Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Vitamin C


__ADS_3

Siang itu begitu terik, ketika aku masih menyendok es puding dari dalam mangkokku. Kantin sekolah sedang dipenuhi oleh siswa siswi yang sedang begitu asyiknya bercengkrama. 


"Jadi … abang kamu sudah datang, Ren?" tanya Shinta dengan begitu antusias. Matanya terlihat berbinar-binar sejak saat mendengar Darren menceritakan kepulangan kakaknya semalam.


"Iya, acaranya di Bali dah selesai. Katanya sih, mau langsung pulang." Darren menjawab sekenanya. "Kenapa?" 


"E– enggak, nggak papa kok." Shinta terlihat begitu canggung menjawabnya. 


Aku tertawa terkekeh melihat wajah Shinta yang memerah karena malu. Iya … cita-cita Shinta ketemu dengan kakak Darren yang kabarnya sangat cakep itu belum juga tercapai.


"Apa? Ish … ketawa, ntar aku pencet itu hidung kamu," ucapnya dengan kesal. Tangannya terangkat ke depanku seolah hendak menekan bulatan berwarna kemerahan yang menempel di ujung hidungku. 


"Ren, minta asupan vitamin C tuh, si Tiara." Shinta mengalihkan topik pembicaraannya ke fokus yang lain. 


"Vitamin C apaan?" tanya Darren.


"Ci-um, lah …" sahut Shinta dengan gemas. 


Darren terlihat mulai usil. Pria muda itu mengulurkan tangannya sambil memonyongkan bibirnya. "Sini Ra, aku sembuhin pake vitamin C." 


"Euuh …" ucapku sambil mencebik kesal. Heran aja, kenapa sih mereka hari ini seperti begitu kompak buat ngerjain aku. Kuletakkan kedua tanganku di atas meja dan kugunakan untuk menyangga kepalaku. 


Heh! Bahkan aku dapat melihat bulatan merah itu secara langsung dengan kedua mataku. Rasanya seperti ada rasa yang mengganjal, tebal dan rasanya sungguh tak nyaman bahkan sesekali kurasakan bulatan merah itu berdenyut seakan hidup. 


Dan aku harus menikmati rasa tak nyaman ini sampai beberapa hari ke depan. Astaga … Mungkin nggak, sih, ini semua gara-gara kosmetik yang diaplikasikan saat pemotretan kemarin?


"Ra …" panggil Shinta. Napas gadis itu tampak terengah ketika mengejarku yang telah sampai di depan gerbang sekolah. "Buru-buru amat? Ada acara lagi?"


"Iya, kemarin baru setengah jalan pas insiden itu." 


Shanti mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. 


"Aku baru inget, tentang foto-foto kemarin. Kamu udah ada bayangan belum, siapa pelakunya?" tanya Shinta. 

__ADS_1


Kali ini aku yang menggelengkan kepalaku. "No clue," sahutku.


"Atau jangan-jangan itu si Valent," tebak Shinta.


"Ish! Nggak ah … nggak mungkin. Mana mungkin cowok introvert macem dia berani ngelakuin itu, ngaco ih!" sahutku menyanggah tuduhan yang tak beralasan itu.


"Ngaco gimana? Lah tadi pagi aja, dia berani kok belain kamu di depan Bu Hanna." Shinta tertawa pelan, seperti mendapatkan sebuah alasan lain untuk menggodaku siang ini. "Bener nggak?"


Jadi itu tadi suara Valent? Memang sih, agak aneh bagiku. Dia yang pendiam dan nggak punya teman itu tiba-tiba bersuara hanya untuk memberikan pembelaan bagiku. 


Aku menggelengkan kepalaku. "Nggak, belum tentu juga dia yang menempel semua foto itu," sahutku. "Jangan berpikiran buruk dulu sama dia. Nggak baik." 


Gadis itu tertawa sambil menepuk punggungku. "Ya udah, aku pulang duluan," katanya sambil menunjuk sebuah mobil yang bergerak mendekat.


"Ok, sampai ketemu besok!" teriakku pada gadis yang berlari kecil sambil melambaikan tangannya itu.


Aku kembali melangkahkan kakiku menuju jalanan beraspal. Seperti biasa, rutinitas menunggu angkot untuk pulang ke rumah.


Tin! Tin!


"Neng … ojek, Neng!" Suara bariton itu terdengar di sela kekehan tawanya.


Pria itu membuka penutup kaca hitam helmnya. Disodorkannya benda bulat itu kepadaku. 


"Nggak usah, Ren. Ntar kamu nggak sempat siap-siap ke studio kalau antar aku pulang," tolakku. 


"Haish! Udah. Nggak usah malu-malu. Lagian aku juga mesti ke rumah kamu," ucapnya. 


Mataku membola. "Heh? Nggak mesti kok? Kenapa mesti?" tanyaku.


Pria itu segera memasang benda bulat itu ke atas kepalaku. Suara klik terdengar sebagai tanda bahwa benda itu telah terpasang dengan baik. 


"Iya, calon mertua aku kan lagi sakit. Jadi nggak mungkin aku nggak nengok, kan?" sahut Darren dengan nada penuh percaya diri.

__ADS_1


"Dih … calon mertua." Aku tertawa terkekeh. "Sekolah aja dulu yang bener. Masih belum lulus juga, udah mikirin nikah," gerutuku.


"Kalo deket kamu, emang pinginnya mikir nikah terus," ucap Darren sambil menggaruk ujung hidungnya. Kulihat wajahnya merona, sepertinya kalimat yang kuucapkan membuatnya merasa malu. "Udah yuk, nanti malah aku kehabisan waktu beneran."


Aku segera naik ke atas boncengannya. Sebenarnya aku merasa cukup heran. Darren yang selama ini terlihat cuek itu tiba-tiba saja berubah. Dia terlihat berbeda, lebih percaya diri. Bahkan dengan begitu beraninya mengklaim diri sebagai calon menantu mamaku. 


Tapi … ah, sudahlah. Jika dipikirkan, tetap saja dia cuma anak sekolahan. Seandainya pun berpacaran dengan dia, sama aja pakai duit orang tuanya. Semua serba dibatasi, nggak bebas dan nggak leluasa. Itulah sebabnya, aku nggak mau pacaran selama masih sekolah. 


Nggak ada yang khusus sih selama Darren di rumahku. Dia cuman sekedar 'say hello' saja sama mama, makan siang dan … yaa, nggak ada sesuatu yang spesial. Lalu dia pulang karena harus segera bersiap ke studio sore harinya. 


Berbeda dengan yang terjadi sore itu di studio. Tepat ketika aku tiba, Om Marcel terlihat panik. Wajahnya terlihat pucat, seperti baru saja melihat hantu. 


"Ada apa Om? Ada masalah?" tanyaku menanggapi kegelisahan yang terlihat di wajahnya. 


"I– ini … managernya si Robin. Tau-tau nelpon, katanya Robin sedang dalam perjalanan kemari. Dia sudah siap untuk menjalani kontrak iklan dengan kita," ucap Om Marcel. 


"Hah! Trus gimana sama Darren?" tanyaku. Tanpa terasa nadaku menjadi tinggi. 


"Aah … itulah, aku juga sedang bingung dengan masalah ini," lanjutnya dengan wajah cemas. "Masa sih aku harus pakai dua model pria? Keroyokan gitu?"


Aku mengangkat kedua tanganku. "Tiara nggak ikut-ikut deh kalau masalah itu. Om yang berhak nentuin," sahutku.


Tiba-tiba pandangan Om Marcel terarah kepadaku. Sepasang mata itu membulat, sementara jari telunjuknya mengarah pada hidungku. 


"E … e … eh, kenapa dia ada di sana?" tanyanya. "Astaga, kamu bakal buat aku kerja keras untuk mengeditnya."


"Euuh … itu, Om. Sepertinya merk kosmetik yang dipakai kemarin, nggak cocok sama kulit Tiara," elakku. Tentu saja aku tidak mau dipersalahkan untuk hal yang tak kulakukan. 


"Kamu sudah sampai, ternyata." Suara bariton itu terdengar di belakangku. Suara khas yang tak akan pernah kulupa, suara Om Damar! 


"Euuh … iya Om," sahutku tanpa menolehkan kepalaku. Sebaliknya, aku malah menundukkan kepalaku. 


Aku merasa belum siap jika Om Damar melihat jerawat yang nangkring di ujung hidungku. Gimana kalau dia jadi ilfil liat bentol berwarna kemerahan ini? 

__ADS_1


Tapi ternyata Om Damar semakin mencium ketidakberesan karena ulahku. Semua terbukti ketika pria itu malah mendekat dan meraih wajahku untuk menatapnya. 


"Tiara, kamu kenapa?"


__ADS_2