
"Nah … gitu dong, kalo senyum kan cantik!" Suara Kak Merry yang segera menyambutku sesaat setelah aku masuk kembali ke ruangan pemotretan.
Tampak pria setengah wanita itu mencubit gemas Om Damar, hingga pria itu sedikit melompat terkejut. "Kamu benar-benar sudah dewasa ya, Dam. Bisa mengatasi semuanya dengan baik."
"Astaga, Kak Merry. Jangan bikin gara-gara lagi," ucap Om Damar. "Aku bukan lagi anak kemarin sore yang bisa kamu kerjain seenaknya."
Kak Merry tampak mencebikkan bibirnya. Kurasa sekarang rasa kesalku berpindah padanya. Kalimat yang dilontarkan oleh Om Damar selalu tepat pada sasarannya. Mungkin karena pengalaman hidup telah mengajarkan begitu banyak hal berharga baginya, sehingga kedewasaannya begitu tertempa dengan baik.
Hmm … hatiku terasa kembali hangat setelah sedikit berbicara dengannya. Eeuh …. Sebenarnya bukan karena kami yang berbicara, tapi kami hanya sedikit melakukan interaksi. Ah … sudahlah, aku benar-benar malu bahkan untuk mengingatnya.
Hanya satu yang pasti, aku yakin bahwa dia sangat menyayangiku. Demikian pula aku. Sepertinya aku mulai bergantung padanya. Bukan hanya karirku, bahkan dia dapat mengontrol mood yang sedang kurasakan. Mood yang sebelumnya telah hancur berantakan itu kini telah kembali, bahkan aku sangat bersemangat sekarang.
Yang pasti aku merasa sangat bahagia saat ini. Bahkan Om Marcel pun merasa puas karena dapat mengambil banyak gambar bagus malam ini. Walaupun awalnya sempat kacau karena kedatangan Robin dan keributan yang menyangkut semua pihak, tapi syukurlah … semua berjalan dengan sangat baik dan lancar.
"Kamu nggak pulang?" tanya Darren tepat saat semua kru sedang berkemas. "Sudah malam loh."
"Eeuh … kamu pulang aja dulu, Ren. Aku … aku … masih ada yang harus aku bicarakan dengan mereka," sahutku dengan sedikit gugup.
Tentu saja semua itu karena aku harus mencari alasan agar dia tidak menungguku pulang. Nggak mungkin juga aku mengatakan pada Darren, kalau setelah pemotretan ini, aku ada janji dengan Om Damar.
Pria muda itu mengerutkan keningnya sejenak. "Kamu yakin nggak papa kalau aku tinggal? Kamu nggak takut pulang sendiri?"
Aku menganggukkan kepalaku dengan yakin. Tentu saja agar dia tak perlu lagi merasa cemas.
Darren masih menatapku seperti mencurigai sesuatu. Aku menarik sudut bibirku untuk membuatnya tenang. "Om Marcel bisa menyuruh siapa saja untuk mengantarku pulang. Bukankah masih ada mobil perusahaan?"
Pria muda itu mengacak puncak kepalaku dengan tangan kanannya. "Ya sudahlah … aku pulang dulu. Kamu yang hati-hati ya," ucapnya seakan aku seorang gadis kecil.
"Iya. Kamu juga, ya …" sahutku sambil melambaikan tanganku. "Sampai ketemu besok!"
Aku kembali masuk ke dalam ruang ganti setelah punggung Darren menghilang dari pintu studio. Tentu saja aku merasa lega, karena aku bisa dengan bebas melakukan apapun, tanpa khawatir dengan pembicaraan orang di belakangku.
Segera aku mengganti pakaianku. Dengan sling bag yang bertaut di pundakku, aku segera keluar dari ruang ganti.
__ADS_1
Ruangan kantor studio sudah mulai sepi. Aku segera keluar dan menunggu di lobby agensi. Sendirian, mungkin saja Kak Elsy yang biasa siaga di sana sedang mengurus sesuatu dengan kru yang masih sibuk di dalam ruang foto.
Tiba-tiba seseorang menutup sepasang mataku dengan kedua tangannya. Dari aroma parfum yang menguar dari tubuhnya, aku dapat dengan mudah mengenalinya. Kutarik sudut bibirku untuk mengulas sebuah senyuman.
"Om Damar!" tebakku.
Tentu saja itu dia, tak mungkin orang lain melakukan hal seberani ini. Selama ini, hanya dia pria yang bisa membuatku merasa benar-benar diperlakukan layaknya seorang 'putri'. Dan aku sangat menyukai perasaan ini.
Perlahan tangan kekar itu mengendurkan tekanannya di sepasang mataku. Dan tentu saja aku berbalik untuk membuktikan bahwa tebakanku tidak salah.
"Bagaimana kamu tahu, itu aku?" tanyanya dengan kekehan khasnya. Kulihat sepasang lesung pipi di wajahnya yang tampak berwibawa dengan sedikit rambut halus yang mempertegas rahangnya.
"Ehm …. Rahasia!" sahutku dengan cepat.
Pria itu mencubit gemas puncak hidungku hingga aku menjerit kesakitan.
"Augh! Sakit, ih!" teriakku sambil mencebik kesal.
Kucubit perutnya dengan kesal. Gimana nggak kesal. Jerawat yang sedang ranum dan dengan elegannya bertahta di ujung hidungku itu, dicubit dengan seenaknya. Bisa bayangin nggak sih, gimana rasa sakitnya.
Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada, tentu saja masih dengan perasaan kesal. Jerawatku bahkan masih terasa berdenyut akibat ulahnya, mana bisa aku melupakan peristiwa yang baru saja terjadi begitu saja.
"Kok masih manyun aja sih," godanya. "Ntar cantiknya ilang, loh …."
Sepasang tangan kekar itu terulur dan mulai menggelitik di pinggangku. Aih … sungguh geli. Aku tak bisa menahannya. Sepertinya saraf tawaku benar-benar sudah dibangunkan olehnya.
"Ampun … ampun, Om!"
Aku berusaha menghindar dari gelitik yang sedang menyerangku. Tapi sepertinya Om Damar tak ingin melepaskanku hingga aku kembali ceria seperti sedia kala.
Apa karena usianya yang lebih tua dariku, maka dia begitu susahnya untuk sekedar mengucapkan kata maaf. Ah … sudahlah, sebaiknya aku maafkan. Lagi pula itu hanya hal sepele dan bahkan tidak disengaja olehnya.
"Udah Om … Ampun," ucapku tak dapat menghentikan tawaku. Sepertinya aku yang harus menghentikan dia agar tak lagi menggelitikkan jemarinya itu.
__ADS_1
Aku menangkap sepasang tangannya dan menahannya agar tak lagi menggelitikku. Tapi sepasang tangan kekar itu malah menarik tanganku hingga melingkar di pinggangnya.
Jantungku berdebar semakin kencang ketika jarak di antara kami begitu dekatnya. Bahkan hembusan napasnya terasa hangat menerpa wajahku.
Aku mengangkat wajahku, menatap sepasang matanya. Sepasang mata itu terlihat menatapku dengan tatapan sayunya dan seulas senyuman tipis yang begitu menenangkan.
Deg! Deg! Deg!
Jantungku berdegup dengan cepat, berpadu dengan suara jantungnya yang terdengar dengan ritme teratur. Napasku seakan berhenti sesaat. Waktu seakan berhenti berputar.
Terasa begitu canggung dan aku merasa sangat gugup.
Astaga, bahkan ini bukan yang pertama kalinya aku dan Om Damar berdekatan sedekat ini. Tapi kenapa aku tak pernah terbiasa juga. Kenapa jantungku ini seakan begitu bodoh, tak mampu juga beradaptasi untuk melewati pengalaman yang sama.
Jantungku tetap saja membuatku merasa malu dengan debarannya yang kurasa bahkan Om Damar dapat mendengarnya dengan jelas. Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya kepadaku.
Dan ….
Hik …! Hik …! Hik …!
Aku cegukan? Astaga, kenapa harus sekarang? Wajahku terasa terbakar karena malu. Ya … ini begitu memalukan.
Hik ...!
Cegukan itu tidak juga berhenti.
Mataku membola ketika bibir lembut itu menyentuh bibirku. Om Damar sepertinya tak ingin mempermalukan aku. Dia mengabaikan ceguk yang sedang melandaku.
Hik ...!
Astaga ... Cegukan ini benar-benar menggangguku.
Hik ...!
__ADS_1
Ya ampun, gimana ini. Aku benar-benar nggak sengaja menggigit bibirnya. Aduh ... matilah aku.