
Pria muda itu tertawa penuh kemenangan. Dipasangkannya benda bulat itu di atas kepalaku. Dan tak lama kemudian si kuda besi telah melaju membelah jalanan kota.
"Kita mau kemana?" tanyaku saat menyadari bahwa itu sama sekali bukan jalan menuju rumahku.
"Kemana lagi kalau bukan bersenang-senang," sahutnya dengan mantap.
Kendaraan beroda dua itu semakin jauh dari arah yang seharusnya. "Kemana? Ish! Aku paling nggak suka main tebak-tebakan."
Pria itu tertawa terkekeh. "Aku? Kalau aku sih … maunya ke hatimu."
"Nggak usah ngegombal! Maksudku … kita sekarang mau kemana?" tanyaku sedikit gusar.
"Hmm … kalau main, gimana?" sahutnya sambil menunjuk sebuah banner taman hiburan yang baru dibuka. "Sepertinya menarik. Kita bisa main-main di sana sampai sore nanti."
"Dih …. Emangnya anak kecil?" tolakku. "Nggak ah ... Nggak ah ...."
"Ya udah, kalo gitu kita putar balik aja. Aku antar kamu ke pintu gerbang sekolah. Kamu terima poin minus aja sendirian," sahutnya tanpa mau ditolak.
Aku menepuk pundaknya dengan kesal. "Ya udah … ya udah … ya udah. Kita ke sana," sahutku dengan pasrah.
Pria muda itu tiba-tiba saja mempercepat laju motornya, membuatku terkejut dan dengan spontan melingkarkan tanganku ke badannya. Setelah itu tiba-tiba dia memperlambat lajunya dan membuat kepalaku terantuk kepalanya.
Tuk!
Suara pertemuan kedua benda bulat di kepala kami terdengar. Aku yakin bahwa ini semua adalah rencananya. Dia dengan sengaja melakukan ini semua agar aku memeluknya. Dengan cepat aku melepaskan tanganku yang melingkar di pinggangnya.
"Ish! Lakuin sekali lagi! Aku jamin kamu nggak akan pernah bertemu denganku lagi!" ancamku.
"Memangnya kamu mau kemana?" tanyanya seperti berlaga bodoh.
Dengan gemas aku mencubit pinggangnya. "Aku nggak bercanda, tau!"
__ADS_1
Akhirnya kami sampai juga di depan pintu gerbang taman bermain yang penuh wahana menarik itu. Karena masih terlalu pagi, tentu saja tempat hiburan itu belum dibuka. Bahkan tempat itu masih sepi pengunjung, walau terlihat beberapa orang sudah membuka lapak jualannya.
"Masih tiga puluh menit lagi. Kita nunggu di sana saja yuk"," ajaknya.
Tangannya menunjuk sebuah kios penjual minuman dengan lambang jari tangan yang bertaut. Tentu saja aku menyetujuinya, karena selain aku bisa sarapan di sana, juga hanya tempat itu yang terlihat nyaman sebagai tempat menghabiskan waktu.
Kami berdua duduk di kursi tinggi yang tempatnya cukup strategis untuk memantau pintu masuk taman hiburan itu.
"Soal yang kemarin … apa … kamu dan kakak kamu …." Kalimatku menggantung dan terdengar sangat canggung.
"Nggak … kami nggak bertengkar, kok," sahutnya seperti mengerti apa yang sedang kucemaskan.
"Euuh … aku sebenarnya takut kalau gara-gara aku, hubungan antara kalian berdua jadi kacau, ehmm … maksudku aku takut kalian berantem," jelasku.
Darren tertawa pelan. "Makasih udah cemasin aku. Tapi … sebenarnya hubungan di antara kami berdua memang nggak begitu harmonis."
"Ish … kok bisa gitu sih? Bukannya sama-sama cowok, kalian harusnya makin kompak. Seperti dapat teman yang sefrekuensi gitu," lanjutku.
Darren tertawa terkekeh sambil menggaruk kepalanya. Sepertinya percakapan ini terlalu sensitif untuknya. Pria muda itu menggoyangkan cairan berwarna kecoklatan di dalam kemasan gelas plastiknya. Seperti sebuah gerakan canggung, kulihat sudut matanya menatapku sebelum menyesap cairan berwarna kecoklatan itu.
"Hmm …. Aku pikir dia merasa takut tersaingi begitu tau kamu ikut masuk ke dunia model." Aku memasukkan lagi sepotong kentang goreng setelah mencelupkannya ke dalam saus keju.
Darren tersenyum lebar. "Apa kamu pikir begitu? Astaga … dia sudah sedemikian populer, bagaimana mungkin takut tersaingi olehku?"
Aku mengedikkan pundakku. "Nggak ada yang tahu dalam hati orang, kan? Jadi … kenapa nggak kamu tunjukin aja ke mereka kalau kamu jauh lebih baik daripada dia.”
Pria muda itu menggelengkan kepalanya. “Nggak. Aku nggak ada niat untuk masuk dalam dunia model. Apalagi ntar pasti dikatain dompleng popularitas kakak aku.”
“Ish … mana ada yang seperti itu. Kita juga mulai dari bawah, kok.” Aku segera menepis pemikiran buruknya itu.
“Tapi sungguh .… Aku lakuin semua ini cuma karena kamu, Tiara.” Darren menarik sudut bibirnya, menyampaikan seulas senyuman untukku. Matanya yang menatapku, kini membuatku merasa canggung.
__ADS_1
Aku segera mengalihkan pandanganku lurus ke depan, ke arah loket yang sejak tadi seakan tak ada tanda-tanda kehidupan itu. Kulihat mulai ada persiapan dari beberapa pekerja taman hiburan.
“Tunggu bentar ya,” ucap Darren.
Pemuda itu tiba-tiba berdiri dan berlari keluar dari kedai minuman itu tanpa sempat aku mengatakan apapun.
“Aih … kemana sih, nih orang. Main ngilang aja," batinku. Aku melongokkan kepalaku, mencari kemana gerangan perginya teman sekolahku itu. “Atau jangan-jangan … dia sengaja ninggalin aku di sini.”
Perasaanku semakin gelisah. “Ah … tidak, tidak! Dia nggak mungkin ninggalin aku di sini.”
Kuseruput lagi minuman berwarna kecoklatan dengan straw ku. Hmm … terasa manis dan menyegarkan di cuaca yang semakin menghangat ini.
Tak lama kemudian, pria muda itu kembali. Kulihat di tangannya terdapat sebuah kantung belanjaan.
“Yaelah, Ren. Kamu ninggalin aku cuman buat belanja doang?”
Pria muda itu tertawa lebar, memperlihatkan sederetan giginya yang putih dan tertata rapi.
“Iya, baru kepikiran …. Kita nggak akan boleh masuk karena masih pake seragam,” sahutnya masih dengan cengiran yang memperlihatkan struktur gigi depannya itu.
Pria muda itu menyodorkan tas belanjaannya setelah mengambil sepotong kaos berwarna kuning dari dalamnya. Aku mengintip sesaat ke dalam kantong belanjaan yang terbuat dari kertas daur ulang itu. Kuning! warna yang sama.
“Aku harap kamu nggak keberatan pake kaos itu,” ucapnya dengan nada canggung. Seperti biasa, pemuda itu menggaruk kepalanya – ah … mungkin itu cara dia menghilangkan rasa canggungnya. “Ini … kaos couple pertama kita, Tiara.”
Aku mengerutkan keningku. Nggak salah sih, ini emang kaos couple. Tapi … bukan berarti aku sama dia pasangan kan? Euuh … jangan-jangan dia sedang mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Tapi … emang bener sih, kalau pake seragam mana boleh masuk ke dalam. Hmm .… Ya sudahlah, kali ini aku ngalah. Kedepannya mungkin aku harus lebih hati-hati supaya nggak seolah memberikan sebuah harapan.
"Makasih ya, tunggu bentar aku ganti baju dulu," sahutku. "Euuh … Ren, tapi ini bukan berarti aku mau jadi pacar kamu, loh. Aku nggak mau pacaran selama itu masih dengan duit orang tua. Kamu bisa ngerti aku, kan?"
"Kalau gitu … gimana kalau aku ambil kerja sambilan. Jadi aku nggak perlu pake uang papa buat kita jalan," timpal Darren. Pemuda itu tersenyum girang saat mengatakan sebuah ide cemerlangnya.
__ADS_1
"Astaga, …" batinku