Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Kegelisahanku


__ADS_3

"Jadilah satu-satunya pemilik hatiku. Tiara …" ucapnya sekali lagi. "Berikan aku kesempatan untuk menunjukkan perasaanku."


"Tiara masih sekolah, Om. Tiara nggak bisa njanjiin apapun sama Om," tolakku sehalus mungkin.


Pria itu menarik sudut bibirnya. "Aku sama sekali nggak keberatan untuk menunggu kamu. Hanya … aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, seperti kegagalanku di masa lalu."


Tiba-tiba pria itu menekuk lututnya di hadapanku. Tatapan mata lembutnya, seolah menuntut sebuah jawaban positif. "Jadilah kekasihku, berikan aku kesempatan, Tiara."


Kembali ku lihat benda mungil berbentuk lingkaran yang tampak berkilau di dalam kotak itu. Sepasang kakiku terasa lemas. Jika aku menerima pernyataan ini, berarti aku harus menanggung konsekuensi, semua orang akan tahu tentang dia. Aku tak mungkin menyembunyikannya seumur hidupku. 


Dengan canggung, aku menjawabnya. "M–maaf. Ini terlalu mendadak. Aku perlu waktu untuk memikirkan semua ini."


Perasaanku bahkan terasa sakit dan begitu sesak saat mengucapkan kalimat itu. Seperti keinginan untuk berontak, tapi tak berdaya. Seandainya saja selisih usia kami tak begitu jauh. Seandainya saja aku dilahirkan jauh lebih awal ....


Aku dapat melihat raut wajah kecewanya. Seperti kehilangan sebuah harapan, tapi tak lama kemudian … seulas senyuman tipis kembali menghias di bibirnya. 


"Aku akan menunggu, apapun keputusanmu," ucapnya dengan lapang dada.


Bukankah aku tidak boleh gegabah dalam menentukan keputusan penting seperti ini? Bahkan mungkin saja ini adalah keputusan yang akan menjadi titik awal perubahan hidupku. Aku harus mengekang perasaanku, aku tidak ingin perasaanku mengacaukan seluruh kehidupanku pada akhirnya.


Aku melihat pria itu kembali memasukkan benda berkilau itu ke dalam sakunya. Perlahan dia menghampiriku dan mengecup puncak kepalaku dengan lembut. 


"Kita pulang." 


***


Malam itu aku sama sekali tak dapat memfokuskan pikiran pada buku yang sedang kupelajari. Angka-angka di atas lembaran putih itu seperti tanpa arti. 


Bahkan berkali-kali aku mencoretkan penaku untuk melakukan perhitungan dengan rumus yang ada di dalamnya. Tapi semua langkah seakan tak lagi bersahabat denganku. Sekali lagi kuremas kertas itu menjadi sebuah bola kertas dan menghiasi keranjang sampah di sebelah meja belajarku. 

__ADS_1


Pelajaran yang kusukai ini, bahkan tiba-tiba menjadi momok yang menakutkan bagiku. Bagaimana perhitungan yang biasanya mudah kulakukan, terlihat begitu sulit untuk dikerjakan.


Entah kenapa aku merasa menyesali kalimat yang kuucapkan pada Om Damar. Sebuah kalimat yang sebenarnya mengingkari perasaanku sendiri. Ya, aku sudah mendustai perasaanku sendiri.


Bagaimana jika dia benar-benar kecewa dan menjauh dariku? Apa yang kira-kira dipikirkannya tentang aku? Aaah … aku kembali mengacak rambutku. 


Suara dering terdengar dari benda pipih di sampingku. Sebuah nama berkedip di layarnya. Dengan perasaan malas, aku menerima panggilannya. 


"Tiara," sapa pria di seberang sana.


"Hmm …," sahutku dengan malas.


"Kamu baik-baik saja, bukan?" tanyanya kemudian.


"Nggak papa, aku cuman kecapekan kok." 


"Maafin aku ya, harusnya tadi … aku antar kamu pulang. Entah kenapa perasaanku jadi nggak enak," ucap Darren. 


"Hmm … kamu sibuk, ya?" tanyanya lagi. "Lagi ngapain?"


Astaga, pertanyaan basi macam apa ini? Apa nggak ada pertanyaan bermutu lainnya selain pertanyaan ini?


"Lagi ngulang pelajaran fisika tadi. Kenapa?" sahutku sedikit ketus.


"Dih, kok ngambek sih? Kamu marah sama aku? Aku ke sana sekarang, ya?" 


Mataku membulat. "Nggak, aku nggak marah. Udah malem, jangan keluyuran, nanti diculik kolong wewe," sahutku mencari alasan agar dia tak datang begitu saja. 


"Tapi … aku kangen sama kamu, Tiara." Suaranya terdengar putus asa. "Seharian ini, bahkan kita baru ketemu sebentar. Ini hari ulang tahunku. Aku benar-benar ingin menghabiskan hari ini bersama kamu."

__ADS_1


Aku menggigit bibirku sendiri. Rasanya begitu janggal mendengar dia yang biasanya selalu berada tak jauh dariku, kini merengek memelas hanya untuk sekedar menghabiskan waktu bersama. Jika saja dia tak mengatakan perasaannya, mungkin kami akan tetap berteman akrab seperti biasanya. 


"Kita ketemu lagi, kan … besok, di sekolah," sahutku seolah itu adalah jawaban yang paling sempurna. 


"Baiklah …. Kita ketemu besok. Sampai ketemu, Tiara," sahutnya dengan nada datar, seperti sudah menyerah menerima penolakanku.


Baru saja aku mematikan panggilan itu, terdengar dering panggilan lainnya. Tanpa sempat membaca nama di layarnya yang berkedip, aku segera menyeret tombol berwarna hijau untuk menerima panggilan itu.  


"Apa lagi, Ren. Kan kita bisa ngobrol besok," ketusku. 


Aku sudah terlalu kacau dengan pikiranku. Ditambah lagi soal fisika yang sedang kukupas ulang itu tak juga masuk ke dalam otakku. Semua gangguan ini seakan ingin kuhalau pergi menjauh, sejauh mungkin.


"Tiara?"  


Suara pria itu terdengar terkejut saat mendengar jawabanku. Ternyata dia bukan Darren. Sialan, aku kira Darren masih belum puas dengan jawaban yang aku berikan dan hendak kembali merengek untuk menghabiskan hari ini denganku, seperti keuletan yang biasa dilakukannya.


"Euuuh …. M-maaf Om. Eeeng … ini, ada teman Tiara lagi suka nelpon-nelpon nggak jelas." Aku memberikan sebuah alasan yang terdengar masuk akal.


"Astaga …. Om kira kamu kesal, karena berita itu." Om Marcel terdengar gelisah. Tidak biasanya dia menelpon selarut ini, jika tidak ada suatu hal yang begitu penting untuk dibicarakan. 


"Berita? Berita apa Om? Ada apa sih Om?" cetusku sekaligus dengan banyak pertanyaan. 


"Gini Tiara, Om Marcel janji akan bujuk ulang Robin agar mau datang dan ikut pemotretan iklan dengan kamu. Om janji,deh," ucap Om Marcel yang terasa ambigu bagiku. 


Tentu saja ini terdengar ambigu, karena aku belum mengerti apa ada suatu masalah dengan pemotretan besok.


"Memang kenapa dengan pemotretan besok? Om nggak jadi pakai Tiara sebagai model Om, gitu?" tanyaku langsung pada poin utamanya.


"Aih … bukan, bukan itu masalahnya. Jangan salah paham, Tiara." Om Marcel terdengar tak seperti biasanya. Sepertinya dia sedang menyembunyikan sesuatu dan merasa kesulitan untuk mengatakannya, agar aku tidak kecewa.

__ADS_1


"Ish! Om Marcel muter-muter sih ngomongnya," tegurku. "Emang ada apa sih Om?" 


"Ituu …. Aduh gimana ya, ngomongnya." 


__ADS_2