Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Tante Vivin


__ADS_3

"E... e.. eh! Nagih bukannya dibayar, malah mau main gebuk!" teriak tante Vivin dengan gusar. "Aku laporin polisi baru tau rasa."


Mama melangkah cepat mendekati kami. Panci teflon itu terayun di tangannya seolah sebuah ancaman yang tak akan bisa dihindari oleh tante Vivin. "Apa kamu nggak dengar? Sudah aku katakan berulang kali. Jangan bawa-bawa nama putriku!”


“Ya Allah, aku cuman ngomong apa adanya kok!”


Mama terlihat semakin gusar. Diarahkannya panci teflon itu sembari mengejar tante Vivin yang masih menjadikan aku tamengnya. Karena tangan tante Vivin inilah, kepalaku menjadi pusing. Dia menarikku kemanapun dia bergerak, membuatku berputar layaknya komedi putar di pasar malam.


“Ma, sudah Ma, stop,” pintaku.


“Ngomong apa adanya, tapi pakai otak dong kalo ngomong!” gerutu mama. Namun tak urung mama menurunkan panci teflon yang sejak tadi diacung-acungkannya itu. "Mulut kamu itu dijaga! Gimanapun aku juga punya harga diri!"


"Loh! Buktikan. Kalo memang kamu punya harga diri, ya bayar dong hutangmu! Bukannya malah mundar mundurrr terus," teriak tante Vivin keras-keras, seolah sengaja agar semua tetangga melihat apa yang terjadi.


“Permisi, ada apa ini kok ribut-ribut di sini?”


Suara itu spontan membuatku terkejut dan menoleh ke belakang.


"Om Damar!" ucapku saking terkejutnya.


Aku sama sekali tak menyangka kalau dia masih ada di sekitarku, bukannya langsung pergi setelah menurunkan aku. Dan itu adalah kesalahanku juga, tidak memastikan dia pergi sehingga melihat semua kekacauan yang sangat memalukan ini.


Tiba-tiba saja tante Vivin menghampiri om Damar. Melihat senyum yang terpampang di wajahnya, membuatku merasa tak nyaman seolah sebuah firasat buruk yang datang memperingatkan.


“Nah! Ini … kamu pacarnya Tiara, kan?” ucapnya dengan suara yang lantang. “Simpananmu ini …” lanjutnya sambil mengarahkan telunjuknya padaku, “keluarganya punya hutang lima puluh juta sama aku. Dan …. Nggak bayar-bayar, mulai jaman batu sampai lebaran monyet.”


“Tante!” seruku saking terkejutnya. Kalimat itu seperti pukulan ganda bagiku.


Om Damar mengangkat satu tangannya, dan aku rasa itu adalah sebuah tanda bahwa kali ini aku harus diam.


“Lima puluh juta, oke,” ucapnya sembari mengeluarkan buku cek, mencoret-coretkan penanya di atasnya, lalu merobeknya.


“Hutang mereka sudah lunas.” Om Damar menyodorkan selembar kertas itu pada tante Vivin.


Tante Vivin lekas-lekas menyambar kertas cek itu. Tapi Om Damar dengan gesit menariknya ke atas, jauh dari jangkauan si lintah darat itu.


“Heh! Apa kamu sengaja ingin mempermainkan aku?” geram tante Vivin. Kini posisi kedua tangannya tepat di pinggang, yang merupakan gaya khasnya saat marah.


Om Damar tetap terlihat tenang. Bahkan lelaki itu tersenyum menanggapi kemarahan tante Vivin.

__ADS_1


“Sebelum menerima ini, tentu saja ibu harus minta maaf pada mereka.”


“Heh! Buat apa aku minta maaf. Toh aku menagih hak ku sendiri. Aneh!”


“Sepertinya aku perlu menyeret ibu ke meja hukum dengan tuduhan pencemaran nama baik,” lanjut Om Damar.


“Loh … loh, kok jadi aku yang disalahkan? Aku cuman mengatakan yang sebenarnya,” sahutnya sebagai pembelaan diri.


“Tidak! Bagian mana yang menurut Ibu benar? Simpanan?” cecar Om Damar kemudian.


“Loh! Terus apa namanya kalau bukan simpanan? Apa harus nunggu istri kamu datang, lalu pecah perang dunia di sini,” elak tante Vivin masih tak mau mengakui kesalahannya.


“Ada apa ini ribut-ribut?” tanya Bu Ambar yang muncul di tengah keributan itu. “Loh, kamu lagi toh Vin.”


“Iya, Bu RT.”


“Nilam pinjem uang itu bukan buat usaha. Dia minjem buat pengobatan almarhum suaminya. Mbok ya, kamu kasih pengecualian jangan terlalu besar beban bunganya,” ucap Bu RT menengahi.


“Itu, udah mau dilunasin sama pacar anak gadisnya. Tapi nggak tau kenapa kok malah saya dituntut pencemaran nama baik,” sahut tante Vivin.


“Pencemaran nama baik?” ulang Bu Ambar. “Kita bicarakan baik-baik. Jangan sampai tali silaturahmi terputus hanya gara-gara kesalahpahaman sepihak.”


Bu Ambar mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. “Jadi gimana ceritanya?”


“Permisi, sebelumnya saya perkenalkan dulu. Dia Om Damar, klien produk yang sedang memakai saya sebagai bintang iklannya,” ucapku dengan canggung. “Aku rasa tante sudah pernah ketemu dia di rumah sakit waktu itu.”


Bu Ambar terlihat mengamati Om Damar sesaat. Lalu dia mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Nah, masalahnya Tante Vivin itu sebut saya simpanan Om Damar. Seperti itu Bu,” lanjutku.


“Bener itu, Vin,” tegur Bu Ambar.


“Eh … jadi bukan toh. Tapi kenapa dia yang bayar? Lima puluh juta itu nggak sedikit loh, kecuali kalau dia memang cemcemannya ….” Tante Vivin masih tak mau disalahkan.


“Jeng Vivin! Jaga mulutnya. Aku sudah cukup bersabar selama ini. Tapi aku tidak akan mentolerasi jika menyangkut putriku,” geram mama.


Kugenggam tangannya, paling tidak agar emosi mama tidak tertumpah begitu saja. Bagaimana jika saking emosinya, tekanan darahnya naik dan membuat pembuluh darahnya pecah. Aih, jangan sampai!


“Jeng, saya tetangga mereka selama belasan tahun. Saya tahu persis siapa Nilam, siapa Kuncoro suaminya dan Tiara putrinya.” Suara Bu Ambar terdengar penuh wibawa. “Saya jamin, mereka bukan orang seperti itu. Mereka keluarga baik-baik.”

__ADS_1


“Dan satu lagi, menurut saya … sebaiknya kamu minta maaf pada mereka. Tidak ada salahnya menyambung tali persaudaraan dengan sebuah kata maaf, kan?” lanjut Bu Ambar.


Tante Vivin melirik tajam ke sekelilingnya. Wajahnya tampak memelas seperti seorang terdakwa yang sudah disudutkan oleh semua orang di sekitarnya.


“Maaf. Maafin aku ya, aku nggak tau kalau dia itu boss kamu.”


Aku menarik sudut bibirku, memaksakan sebuah senyuman untuknya. “Iya Tante, nggak apa-apa. Yang penting semuanya jelas. Dan satu hal lagi, Tan. Dia belum punya istri."


Om Damar meletakkan cek senilai lima puluh juta itu di atas meja. Lalu diulurkannya tangannya pada tante Vivin.


Wanita tambun itu tampak tersipu-sipu. Diraihnya lembaran cek itu sambil menimang-nimangnya dengan wajah berseri.


"Mana?" tanya Om Damar.


Tante Vivin terlihat gugup, diulurkannya tangannya ke atas telapak tangan Om Damar. Persis seperti seorang princess disney yang menerima uluran tangan pangerannya.


Tapi tak lama berselang, Om Damar mengibaskannya. "Hei, mana surat hutang piutangnya? Bukankah seharusnya kamu memberikannya padaku?"


Mata tante Vivin melotot. Wanita itu menepuk keningnya sendiri lalu ia membuka tas kulit besar yang sedari tadi dicangklong di pundaknya. Dengan gugup, dia mengobrak abrik isi di dalamnya hingga tangannya berhasil mengeluarkan selembar kertas.


Wanita itu membuka lembaran kertas yang terlipat menjadi empat bagian, lalu menyerahkannya pada Om Damar.


"Urusan ini sudah selesai," ucapnya sesaat setelah membaca sekilas surat perjanjian hutang itu dan mengantonginya. "Saya permisi dulu."


Aku mengikuti langkahnya dengan tatapan mataku hingga punggung itu menghilang ke balik pintu.


Hey! Kenapa dia pergi begitu saja? Apa ada kalimatku yang sudah menyakiti perasaannya? Om Damar, apa dia marah padaku?


"Euh … permisi, aku keluar sebentar." Kubungkukkan badanku saat melewati mama yang masih bercakap dengan Bu Ambar.


Cepat-cepat kulangkahkan kakiku untuk mengejarnya. Untung saja, mobilnya masih belum bergerak dari tempatnya.


"Om Damar! Tunggu sebentar!" panggilku sebelum keempat roda mobil hitamnya bergerak menjauh.


Lelaki itu menatapku dari dalam mobilnya. Kuperlambat langkahku. Kugenggam rok abu-abuku untuk menekan perasaan takutku.


"Maaf, aku sudah begitu merepotkan. Maaf, sudah melibatkan Om dalam masalah keluargaku. Maaf, kalau semua ini menyakiti perasaan Om," ucapku dengan canggung. "Aku bisa terima kalau Om marah dan kesal sama aku."


"Aku tunggu kamu, sore ini pukul empat di studio!"

__ADS_1


Heh! Bukannya menjawab, dia malah memberikan perintah ambigu. Astaga ….


__ADS_2