Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Romantic Dinner


__ADS_3

"M–maaf, hik … Om," ucapku.


Rasanya kesal sekali dengan ceguk yang mengganggu ini. Kutepuk dadaku dengan tanganku, berharap cegukan ini segera berhenti. Ah … sungguh menyiksa.


Om Damar mengusap sejenak bibirnya yang sedikit berdarah karena gigiku. Namun bukan kemarahan yang terlihat di wajahnya, melainkan sebuah senyuman lebar yang semakin membuatku merasa malu.


"Atur napasmu, Cantik. Kenapa jadi nervous gitu sih?" tanyanya.


Aku mencoba mengatur napasku. Menghirup udara dan membuangnya dengan ritme yang teratur. Namun, hik … cegukan itu tak juga hilang.


Om Damar tertawa geli, mungkin baginya aku terlihat lucu.


Entah kapan cegukan itu berhenti dan menghilang. Mungkin dalam perjalanan kami menuju sebuah resto untuk acara makan malam yang sengaja dipesan Om Damar untuk kami.


Resto yang berada di rooftop sebuah hotel bintang lima di kota kami itu konon menjanjikan sebuah pemandangan kota yang sangat indah dari atas gedungnya. Dengan menu makanan western yang harganya luar biasa mahal bagi kantong kalangan menengah ke bawah.


Seorang staff hotel dengan ramah menerima kedatangan kami. Wanita berbalut seragam merah bak seorang pramugari pesawat itu, mengantarkan kami ke sebuah tempat yang berhiaskan lilin-lilin di sekitarnya.


Sungguh, ini sangat indah!


Gesekan biola yang dipadukan dengan permainan gitar, memperindah suasana di sekitar kami. Aku masih saja takjub melihat sekelilingku saat aku duduk di kursiku.


Bahkan cahaya lilin-lilin di sekeliling kami, membuat suasana menjadi semakin romantis. Om Damar yang duduk di hadapanku terlihat begitu tenang memperhatikan aku.


Hmm … mungkin saja dia sedang berpikir aku seperti orang udik, atau bahkan aku terlihat sangat kekanakan, atau bisa jadi aku terlihat sangat memalukan.


Merasa tak nyaman akibat tatapan tajamnya itu, aku pun berdehem, berusaha memberikan sebuah kode padanya bahwa aku tak suka diperhatikan dengan cara seperti itu.


Pria itu tertawa dan mengatupkan kedua tangannya di atas meja untuk menyangga kepalanya.


"Malam yang sangat indah, semuanya terlihat sangat cantik, bukan?" tanyanya tanpa ragu lagi.


"Benar. Semuanya tampak cantik. Lilin-lilin, langit yang berbintang, lampu-lampu yang berkedip dan suara musik yang indah," pujiku. Ah … sebenarnya itu juga bukan pujian, aku hanya mengungkapkan apa yang kulihat semata.

__ADS_1


"Apa menurutmu begitu?" tanya Om Damar.


Aku menganggukkan kepalaku. Lalu kukedikkan pundakku, karena tak jelas apa tujuan pertanyaan Om Damar.


Pria itu tersenyum lebar. "Bagiku hanya satu yang terindah, wanita yang saat ini sedang duduk di hadapanku."


Kutengokkan kepalaku ke kiri dan ke kanan, bahkan ke belakang. Siapa tahu ada orang lain yang merupakan sasaran panah si cupid. Tapi … tak ada satupun yang lewat.


Om Damar tertawa terkekeh saat mengetahui bahwa aku berpura-pura tak mengerti kalimat yang diucapkannya.


"Jangan salahin aku, kalau kucubit lagi hidung kamu," ucapnya disertai kekehan yang masih tak berhenti itu.


Ah … si jerawat, kenapa dia terus terusan menjadi sasaran, sih. Duh, gimana pula caranya dia muncul dan bertahta dengan begitu estetiknya di ujung hidungku. Benar-benar jerawat nggak ada akhlak! Dia bener-bener niat buat bikin malu aku.


"Ini tempat kok sepi, sih Om? Apa semacam tempat uji nyali gitu, makanya nggak ada yang kemari?" tanyaku sedikit bercanda untuk mencairkan suasana.


"Bener, emang ini tempat uji nyali, Tiara," sahutnya saat tawanya mulai mereda.


Memang nggak seharusnya aku ngomong hal aneh di saat malam seperti ini. Walaupun rooftop ini diterangi banyak nyala lilin dan musik yang mengalun dengan lembut, tapi udara dingin yang berhembus menyentuh tengkukku berhasil membuatku merinding.


Apalagi tak ada seorang pun tamu lain yang datang. Hanya ada kami berdua dan sepasang musisi itu! Bagaimana kalau tiba-tiba makhluk menyeramkan muncul di antara kami?


"Nggak … nggak ada yang perlu kamu takutkan di sini," ucapnya dengan seulas senyuman anehnya. "Cuma aku, yang perlu kamu takutkan, bukan?"


"Euuh … ke–kenapa aku harus takut sama Om?" tanyaku dengan sedikit ragu. "A–apa Om Damar seorang … maaf, psikopat yang bakal bunuh aku?"


Astaga, kenapa aku semakin ngaco gini sih? Kan … aku semakin merinding. Duh … pikiran konyolku, enyahlah dari kepalaku. Setidaknya untuk saat ini.


"Benar, aku akan ambil hatimu. Hanya untukku."


Mataku membulat. Apalagi setelah mengucapkan jawaban itu, kulihat pria itu meletakkan kain berwarna merah di pahanya ke atas meja dan berdiri dari kursinya.


Pria itu berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya kepadaku. Seulas senyuman terlihat mengembang di bibirnya. Sepasang mata itu menatapku dengan hangat. Tentu saja, pikiran konyol itu tidak benar. Om Damar pria baik-baik. Cukup, itu saja yang kuyakini. Karena jika dia ingin, tidak perlu menunggu lama untuk menghabisiku.

__ADS_1


Kuulurkan tanganku membalas ajakannya. Instrumen lembut perpaduan yang harmoni antara gesekan biola dan piano itu menciptakan suasana romantis. Ditambah dengan langkah kecil kami berdua yang mengikuti alunannya.


"Aku nggak bisa–"


"Sama," sahutnya sebelum aku menyelesaikan ucapanku. "Aku hanya ingin memelukmu malam ini."


Aku melihat sepasang mata berwarna gelap itu. Aih … kenapa kalimat itu kembali membuat jantungku berdebar tak karuan.


Sepasang tangan itu melingkar di pinggangku. Entah kenapa sepasang tanganku begitu lancang hinggap ke pundaknya. Seulas senyuman itu merekah di bibirnya.


Perasaanku begitu hangat, walau debaran kuat di jantungku masih terasa. Kuhela napas dan kuletakkan kepalaku di dadanya. Kurasakan kehangatan tubuhnya, bahkan detakan jantungnya terdengar seperti sebuah irama ritmis di telingaku.


Aroma parfum maskulin yang khas menguar dari tubuhnya, terasa begitu menenangkan dan membuatku nyaman bahkan untuk berlama-lama dalam pelukannya.


"Tiara …" panggil Om Damar.


Aku mengangkat wajahku dan menatapnya, siap untuk mendengar lanjutan kalimatnya.


"Aku mempunyai sesuatu buat kamu," lanjutnya.


Aku menurunkan tanganku dari pundaknya. Kulihat pria itu mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya. Sebuah kotak! Dan perlahan dia mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.


"Aku ingin kamu selalu mengingatku, memikirkan aku mulai saat ini. Seperti aku mengingat dan selalu memikirkanmu," ucapnya.


Tangannya melingkar di leherku, menyematkan benda dengan mata berkilau itu ke leherku. Setelah memasang benda itu, Om Damar menyentuh liontin dengan mata yang berkilau itu.


"Cantik!" lanjutnya mematut benda berkilau itu di leherku.


Kali ini bahkan aku tak bisa menolaknya. Dia sama sekali tak memberikan aku kesempatan untuk menolaknya, seperti beberapa saat yang lalu.


"Aku akan memberitahumu sesuatu," ucapnya. "Hari ini adalah hari ulang tahunku, Tiara. Apa kamu ingin menghadiahkan sesuatu untukku?"


A–apa? Jadi makan malam romantis berdua yang dirancangnya hari ini adalah untuk merayakan ulang tahunnya? Berdua denganku?

__ADS_1


__ADS_2