Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Pahlawanku


__ADS_3

Cukup lama aku merasa kesakitan karena kaki kananku. Setelah jatuh tadi, aku tak lagi memaksakan diri untuk bangun. Jangankan untuk bangun, rasa sakit ini saja sudah terasa cukup menyiksaku. 


Lagi pula aku yakin, cepat atau lambat seseorang akan mencariku. Setidaknya Raka, Shinta atau bahkan Om Damar akan melihat panggilan masuk dariku dan berusaha mencari tahu. 


Nah! Benar perkiraanku. Suara itu …. Itu pasti mereka. Mereka sudah menyadari kalau aku butuh bantuan. 


"Cari dia di seluruh sekolah!" Suara itu terdengar begitu tegas. Diiringi suara langkah-langkah kaki yang mengetuk cepat lantai koridor sekolah. Kurasa itu bukan hanya satu atau dua orang. Langkah kaki banyak orang dewasa!


Brak!! 


Suara daun pintu yang dihempas dengan kuat. Benturannya dengan dinding ruangan menghasilkan sebuah suara keras dan berhasil membuatku terkejut. Cahaya sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan yang cukup gelap itu, membuatku silau.


Aku menengadahkan kepalaku, menatap sosok yang berdiri tepat di tengah bingkai pintu itu. Siluet yang tubuhnya yang jangkung, dapat dengan jelas kukenali. Bahkan tanpa melihat wajahnya sekali pun.


"Tiara!" serunya.


Dengan sigap pria itu menghampiriku. Melihat rokku yang robek memanjang akibat terjatuh tadi, dengan sigap dia melepaskan setelan jasnya dan menutup bagian tubuhku yang terbuka. 


"Kamu nggak papa? Apa kamu masih bisa jalan?" tanyanya dengan nada cemas. 


"Ew … kakiku sakit. Sinyalnya hilang di sini. Karena itu aku harus naik ke atas kursi itu untuk mencari bantuan." Aku mencoba menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya. 


"Ssst …. Aku tahu," ucapnya. Pria itu mengangkatku dengan kedua tangannya dan membawaku keluar dari ruangan penuh debu itu. "Aku mendengar suara teriakanmu sebelum panggilan itu putus." 

__ADS_1


Dengan tenang, Om Damar membopongku menyusuri koridor sekolah. Entah kenapa dia bisa begitu tenang, sementara aku sendiri begitu sibuk menenangkan debaran jantungku. Bagaimana mungkin aku bisa tenang jika sedang berada dalam pelukannya, mencium aroma tubuhnya yang khas bahkan merasakan hembusan napasnya yang sesekali menyapu kulit wajahku.


Untung saja pelajaran sedang berlangsung. Hanya ada beberapa siswa yang kebetulan berada di koridor. Dan … tentu saja hal ini semakin membuatku merasa risih, canggung dan tak nyaman. Hmm … pasti gosip tak sedap akan segera menyebar setelah ini.


Ah … untuk apa aku peduli. Seandainya Om Damar nggak muncul dan membawaku keluar dari tempat itu, bahkan aku tak dapat membayangkan sampai kapan aku akan terkurung di dalam sana. Di dalam ruangan gudang yang telah lama terbengkalai, dengan debu tebal dan banyak sarang laba-laba pada setiap sudutnya.


Aku terkejut ketika Om Damar menurunkan aku ke atas sebuah sofa, dalam ruangan yang kukenali sebagai ruang kepala sekolah. Tempat dengan aroma jasmine segar itu terlihat kosong, hingga sebuah suara dari luar ruangan terdengar seolah menyambut kedatangan kami.


"Tiara, kamu nggak papa?" tanya Bu Hartini, ibu kepala sekolahku dengan nada cemas. Wanita itu menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Saya mau pelakunya ditindak dengan hukuman yang tegas, Bu," ucap Om Damar tiba-tiba dengan nada serius. "Tongkat pel yang diletakkan untuk mengunci handle pintu itu adalah bukti nyata bahwa pelakunya telah merencanakan semua ini. Dan satu hal yang pasti, saya tidak mau kejadian ini terulang lagi."


Bu Hartini tampak menatap Om Damar dengan tajam. Seperti sebuah tatapan yang sedang menyelidik. Sementara Om Damar terlihat memasang wajah datarnya. 


Om Damar mengalihkan pandangannya padaku. Tentu saja Bu Hartini mempertanyakan hal itu. Om Damar sama sekali asing baginya. Dan pertanyaan itu membuatku salah tingkah. Bagaimana jika Om Damar mengatakan yang sebenarnya? Astaga, bisa kacau program belajar yang tinggal sebentar lagi akan selesai ini. Bisa-bisa aku dikeluarkan dari sekolah karena dianggap seorang siswa berperangai buruk karena jalan sama om-om. Aih .... Celaka!


"Anda ingin tahu siapa saya?" tanya Om Damar seakan menantang sebuah masalah untuk datang menghampirinya.


Glek! 


Aku menelan kasar salivaku. Apa yang akan dikatakan oleh Om Damar? Semoga saja dia tetap ingat pada janjinya untuk menungguku dan nggak mengatakan hal yang aneh-aneh pada Bu Hartini. Awas aja kalau dia mengacaukan semuanya dengan mengatakan hal yang sebenarnya.


"Saya adalah orang yang sudah mengontrak Tiara sebagai model perusahaan saya. Saya tidak ingin model yang sudah saya bayar terluka dan tidak bisa menyelesaikan kewajibannya. Apa perlu saya sebutkan nominal kerugian yang pasti akan saya alami jika dia terluka," ucap Om Damar. "Atau perlukah saya melayangkan tuntutan ganti rugi untuk cedera yang diderita oleh model saya?" 

__ADS_1


Mataku membulat. Astaga, apa masalah ini seserius itu sampai melibatkan hukum? Om Damar sepertinya sudah keterlaluan. Kasihan Bu Hartini. Bagaimana mungkin Om Damar setega itu mengancam wanita seperti Bu Hartini.


"T–tapi, aku …." 


Aku terpaksa menghentikan kalimatku saat melihat isyarat tangan yang diberikan oleh Om Damar. Baiklah, mungkin saja ini hanyalah sebuah gertakan sambal yang sengaja diberikan oleh Om Damar. Aku hanya akan menjadi penonton dan mempercayakan semuanya pada Om Damar.


"Jangan salahkan aku, jika beberapa polisi akan datang dan mencari pelaku perudungan itu," lanjut Om Damar.


"Sebentar … sebentar, Pak. Saya harap tidak seorang siswa kami yang akan berurusan dengan polisi atau petugas hukum. Semua orang yang ada dalam lingkup sekolah ini adalah keluarga. Jadi setiap masalah yang ada harus diselesaikan dengan cara kekeluargaan," ucap Bu Hartini panjang lebar. "Saya harap Bapak memahaminya."


Om Damar masih menatap ibu kepala sekolahku dengan wajah datarnya. Tidak ada seulas senyum bahkan sesuatu yang membuat hatinya terlihat lembut. Wajah itu menampakkan ketegasan berbalut arogansi yang nyata. 


"Lalu … apa yang akan Anda lakukan pada seseorang yang jelas melakukan kejahatan pada Tiara? Apa Anda akan membiarkannya begitu saja?" 


Bu Hartini menarik sudut bibirnya. Sepertinya wanita itu mencoba melunakkan hati Om Damar, walau nyatanya wajah Om Damar tetap dingin, sedingin gunung es di hadapannya.


"Jangan khawatir, Pak," ucapnya dengan suara bening nan berwibawa khasnya. "Kami pasti mendidik putra putri yang telah dipercayakan pada kami sebaik mungkin."


Pria itu menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sesaat kemudian dia menghela napas panjang. 


"Baik, saya ingin Anda mencari dan menghukum pelakunya. Atau …." Kali ini Om Damar menarik sudut bibirnya. Namun bukan seulas senyuman yang seperti biasanya. Senyuman itu terkesan mengintimidasi lawannya. "Sekolah ini akan berhenti beroperasi." 


Heh! Sebesar apa sih kekuasaan Om Damar? Bagaimana mungkin dia bisa menutup sekolah yang sudah berdiri puluhan tahun lamanya ini?

__ADS_1


__ADS_2