Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Pengakuan Darren


__ADS_3

"Aku suka sama kamu, Ra," ucapnya dengan sangat jelas dan tegas. 


Aku menurunkan kedua tanganku. Entah kenapa badanku terasa begitu berat. Bahkan sepasang kakiku seakan mati rasa, tak dapat kugerakkan. 


Tidak peka! Sepertinya itu benar. Selama ini aku terlalu takut dianggap kegeeran. Aku tidak ingin salah paham dan menganggap perhatian seseorang sebagai sesuatu yang tidak semestinya. Sepertinya kali ini aku yang bersalah. 


Aku menghela napas panjang. Tak ada lagi kemarahan yang meledak itu, semuanya lenyap dalam seketika. Sepertinya sekarang Darren sedang menunggu keputusan dariku. 


"Ren, aku bisa mengerti perasaan kamu. Tapi … maaf Ren, a–aku …." 


Darren melangkah mendekat. Diletakkannya jari telunjuknya di atas bibirku. "Ssst …. Plis, jangan katakan apapun, Ra," ucapnya sambil menggelengkan kepalanya. "Lupakan apa yang sudah kukatakan. Aku tak mengharapkan apapun. Aku hanya ingin tetap nyaman di sampingmu." 


Pria muda itu menarik sudut bibirnya memperlihatkan seulas senyumannya yang indah. Kali ini firasatku mengatakan, Darren tidak sedang menggodaku. Dia sedang bersungguh-sungguh. 


Mungkin setelah ini, aku harus mulai menjaga jarak dengannya.


***


"Kamu kok belum pulang, Shin?" tanyaku pada sahabatku yang sedang berdiri di depan gerbang sekolah.


"Ini Ra …. Nggak biasanya pak Togar terlambat jemput aku." Shinta terlihat begitu gelisah. 


"Kamu udah coba telpon dia?" tanyaku.


Belum sempat Shinta menjawab. Sebuah mobil berwarna hitam, berhenti di hadapan kami. Pengemudinya bergegas turun dan berlari menghampiri kami.


"Maaf Non, tadi saya nge ban dulu di jalan. Bannya kempes, ada baut yang nusuk." Pria setengah baya itu tampak bercucuran keringat.


"Iya, udah nggak papa, yuk pulang," ucap Shinta pada sopir pribadi keluarganya itu.


"Aku anterin sekalian, yuk ..." ajaknya kemudian. 


Kulihat sekelilingku. Di halaman parkir, masih terlihat motor hitam Darren. Hmm … mungkin lebih baik aku terima ajakan Shinta. 


"Beneran? Kamu nggak keburu hari ini?" tanyaku. 


"Ah, nggak usah banyak komentar. Ikut apa nggak?" desak Shinta. 


"Oke lah, aku juga mesti siap-siap ke studio om Marcel sore ini." 

__ADS_1


Aku mengikuti Shinta naik ke atas mobilnya. 


"Ra, tumben Darren pake motor." Shinta menggerakkan sepasang alisnya, seolah memberikan aku perintah agar melihat keluar jendela. 


Terlihat pria muda itu sedang menghidupkan kendaraan beroda duanya itu. Wajahnya terlihat begitu kesal, seolah beban hidup terberat sedang dipikulnya.


"Itu motor biasanya dia sayang-sayang, nggak pernah dikeluarin. Katanya limited edition sih, entah … aku nggak paham motor." Shinta ikut melihat sosok pria muda yang saat ini sedang memakai helm teropongnya itu. 


Tiba-tiba gadis itu terlihat seperti berpikir sambil menatapku. "Bukannya tadi pagi dia datang sama kamu, ya?" 


Aku menghela napas lega saat mobil itu mulai melaju menjauh dari sekolahku. Perasaanku masih kacau setelah mendengar ungkapan perasaan Darren saat istirahat tadi.


"Ra, kamu berantem sama Darren?" tanya Shinta tiba-tiba. 


"Berantem? Mana ada?" sahutku dengan tawa canggung di bibirku. "Enggak, kok. Kami nggak berantem." 


"Beneran?" tanya Shinta sambil melemparkan tatapan penuh kecurigaan padaku. 


Aku mengangkat kedua jariku, membentuk lambang kemenangan. "Swear!" 


"Ish! Jelas-jelas tadi di kantin, kalian berdua marahan." Shinta mencubit gemas pipiku. "Mana pake acara kejar-kejaran kayak adegan film Bollywood lagi." 


"Makanya … nggak usah bohong sama aku," ucap Shinta. 


"Emang enggak. Cuman kesel aja sama dia."


Shinta berdehem seperti sengaja menggodaku. "Ra, inget loh ya. Sepertinya si cupid sudah menaburkan benih-benih cinta di antara kalian berdua. Hmm … tinggal tunggu waktu aja sebelum panah itu menyatukan dua hati kalian."


"Ish! Apaan sih, ngaco ih. Aku nggak mau pacaran sebelum lulus sekolah, kok," sanggahku. "Emang dia bayar kamu berapa banyak buat jodohin aku sama dia?" 


Sepasang mata Shinta membola. "What?" teriaknya sambil tertawa terkekeh. "Ngapain dia bayar aku?"


Aku menepuk keningku. Duh, kenapa aku kelepasan sih. 


Gadis itu mengerutkan keningnya. "Ah …. Aku tahu, jangan-jangan dia sudah …." 


Kali ini ekspresinya berubah. Bukan hanya matanya yang membulat karena terkejut, tangannya juga menutup mulutnya yang menganga. 


"Apa kamu nolak dia?" tanyanya kemudian. 

__ADS_1


"Enggak kok. Aku sama dia nggak ada apa-apa," sanggahku.


"Omong-omong besok dia ulang tahun loh." Tiba-tiba saja Shinta out of topic. 


"Memang kenapa kalau dia ulang tahun?" tanyaku. 


"Tauk ah," sahutnya mulai merasa kesal karena jawaban-jawabanku. "Pokoknya besok sore aku jemput kamu ke acara pesta ulang tahunnya, titik!"


Kendaraan itu berhenti tepat di depan rumahku. Sang pengemudi menoleh ke belakang. "Sudah sampai, Non." 


Aku tertawa terkekeh melihat wajah sahabatku yang tiba-tiba saja sewot itu. "Kalau aku nggak mau, gimana?" ucapku menggodanya. 


Kubuka pintu mobil itu dan turun sambil tertawa terkekeh. "Pak Togar, makasih ya …. Shin, thank you." Aku menutup pintu dan melambaikan tangan kepada sahabatku itu.


Shinta melongokkan kepalanya dari kaca jendela yang baru dibukanya. "Jam empat sore. Kita harus beli kado dulu sebelum ke acaranya besok. Awas kalo kamu kabur." 


Gadis itu mengerucutkan bibirnya sambil mengucapkan kalimat bernada ancaman itu. Aku mengedikkan pundakku dan segera masuk ke dalam rumah sesaat setelah mobil itu berlalu dari hadapanku. 


"Sudah pulang, Sayang?" sambut mamaku. "Cepat makan sana, katanya ada urusan jam empat nanti." 


***


Jarum jam masih menunjuk ke angka tiga, ketika aku telah selesai dengan semua persiapanku. Aku sudah mandi, berdandan rapi dan memakai pakaian yang sopan untuk acara penandatanganan kontrak sore ini. 


Masih banyak waktu tersisa. Aku menyempatkan diri membolak balik buku matematika minat, untuk mengulang kembali pelajaran yang tadi sudah kuterima. Ada beberapa soal yang perlu kukerjakan sebagai latihan. 


"Ah, bagaimana tadi caranya mendapat perhitungan ini?" Aku mendecak kesal dan mulai mencorat coret sebuah kertas buram untuk mencoba sebuah perhitungan, hingga mendapatkan hasil jawaban yang kurasa tepat.


"Nggak terlalu sukar ternyata," gumamku. Kutarik kedua tanganku ke atas untuk melakukan peregangan. 


Saat itulah aku melihat seorang pria berjalan masuk melewati pagar rumahku. Om Damar! Tapi ini masih belum lagi mendekati jam empat. 


Dan tak lama kemudian terdengar suara mama memanggilku. Aku segera merapikan kembali buku-buku yang terhampar di mejaku ke dalam tas ransel sekolahku. 


Sekali lagi aku mematut diri di depan cermin, memeriksa seandainya ada sesuatu yang tak terlihat rapi. Kemeja polos dengan warna pastel dipadu dengan celana panjang hitam, membuatku terlihat segar sore ini.


Aku membuka pintu kamarku dan menyambar tas kecilku lalu segera berangkat menemuinya. 


Pria itu menatapku dengan senyuman khasnya. "Kamu sudah siap?" tanyanya. 

__ADS_1


Aku menganggukkan kepalaku. Senyuman itu terlihat semakin merekah di bibirnya. "Bagus, Tiara. Kamu terlihat sangat cantik sore ini." 


__ADS_2