Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Tapi Dia Om-Om


__ADS_3

“Euuh … nggak ada. Kami cuman … ngomong masalah cewek doang sih,” sahutku mencoba mencari sebuah alasan yang masuk dalam logika. 


"Hmm … jadi curiga, nih," sindirnya. "Jangan-jangan … kalian berdua lagi bicarain aku." 


"Nggak … ini nih, ada seseorang yang …."


Aku segera menutup mulut sahabatku itu. "Udah, yuk. Pulang. Nggak ada yang penting, kok." 


Shinta menatapku sembari menautkan kedua alisnya. "Kenapa kamu nggak bilang aja? Bukannya lebih banyak kepala, masalah akan lebih cepat selesai?" ucapnya sambil berbisik. 


"Aku nggak mau ke geer an dulu. Jangan-jangan ini ulah si Ricky," balasku juga berbisik. 


"Ricky?" ulang Shinta dengan mata membulat. 


Aku menganggukkan kepalaku. "Waktu itu dia sempat memperolok aku sebagai simpanan Pak Seno. Kurasa … dia bisa saja mendapatkan koleksi foto ini untuk menyudutkan aku."


Shinta tiba-tiba saja terkikik. "Astaga, dia begitu membencimu hanya karena penolakan itu?"


Aku menganggukkan kepalaku. "Tapi itu masih dugaanku."


"Dan … itu bisa saja itu bukan dia," sambung Shinta. 


"Benar. Sebelum ada bukti, kita nggak bisa apa-apa."


Shinta menghentikan langkahnya. "Kalau gitu, kamu harus lebih hati-hati." 


Gadis itu melambaikan tangannya sebelum lari menuju mobil yang sudah menunggunya di parkiran. 


"Ayo, kita pulang!" ajak Darren dengan isyarat kepalanya. 


***


Sore itu aku sudah siap untuk berangkat ke acara pemotretan. Tepat pada pukul 15.30, Darren datang menjemputku. Aku bisa mendengar deru motornya saat tiba di depan rumahku. Tanpa menunggu lebih lama, aku segera berpamitan dan berangkat menuju kantor agensi Om Marcel.

__ADS_1


"Sore Om," sapaku saat masuk ke dalam ruangan kantornya. Sepertinya Om Marcel sedang membahas sesuatu yang penting dengan Om Damar. 


Wajah mereka terlihat sangat serius. Tapi Om Marcel segera mengubah mimik wajahnya ketika aku menghampiri mereka. 


"Eh, Tiara .... Kamu sudah datang." Om Marcel melirik ke arah Darren yang ada di sampingku. Melihat gelagatnya, Om Marcel tertarik pada penampilan temanku ini.


Aku menarik sudut bibirku untuk memberinya seulas senyuman. "Om, menurut Om Marcel dia cocok nggak," tawarku tanpa basa basi. 


Om Marcel menatap Darren dari ujung kaki hingga ujung rambut, sama seperti yang pernah dia lakukan padaku dulu. Dan tentu saja aku tau apa yang Darren rasakan saat ini. Risih!


Kak Elsy tiba-tiba saja muncul dengan sebuah nampan di tangannya. Di atas nampan itu terlihat dua gelas minuman dingin dengan warna kuningnya yang tidak terlalu pekat. Aku memekik terkejut ketika tiba-tiba Darren berbalik dan menabrak nampan itu. 


"Astaga, maaf … maaf," ucap Kak Elsy dengan canggung. Gadis manis itu segera meletakkan nampan itu di atas meja. Lalu tanpa ragu menarik beberapa lembar tisu untuk membersihkan tumpahan minuman dingin yang membasahi kemeja Om Damar. 


"Ceroboh sekali," ucap Om Marcel mengomentari kesalahan staf nya.


"Maaf! Maaf!" ucap Kak Elsy berulang kali. 


"Aaah!" Om Damar menepis tangan Kak Elsy. Sepertinya dia merasa risih disentuh orang asing.


Tapi sepertinya aku mendecak terlalu keras, sehingga semua yang ada di sana menatapku dengan perasaan seperti tak suka. 


"Kenapa Tiara?" Om Marcel menatapku dengan tajam.


"Om! Ini sama sekali nggak adil. Kak Elsy nggak salah, bahkan dia sudah minta maaf. Darren yang tidak sengaja menabraknya. Kenapa kalian seolah menyudutkannya? Darren juga nggak salah, aku tahu bagaimana rasanya saat pertama kali tatapan seperti itu kuterima," protesku tanpa ragu. 


Semua orang yang di dalam ruangan itu masih melihat ke arahku. Aku mengedikkan pundakku. Tak ada hal lain yang ingin ku katakan. Semua yang ingin kukatakan telah kukatakan.


Om Marcel menganggukkan kepalanya. "Elsy bereskan kekacauan ini," perintahnya pada gadis manis itu. 


Elsy segera keluar dengan nampan di tangannya. Sementara Om Damar menyusul keluar dari dalam ruang kantor itu. Melihat gelagat yang tak nyaman, Om Marcel segera memburunya dengan sebuah pertanyaan. "Kemana?" 


"Nggak betah, lengket! Aku harus membersihkannya," sahutnya sebelum benar-benar menghilang di balik pintu. 

__ADS_1


Om Marcel menarik lacinya. Dia terlihat seperti mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Sebuah kaos dalam plastik bening. Sepertinya itu kaos sponsor. 


"Om, biar aku yang antar ke Om Damar. Om Marcel fokus dulu sama Darren, jangan sampai dia sia-sia datang kemari," sahutku sambil menarik kaos sponsor itu dan pergi meninggalkan mereka berdua. "Sudah hampir waktunya pengambilan foto, bukan?"


"Tapi … Tiara!" 


Tentu saja aku tak menggubris panggilan itu. 


Suasana kamar ganti terlihat sepi. Hmm … jam sudah menunjukkan 16.15. Para kru dan staff sedang sibuk mempersiapkan acara pemotretan yang akan dimulai pukul 17.00. Itu artinya setidaknya dua puluh menit lagi, aku harus bersiap-siap. 


Sepi, tak terdengar suara apapun. Aku mencoba memberanikan diri untuk membuka pintu ruang ganti. 


"Om … Om Damar," panggilku dengan suara pelan. 


Suara derit pintu terbuka ketika aku mendorongnya perlahan. Sepi. Kemana sebenarnya dia? Masa sih, dia pulang dengan pakaian basah, dingin dan lengket gitu? 


Mataku membulat dan aku melompat terkejut ketika melihat seorang pria muncul dari balik pintu kamar mandi. Pria itu telah membuka kemejanya. Aku bahkan bisa melihat tubuh berotot yang tampak lembab itu.


Aroma wangi sabun tercium oleh indraku. Aku menelan kasar salivaku. Astaga, perasaan apa ini? Kenapa mataku tak bisa beralih darinya? Kenapa jantungku berdetak lebih kencang?


"Tiara? Ada apa kamu kemari?" tanyanya karena terkejut akan kehadiranku.


"Euuh …. Anu, Om. Ini!" Dengan kikuk aku menyodorkan kaos dalam plastik transparan itu. "Pa–pakaian ganti buat Om."


Astaga, kenapa mataku tak bisa berpindah dari otot-otot yang menghiasi tubuhnya. Dia terlihat begitu indah, seperti sebuah karya seni yang terpahat dengan begitu indah. Seperti … pahatan seorang maestro. 


Om Damar menarik kaos itu dari tanganku. Pria itu melambaikan tangannya di depan mataku. Astaga … ini benar-benar memalukan! 


Lihat! Sekarang dia bahkan menertawakan aku. Senyum itu bahkan terlihat sangat indah. Deretan giginya yang putih berbaris rapi itu bahkan semakin menonjolkan ketampanannya. 


Tampan? Euuuh …. Apa aku sudah gila? Dia om-om, Tiara. Sadar …. Jarak umur kalian sangat jauh!


"Kamu nggak papa Tiara?" 

__ADS_1


Sebuah pertanyaan yang membuatku kembali tersadar dari lamunanku. 


__ADS_2