
Pria muda itu menaikkan kaca helm teropongnya. Jaket hitam dan semua perlengkapan hitam yang menutupi tubuhnya, membuatku takut. Ah ... Siapa juga yang nggak bakalan takut, bisa jadi pria itu seorang penculik, kriminal atau bahkan salah satu anggota geng motor.
Tentu saja aku akan menjerit minta tolong jika saja dia tidak cepat-cepat membuka helm teropong hitamnya.
“Darren!” seruku saat melihat pria muda yang duduk di atas motor sport itu.
“Kamu dah mau pulang kan?” tanyanya. “Naik. Aku antar kamu pulang.”
Mataku membola. Dia tak terlihat seperti biasanya. Darren yang biasanya terlihat biasa saja dan sangat cuek itu, tiba-tiba saja muncul di depanku, seolah sengaja datang untuk menjemputku.
“Ah … nggak, nggak. Nggak mungkin dia sengaja jemput. Jangan ke ge er an, Tiara! Bisa saja dia kebetulan lewat daerah ini dan melihatmu,” sanggahku dalam hati.
Pria itu mengambil helm yang sedari tadi tergantung di belakangnya. Dipakaikannya benda berbentuk bulat itu ke atas kepalaku, hingga bunyi klik terdengar.
Cepat-cepat aku naik ke atas boncengannya. Tentu saja posisiku sangat tidak nyaman. Duduk menyamping karena rok abu-abu yang tak bisa terkoordinasi dengan baik, ditambah lagi posisi boncengan dengan kemiringan yang terus membuat pantatku tergelincir mendekat pada Darren.
“Udah siap?” tanya Darren sambil menutup kaca depan helm teropongnya.
Aku tersentak kaget, ketika motor itu meluncur dengan seketika. Tentu saja gerakan spontan itu membuat posisi dudukku meluncur semakin dekat dengannya sementara tubuhku tersentak ke belakang.
“Astaga, Darren! Pelan kenapa sih, ntar aku jatuh loh,” protesku.
Tapi jawaban yang kudapat hanya suara tawa dari balik helm teropongnya. Mungkin baginya itu adalah suatu hal yang lucu.
Tak hanya itu yang dilakukan olehnya, dia bahkan mempermainkan koplingnya sehingga membuat gerakan yang menghentak-hentak. Gerakan yang membuat kepalaku terantuk-antuk, sehingga kedua helm kami berbenturan.
“Astaga, niat banget nih cowok bikin aku layaknya boneka di dashboard mobil,” batinku.
TUK!
Sekali lagi helm kami saling berbenturan dengan keras dan tentu saja kali ini aku tak bisa tinggal diam.
“Bisa nggak sih, kamu nyetir yang bener? Ish!” protesku sekali lagi.
Darren membuka kaca helm teropongnya dan sedikit menoleh ke arahku. “Udah bener ini, Ra. Kamu yang nggak bener. Nggak pegangan sih,” sahutnya. “Siniin tanganmu.”
Pria muda itu berusaha menggapai tanganku. Ah, bener-bener deh! Ini namanya pemaksaan.
__ADS_1
“Ya udah. Ini aku pegangan.” Dengan terpaksa aku memegang pundaknya. Ya … kedua pundaknya.
Darren mengedikkan pundaknya.
Ya … mungkin ini sedikit aneh baginya. Tapi, aku benar-benar tak ingin memberikan harapan apapun padanya. Aku hanya tak ingin pacaran sebelum sekolahku selesai. Cukup dengan pertemanan di antara kami.
Kehidupanku sekarang pasti akan lebih sulit dari sebelumnya. Bahkan sudah pasti tak akan ada waktu tersisa untuk sekedar berkencan. Belajar dan menyelesaikan kontrak kerjaku, dua hal itu yang perlu aku perjuangkan saat ini.
***
Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang. Rasanya begitu nyaman setelah berpanas-panas di luar rumah sepanjang hari ini.
“Ra, ganti baju dulu gih … terus cepetan makan. Keburu sore,” perintah mamaku dari dapur kering rumah kami.
Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu. Buku itu! Dimana buku itu? Sepertinya tadi aku menggenggam scrapbook buatan sendiri yang diberikan oleh Pak Seno. Tapi … dimana buku itu sekarang?
Apa mungkin terjatuh di jalan? Atau terbawa oleh Darren.
Glek!
Kuambil tasku dan kuhamburkan semua isinya ke lantai kamarku. Tapi buku yang kucari tak terlihat sama sekali dari sekian banyak buku di dalamnya.
“Bodoh! Bodoh! Bodoh!”
Aku mengetuk kepalaku dengan kepalan tanganku sendiri. Sungguh kecerobohan yang fatal! Bagaimana jika lembar demi lembar dari scrapbook itu berjajar rapi di ruang mading sekolah kami?
Aku tidak sedang baik-baik saja. Aku harus mencari tahu dimana buku itu berada.
Cepat-cepat kuraih ponselku dan menekan sebuah nomor dari salah satu kontak yang tersimpan. Darren! Seharusnya buku itu ada padanya.
Suara berisik laju kendaraan terdengar ketika pria muda itu mengangkat panggilan dariku. Tentu saja, dia bahkan baru saja menurunkan aku di depan rumah.
"Ren, apa kamu keliatan bukuku?" tanyaku dengan hati-hati.
"Buku? Apa tas kamu rusak, lalu bukumu bertebaran di jalanan?" tanya pria muda itu, menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lainnya.
"Eeuuh … nggak sih. Tapi … seharusnya tadi aku membawa sebuah buku di tanganku. Tapi kok nggak ada ya.”
__ADS_1
Aku berusaha mengingat kembali apa yang terjadi sepanjang perjalanan kami. Tapi tak sedikitpun kuingat tentang buku itu. Aih … mungkin aku sudah mulai pikun di usia muda.
“Apa mungkin ketinggalan di sekolah?” tanya Darren.
“Nggak … nggak, aku yakin nggak ketinggalan,” sahutku dengan cepat.
Mana mungkin ketinggalan. Lah tadi Pak Seno kasih buku itu di pintu gerbang. Sudah pastilah kubawa keluar dari sekolah. Bahkan aku masih ingat membuka dan membaca scrapbook itu di ruang tunggu Big Star!
Tapi … masa sih ketinggalan di Big Star?
“Ra, mumpung aku belum balik nih … kamu mau keluar cari buku itu atau nggak?” tanya Darren menawarkan bantuannya.
Tapi … selama itu di Big Star, kurasa pasti aman. Mungkin ada baiknya aku menelpon Om Marcel untuk menanyakan keberadaan bukuku. Ya, kurasa itu adalah jalan yang terbaik.
“Eeuh …. Nggak, nggak deh. Makasih. Mungkin ketinggalan di studio,” sahutku menolak tawarannya
“Aku ambil sekarang ya?” tawarnya lagi. “Buku apaan sih? Penting ya?”
Sekali lagi aku merasa gugup. “Nggak … nggak penting, kok. Biar besok aja, sekalian aku ada acara tanda tangan kontrak di sana besok.”
Bisa runyam kalau Darren beneran nekat mengambil buku itu di studio. Aku bisa membayangkan mimik wajahnya saat membuka halaman demi halaman scrapbook yang dibuat oleh Pak Seno itu.
“Kamu yakin, nggak perlu aku ambilin?” tanyanya sekali lagi.
“Iya, yakin. Kamu pulang aja. Inget, besok ada test fisika loh,” sahutku cepat.
Bagaimanapun aku harus menghubungi Om Marcel sebentar lagi. Buku itu harus disembunyikan dari siapapun.
“Oke lah, sampai ketemu besok,” ucapnya mengakhiri telepon kami.
Aku segera menghubungi Om Marcel sesaat setelah itu. Suara nada hubung terdengar, sebelum aku bisa mendengar suara pria setengah baya itu.
“Tiara! Ada apa nelpon sore-sore gini? Jangan katakan kamu berubah pikiran lagi, loh,” ucapnya dengan nada suara khasnya.
“Eeng … anu Om, ada buku Tiara ketinggalan, nggak?” tanyaku langsung pada tujuan.
“Oh buku itu ya?” Om Marcel meninggikan suaranya. “Aduh … gimana ya.”
__ADS_1