Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Hanya Menepati Sebuah Janji


__ADS_3

"Nilam sedang tidur," ucap Bu Ambar yang tersenyum lega melihat kedatanganku. 


"Apa kata dokter, Tan?" tanyaku pada wanita yang berusia sebaya dengan mamaku itu.


"Dia terlalu lelah. Mungkin sebaiknya kalian mencari seorang asisten rumah tangga. Tante rasa mengurus catering sendirian itu sangat capek. Apalagi usia mama kamu sudah kepala empat, kan," ucap Bu Ambar yang merupakan tetangga sekaligus ketua kelompok PKK di lingkungan kami itu. 


"Iya, Tan. Makasih ya, Tan. Untung ada Tante Ambar," ucapku penuh syukur.


Wanita itu menatap Om Damar dengan sudut matanya. Ada raut ketidaksukaan tersirat dari wajahnya. Lalu wanita itu menarik tanganku menjauh dari Om Damar, seperti ada sesuatu hal penting yang bersifat rahasia tapi harus disampaikannya.


"Siapa dia?" bisik wanita itu.


"Teman, Tan." Aku menjawab sekenanya.


"Sebaiknya kamu cari cowok yang bener. Kasihan mama kamu kalau harus nambah satu beban lagi di rumah kalian," ucapnya dengan sinis dengan lirikan tajamnya pada Om Damar.


"Maksud Tante?" tanyaku masih tak mengerti apa yang maksudnya dengan beban.


Wanita itu mendecak dengan kesal. Seperti enggan menjelaskan padaku maksud perkataannya. "Maksudku, cari pacar yang benar. Jangan mempersulit mama kamu dengan menambah jumlah perut yang harus dicukupinya."


Aku menghela napas, mencoba bersabar menghadapi tetanggaku yang terlalu banyak ikut campur ini. Apa sebenarnya alasannya mengatakan hal sedemikian menusuk hati. Bahkan dia tidak tahu siapa pria yang sedang dia bicarakan.


Kuamati Om Damar dengan sudut mataku. Mungkinkah kalimat itu diucapkannya hanya karena melihat penampilannya saat ini? Ah … kurasa itu benar. Mungkin dia melihat kaos promosi yang sedang dipakainya itu. 


Aku sedikit menarik sudut bibirku dan menjawabnya dengan bahasa yang sudah kuatur dengan lembut. "Tiara tahu apa yang harus Tiara lakukan, Tan. Makasih, Tante udah perhatian sama mama dan Tiara." 


Tentu saja aku nggak mungkin mengatakan sesuatu yang frontal ataupun teguran bagi wanita seusia dia. Bisa-bisa kami berdua ribut di dalam rumah sakit ini, hanya karena sesuatu yang sama sekali nggak penting.

__ADS_1


Ditambah lagi usia kami yang berbeda, pasti orang-orang akan menyudutkan aku. Tentu saja aku akan dianggap tidak sopan pada orang tua. Ah … sudahlah, ini sama sekali nggak penting.


Iya, sama sekali nggak penting. Bagaimana bisa dia mengoreksi dengan siapa aku datang dan menebak-nebak dengan pikirannya sendiri pria yang datang bersamaku. Sekaligus menghakiminya karena pakaian yang dikenakannya. Sebaiknya aku abaikan saja semua hal itu. 


Dan aku rasa, tak perlu untuk menjelaskan semua hal itu padanya. Waktuku terlalu berharga jika terbuang hanya untuk meladeni hal-hal kecil semacam ini. Lagi pula aku yakin, suatu saat nanti dia tak akan lagi menyudutkan aku dengan kalimat semacam ini. 


Marah? Tidak perlu. Aku bisa membuktikan bahwa harapan kedua orang tuaku akan tercapai. Suatu saat nanti aku akan bertumbuh menjadi sebutir mutiara yang berkilau. Suatu saat aku akan membuktikan padanya bahwa semua pemikirannya itu tidak sepenuhnya benar. 


Kugenggam tangan wanita yang telah melahirkan dan membesarkan aku itu. Kulihat seulas senyuman di wajah letihnya. Wajah pucatnya membuatku merasa sedih. 


“Bukannya kamu ada jadwal pemotretan?” tanyanya, masih saja memikirkan kegiatanku. 


Aku menganggukkan kepalaku. “Mama sudah baikan?” balasku dengan sebuah pertanyaan lainnya. 


“Iya.” Wanita separuh baya itu menegakkan tubuhnya dari ranjang keras rumah sakit. Sesaat kemudian tatapannya berhenti pada seseorang yang hadir di belakangku. “Dia …”


Aku menoleh ke belakang, menyadari kehadiran Om Damar yang mungkin terasa asing baginya. 


"Maaf, tante jadi merepotkan," ucapnya pada Om Damar.


"Nggak merepotkan kok, Tante." Pria itu menarik sudut bibirnya. "Saya akan membantu Tiara semampu saya." 


"Mama mau pulang sekarang?" tanyaku saat melihatnya turun dari ranjang keras ruang unit gawat darurat itu. 


"Iya. Mama baik-baik saja, kok. Cuman perlu istirahat saja," ucapnya. "Aku harus menyelesaikan administrasinya dulu." 


"Oh … nggak perlu, Tan. Tadi semuanya sudah Damar bereskan," sahut Om Damar. Tangannya dengan lincah menarik sebuah kursi beroda di sudut ruangan periksa. 

__ADS_1


"Loh … jangan, toh. Tante nggak mau berhutang," ucap mamaku. 


Memang, mama paling tidak suka dengan kata hutang. Seandainya saja saat itu papa tidak sedang memerlukan banyak uang untuk menjalankan operasinya, tak mungkin mama meminjam uang pada tante Vivin. Dan celakanya, setelah operasi tidak ada perubahan menjadi lebih baik. Bahkan kami harus kehilangan pria satu-satunya di keluarga kami itu. 


"Sudahlah, nanti Om Damar boleh potong dari gaji Tiara. Udah … nggak usah diributkan, yang penting sekarang mama pulang dan bisa istirahat di rumah," sahutku agar tidak lagi terjadi perdebatan di antara mereka.


Mama tersenyum lega dan kami pun pulang. Selama perjalanan tak ada kalimat yang terucap keluar dari mulut kami. Sepertinya semua sibuk dengan alam pikirannya masing-masing. 


Aku masih memikirkan tentang pemotretan yang gagal hari ini, dan pakaian sobek yang ada di balik jas ini, tentang Darren yang kutinggalkan begitu saja tanpa pamit dan tentang Om Damar yang sempat melihat bagian yang seharusnya tersembunyi oleh bahan yang sobek itu. 


Sesampai di rumah, aku mengantar mama ke dalam kamarnya, sebelum kembali menemui Om Damar. Pria itu duduk dengan santainya di teras depan rumahku dengan kedua kaki yang saling bersilangan. 


"Om … makasih. Sudah temani Tiara melewati malam sulit ini," ucapku dengan tulus. 


Pria itu mengangkat wajahnya dan menatapku dengan seulas senyuman di bibirnya. "Bukankah aku hanya sedang menepati janjiku? Aku akan tetap berada di sisimu, menjagamu, hingga suatu saat nanti kamu siap dengan sebuah hubungan."


Aku menunduk malu. Aku rasa bahkan Om Damar bisa mendengar degupan jantungku yang semakin kencang. 


Sepertinya aku sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada pria yang berusia matang. Entah kenapa di mataku, dia begitu menarik. Bukan secara fisik semata, tapi juga pribadinya. 


Pria itu mengulurkan tangannya dan kembali mengacak puncak kepalaku. "Istirahatlah," ucapnya sambil beranjak dari kursinya. "Kita bertemu lagi besok."


"B–besok?" tanyaku dengan heran. 


Pria itu menganggukkan kepalanya. "Om Marcel setuju menunda pemotretan ini dan melanjutkannya besok sore. Aku harap semuanya berjalan lancar." 


Tiba-tiba saja ular naga di dalam perutku berbunyi. Astaga … aku benar-benar malu. Perutku memang belum diisi lagi sejak makan siang tadi. Dan sekarang … bahkan sudah lebih dari pukul delapan malam!

__ADS_1


Om Damar tertawa. "Kamu benar-benar tak pandai berbohong. Bahkan aku bisa membacamu seperti sebuah buku yang terbuka." 


Glek! Apa maksudnya? Apa dia tahu kalau aku sudah … jatuh cinta padanya?


__ADS_2