibirku dan menggeleng pelan. Ada perasaan kecewa dalam hatiku saat membayangkan semua perlakuan manis yang ditujukan padaku itu hanyalah karena kesamaan nama semata. Aku tak ada artinya di dalam hatinya. 


Om Damar mengulurkan tangannya dan membelai puncak kepalaku. "Bukan acara yang kamu impikan, ya? Maaf," ucapnya seolah bersungguh hati. 


Aku merasa suasana hatinya sudah mulai membaik. Kupikir ini saatnya mempertanyakan semua keraguan yang sempat membuatku gundah. 

__ADS_1


"Boleh Tiara nanya sesuatu sama Om?" tanyaku dengan sangat hati-hati. 


Pria itu menarik sudut bibirnya. "Tanya aja."


"Ew … Om menganggap Tiara sebagai apa? Kekasih atau  … sekedar karena wanita itu?" Entah kenapa tenggorokanku seakan tercekik saat hendak mengatakan kalimat itu.


Om Damar menghentikan kendaraannya. Pria itu memarkirnya dengan aman di tepi jalan. Sementara dia mengaktifkan lampu hazardnya. 


"Semua jawaban pertanyaan itu ada dalam hatimu. Selama ini apa yang kamu rasakan saat bersamaku, tidakkah itu tulus? Apakah bisa aku melakukan semua itu tanpa sebuah ketulusan?" sahutnya dengan pertanyaan yang kembali membuatku gundah. 


"Tapi Om, kenapa pria itu bertengkar dengan Om?" tanyaku. Tentu saja aku tak akan melepaskannya sebelum semua hal di masa lalunya kuketahui.


Om Damar tertawa pelan. "Kami selalu berkelahi dalam setiap perjumpaan kami. Dia sangat posesif."


"Jadi … dia cemburu sama Om?" tebakku.


Pria itu mengedikkan pundaknya. 


"Jadi aku harap … kamu menyadari semua yang kulakukan ini tulus, karena aku mencintaimu, Tiara," ucapnya. Sepasang matanya berbinar dengan indah terkena bias sinar lampu jalanan. 


"Sebuah teka-teki untukmu. Apa kamu tahu, apa bedanya bintang dengan kamu?" ucapnya.


Aku mengerutkan wajahku dan mulai berpikir. Tentu saja sangat berbeda. Aku manusia, sedangkan bintang adalah benda langit. Sepertinya ini adalah sebuah jawaban yang tak masuk akal, seperti kebiasaannya. Pertanyaan nggak nyambung dan garing.


"Bintang di langit, aku di sini," ucapku sekenanya.

__ADS_1


Pria itu tersenyum lebar. Diraihnya daguku dan dihadapkan tepat di hadapan wajahnya. "Kalau bintang menerangi semua orang, tapi kamu selalu menerangi hatiku." 


Mataku membulat, jantungku berdebar lebih kencang. Aih … perasaan apa ini. Kupejamkan mataku dan kurasakan kehangatan menyentuh bibirku. 


__ADS_2