Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Siapa Penggantinya


__ADS_3

"Ini masalah Om sama managernya si Robin sih. Bukan salah Tiara,” ucap Om Marcel masih dengan nada ragu penuh penyesalan.


“Memang … kenapa sama managernya Kak Robin, Om?” tanyaku semakin penasaran. 


“Itu …. Managernya bilang, Robin ternyata masih belum bisa pulang. Besok dia masih harus menghadiri acara penutupan fashion week di Bali,” terang Om Marcel. 


“Euuh …. Kalo boleh Tiara tau, masalahnya di mana ya, Om?” tanyaku tak mengerti. “Bukannya Om bisa atur mundur jadwal kita?”


Terdengar suara helaan napas pria setengah baya itu. “Nggak bisa, Tiara. Damar udah kasih tenggat waktu. Produk barunya harus segera launching. Sementara Robin masih baru akan pulang seminggu lagi,” ucapnya dengan putus asa.


“Om Marcel nggak papa?” tanyaku dengan prihatin.


“Nggak papa sih, cuman … kamu tahu, kan. Cari model yang sesuai karakter produk itu nggak gampang. Aku nggak mungkin cari model sembarangan, di samping itu … book cepat model terkenal lain juga nggak bisa dadakan. Apalagi model dari agensi lain,” keluhnya. 


“Ya ampun, Om. Seandainya Tiara bisa bantu, Tiara bakal bantu Om,” ucapku menghiburnya. 


“Sebenarnya bisa, sih. Om butuh satu orang buat gantiin Robin. Hmm … barangkali ada teman Tiara yang bisa ….”


“Euuh … Om, kalau itu Tiara nggak bisa janji deh,” ucapku dengan penuh keraguan. “Kalau Tiara ajakin seseorang, terus Om Marcel nggak cocok cemana?”


“Ya udah, Om bakal lembur buka-buka arsip calon model. Semoga aja ada yang cocok,” sahut sang pemilik Big Star agensi itu. “Tapi … kalau saja kamu ada masukan tentang seseorang yang tepat, jangan ragu untuk menghubungiku, Tiara.”


“Siap Om!” ucapku dengan tegas layaknya seorang prajurit yang siap maju dalam pertempuran. 


Panggilan itu terputus. Aku tak lagi memikirkan Om Damar. Kini pikiranku berputar pada permintaan tolong Om Marcel. Ah … pria malang itu, bukan hanya kali ini saja dia dipermainkan oleh model ternama. 

__ADS_1


Aku masih ingat tentang pertemuanku dengan Om Marcel. Saat itu dia sedang mencari pengganti model wanitanya yang menolak melakukan pemotretan hanya gara-gara tawaran lain yang lebih menarik. Om Marcel terlalu lemah untuk menuntut ganti rugi kontrak, hanya karena merasa tak nyaman bila harus berurusan dengannya lagi suatu hari nanti. 


Hmm … memang sih, itu sama sekali tidak merugikanku. Bahkan karena penolakan Servia, maka terbukalah peluang bagiku menjadi seorang model. Tentu saja semua itu karena Om Marcel membantuku dalam banyak hal. Aku terus dianakemaskan oleh Om Marcel hingga beberapa bulan kemudian aku memutuskan mengundurkan diri untuk fokus dalam pelajaranku. 


Tapi siapa yang bisa kubawa dan bersedia menjadi model pasanganku?


Sebenarnya yang paling cocok adalah Ricky. Dia adalah kapten team basket sekolah kami. Postur tubuhnya yang tinggi dan proporsional, ditambah dengan wajah tampannya, sangat sesuai dengan produk kostum dan sepatu running itu. 


Tapi … tentu saja aku tak mungkin meminta hal itu padanya. Aku masih bisa mengingat bagaimana bencinya dia setelah mendengar kalimat penolakanku. Bahkan dia pernah mengataiku sebagai simpanan Pak Seno.


Bagaimana dengan Darren? Sebenarnya menurutku dia cukup oke. Postur tubuh dan badannya yang jangkung juga cukup ideal. Kulit bersihnya khas warga negara keturunan, membuatnya terlihat mencolok.


Tapi … jika aku mengajak Darren, bisa saja dia menolakku mentah-mentah. Dia sama sekali tidak suka dengan sorotan kamera. Di lain pihak, ini sama saja dengan aku memberikannya harapan palsu. Bagaimana jika ajakan itu dianggapnya sebagai usahaku untuk kembali dekat dengannya atau bahkan lebih dari itu. Bagaimana jika dia menganggap aku telah membalas perasaannya.


Aaaah …. Benar-benar membuatku pusing.


Pagi itu langit terlihat suram, mendung bergelayut di langit. Udara yang terasa sejuk membuatku merasa enggan untuk keluar dari peraduanku. Tapi rasa takut akan sanksi tatib sekolah sekali lagi berhasil memaksaku untuk menggerakkan kedua kakiku masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap-siap ke sekolah. 


Dua puluh menit kemudian, aku pun telah rapi dalam seragam sekolahku. Dengan rambut yang sengaja kugerai dengan sehelai bandana dari scarf bermotif abstrak yang terlihat simple menghias di atas sana. 


Kucangking tas ransel yang memuat banyak buku pelajaran hari ini di atas bahuku. 


Tapi langkahku terhenti dan sepasang mataku tertuju pada seseorang yang sedang menikmati hidangan sarapan pagi di kursi,  tempatku biasa menghabiskan hidangan yang disajikan oleh mama. Terlihat betapa lahapnya pria muda itu menyantap sandwich keju favorit ku. 


“Mama …. Sandwichku dimakan tikus!” kesalku. 

__ADS_1


“Tiara, sebentar mama buatin lagi. Kasihan tuh, Darren katanya belum sarapan. Makanya mama suruh habisin punya kamu dulu.” Mama terlihat sibuk meracik roti berlapis itu ke atas piring.


“Yee … mama gimana sih! Kan Tiara yang anaknya mama, kenapa harus Darren sih yang diprioritaskan?” tanyaku dengan sedikit manyun.


“Kamu ini aneh, Tiara. Bukankah kalian bersahabat? Mana mungkin mama cuekin sahabat anakku?” ucap mamaku yang malah kembali memojokkan aku yang notabene anak kandungnya sendiri.


“Bersahabat?” ulangku. Kali ini aku menatap pria muda yang duduk di sebelahku itu. “Apa kamu sahabatku?”


Darren terbatuk, sepertinya dia tersedak mendengar nada bicaraku. Tangan kanannya menggapai segelas air dan segera meminumnya.


“Tentu saja kamu adalah sahabatku. Bagaimana mungkin aku mengingkarinya,” ucap pria muda itu sesaat setelah menghabiskan segelas air di tangannya. 


Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalaku. Aku menarik sudut bibirku untuk mengulas sebuah senyuman.


“Seorang teman akan membantu temannya, bukan?” tanyaku.


Pria muda itu tersenyum penuh kemenangan. Sepertinya dia mulai membaca situasi, bahwa aku sedang membutuhkan pertolongannya.


“Apa yang kamu inginkan, Tiara. Aku akan berusaha menepatinya.” ucap Darren dengan begitu yakin.


“Apa kamu bisa memastikan untuk menepati janjimu dan membantuku?”  tanyaku tanpa ragu. “Aku hanya menginginkan satu hal saja. Tidak lebih dari itu.”


“Iya, aku akan menepati janjiku.”


Aku menarik sudut bibirku mengembangkan seulas senyuman di atasnya. Ini pasti sulit baginya. Setidaknya dia harus berusaha mengendalikan diri saat berada di hadapan kamera. 

__ADS_1


“Darren … aku membutuhkan seseorang untuk menjadi pasanganku dalam pemotretan sore ini,” jelasku. 


Mata pria muda itu membulat. Melihat gelagatnya, membuatku semakin pesimis. Sepertinya benar dugaanku, dia akan menolak mentah-mentah permintaanku. Persis seperti yang ada dalam pikiranku sebelumnya. 


__ADS_2