
Pria itu menghela napas. Sepertinya dia benar-benar menelaah perkataanku. Dan ini membuat perasaanku jadi tak nyaman. Bagaimana jika dia tiba-tiba marah dan tersinggung? Ah ... Mulut ini, kenapa nggak ada remnya sih. Jadi kesel sendiri.
"Ini berbeda. Kamu bisa dengan bebas memiliki secangkir lemon tea kapanpun kamu mau." Pria itu tertawa pelan. "Tidak denganku. Aku harus benar-benar menghapusnya dari hati, pikiran dan ingatanku. Dan itu bukan hal yang mudah."
"Lalu apa yang Om harapkan dariku? Bukankah itu berarti tak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisinya di hati Om?" tanyaku kemudian.
Pria itu menyentuh tanganku dan menggenggamnya, sementara ibu jarinya membelai lembut punggung tanganku. "Sebentar lagi … aku akan bisa melupakan semuanya. Aku bisa melupakannya dan menggantikan posisinya denganmu."
"Euh … tapi Om …."
Seorang waiters mendekati kami, membuatku menghentikan percakapan privacy ini. Wanita cantik itu memberikan seulas senyumannya sebelum menyapa kami.
"Selamat malam, pesanan Anda sudah siap. Boleh saya bantu hidangkan sekarang?" tanyanya dengan ramah sebelum mulai meletakkan beberapa menu makanan yang telah kami pesan.
Wanita itu meletakkan semua menu pesanan dengan aromanya yang lezat dan membuat perutku semakin menunjukkan aksi protesnya. Semua hidangan yang tersaji dengan begitu apik, mengundang keinginan untuk segera menyantapnya.
"Selamat makan," lanjut sang waitress sebelum mendorong troli nya meninggalkan kami. Suara keempat roda rak makanan kecil itu terdengar berisik di telingaku saat bergerak menjauh dari kami.
Tangan besar itu seperti mengerti kericuhan demonstrasi yang terjadi di perutku. Tanpa menunggu reaksiku, Om Damar segera mengeksekusi beberapa lobster dan meletakkan potongan dagingnya ke mangkuk nasiku.
"Makan yang banyak. Biar cepat besar," ucapnya, memperlakukan aku layaknya anak kecil.
"Dih … cepat besar. Yang ada, aku makin tambun, Om," sahutku sambil tertawa pelan. "Terus giliran mau pake baju apa aja nggak muat, terus dipecat deh sama Om Marcel."
"Nggak ada kontrak buat cewek tambun macam Tiara," ucapku sambil menirukan gaya Om Marcel.
Om Damar tertawa terkekeh. Tapi tangannya tak berhenti mengupas kulit lobster di hadapannya untukku. Hmm … dia memang manis. Aku bahkan nggak pernah diperlakukan secara spesial seperti ini. Dia memperlakukan aku seperti seorang putri.
Kutatap wajah tampan di depanku. Pria itu masih fokus dengan lobster di atas piring itu, hingga dia menyadari bahwa aku telah cukup lama memperhatikannya.
"Dia sangat beruntung," lirihku.
__ADS_1
Gadis cantik di dalam foto itu pasti sangat beruntung memperoleh cinta tulus seseorang seperti Om Damar. Tapi … kenapa mereka berdua tak bersatu pada akhirnya? Apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu mereka?
"Kenapa?" tanyanya. Sepertinya dia tidak jelas mendengar suaraku.
Aku hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalaku. "Nggak papa, Om. Cuman … aku sedikit iri pada gadis di dalam foto itu. Dia sangat beruntung mendapat cinta yang begitu besar. Tapi … kenapa kalian berdua tidak bersatu?"
Om Damar menatapku dengan wajah datar, tanpa ekspresi.
Aduh … lagi-lagi aku bicara hal yang nggak perlu. Mampus aku! Pasti dia marah sekarang! Aku juga merasa seperti sedang mempermainkan perasaannya, seolah mengaduk kembali kenangan lama yang telah terkubur di dalam samudera.
Ku angkat satu tanganku dan kulambaikan di depan wajahnya. "Om …. Om Damar nggak papa?"
Pria itu tersenyum kecut. "Dia lebih memilih pria lain," ucapnya. Sepasang tangan itu kembali menyibukkan diri dengan lobster-lobster di atas piringnya dan kembali meletakkannya ke atas nasiku.
"Sekarang kamu nggak perlu iri, kan? Karena cuma kamu yang jadi pemilik hatiku." Pria itu hendak mencubit puncak hidungku.
Aku segera menjauhkan diri. Tentu saja, siapa yang mau menjadi korban jari kotor berbumbu itu. Bisa-bisa bau amis makanan laut ini melekat kuat.
"Ish …. Om Damar!" kesalku dengan kedua alis bertaut. "Jorok ih!"
Malam sudah sangat larut ketika aku mulai mempersiapkan buku-buku untuk pelajaran besok. Ketika aku membuka tas ranselku, selembar kertas muncul dari dalamnya beserta sekumpulan foto-fotoku.
Aku kembali teringat kejadian sepulang sekolah tadi. Bagaimana bisa foto-foto tahun lalu, saat aku sedang membintangi sebuah iklan produk kaos remaja lokal, menyebar seperti ini?
Kubaca lembaran kertas itu, di dalamnya tertulis sebuah sajak dengan pena berwarna emas. Tulisan di atas kertas itu bahkan terlihat indah dengan lengkung-lengkung yang tertata apik.
Senja tak terlihat indah tanpa dirimu,
Semburat langit yang berwarna jingga
Semuanya hampa tanpa hadirmu,
__ADS_1
Satu kamu bagiku, yang terindah.
Ingin kulukis wajahmu di atas kanvas
Ingin kuukir namamu di dalam hati
Ingin ku genggam bersama asa
Ingin ku terbuai walau hanya mimpi
Dari seseorang yang hanya mampu
memandangmu dari kejauhan.
Ku lipat kertas itu dan menyatukannya dalam setumpuk foto lainnya. Siapa sebenarnya dia? Aku menggigit bibirku dan mulai berpikir siapa kira-kira orang yang melakukan hal memalukan ini?
Ah … sudahlah, selama dia cuma memandang dari jauh, itu berarti tak akan ada sesuatu yang buruk menimpaku. Jangan sampai kejadian Pak Seno terulang lagi. Aku nggak pernah berharap ada seseorang yang harus keluar dari sekolah hanya karena hal bodoh ini.
"Fokus Tiara! Waktu belajarmu sudah terpangkas habis oleh kontrak kerjamu. Jangan pikirkan hal nggak penting lainnya. Kamu harus fokus!" batinku sambil mengetuk sendiri keningku.
Suara dering ponselku tiba-tiba saja terdengar. Di layarnya berkedip sebuah nama. Mataku membulat membaca nama yang tertulis di atasnya.
Heh! Masa Depanku? Siapa yang seberani ini menggodaku, dengan menyimpan nomornya ponselnya menggunakan nama seperti ini?
Aku mengambil benda pipih itu dan menyeret tombol berwarna biru di layarnya. Dia … meminta panggilan video.
"Hai Masa Depanku …" ucapnya dengan ceria sambil melambaikan tangannya.
"Astaga," ucapku sambil menepuk keningku. "Ternyata kamu."
"Kenapa? Apa kamu mengharapkan seseorang yang lain?" tanyanya dengan seulas senyuman khas nya.
__ADS_1
Euuh … gimana nggak deg deg, setelah baca surat si penguntit itu, tahu-tahu ada panggilan video masuk. Ditambah lagi nama pemanggilnya 'Masa Depanku'. Gila aja kalau nggak kaget!
"Eeh … enggak sih, tapi …."