
Aku menjadi salah tingkah. Tentu saja ini semua gara-gara om Damar. Aih … Sekarang dia jadi senyum-senyum nggak jelas gitu. Kegeeran pasti, gara-gara ucapan om Marcel.
Kenapa gerakan tubuhku ini nggak bisa sinkron sih, sama otakku. Kesel deh. Kenapa juga aku main iya aja dapat pertanyaan seperti itu.
"Euuh … om Marcel. Kita langsung tandatangan kontrak aja, yuk." Aku segera berdiri cepat.
Tapi sesuatu yang terjadi benar-benar terlihat sangat konyol dan memalukan. Kenapa sih, om Damar ikut-ikutan berdiri. Kan … jadinya bibir aku nggak suci lagi nih. Apes banget sih, ciuman pertama kok sama om-om. Walaupun dia ganteng dan sekeren apapun, tapi kan ….
Om Marcel berdehem berulang-ulang seperti sedang menertawakan kami. Tentu saja menurutnya kami pasti sangat lucu. Tapi … ini benar-benar curang.
Om Damar menarik sudut bibirnya. "Makasih ya, ini hadiah buat tebak-tebakan tadi kan?"
Astaga, ngeselin banget sih. Dia sengaja nyuri ciuman itu apa nggak sih? Jangan-jangan … dia sengaja deh. Aku mencebik kesal.
"Mana ada hadiah yang diambil paksa. Itu namanya pencurian, Om," protesku. "Ah … Om Damar emang mau ngerusak feel ciuman pertamaku kan?"
Tiba-tiba pria itu meraihku, meletakkan kedua tangannya tepat di pipiku. Lalu mendaratkan ciumannya begitu saja, tanpa sebuah beban bahkan secuil keraguan.
Rasanya hangat saat sesuatu yang lembut itu menempel di bibirku. Dan entah kenapa jantungku seakan tak dapat terkontrol, seperti bergemuruh dan debarannya menjadi tak lagi teratur.
Aku mendorong tubuhnya dan bergeser menjauh. Kulihat sekelilingku. Heh! Kemana om Marcel menghilang? Kurasa ini semua mereka lakukan dengan sengaja. Sungguh membuatku kesal.
Kali ini aku tak lagi mengatakan protesku. Aku segera keluar dari ruang tamu itu, menuju ruang kantor om Marcel. Tentu saja aku nggak bisa biarkan om Marcel cuci tangan atas apa yang terjadi, ketika kliennya melecehkan modelnya.
"Om, kok jadi gini sih? Memangnya Tiara mau dikontrak untuk model iklan atau dibuat bahan pelecehan sih," protesku tepat ketika kedua kakiku berdiri di hadapan pria setengah baya itu.
Om Marcel tersenyum lebar. "Sebentar … sebentar, jangan marah gitu dong. Duduk dulu, kita ngobrol baik-baik."
Pria paruh baya itu meletakkan sebuah map berisi surat perjanjian kontrak. Aku membaca tiap poin yang tertulis di atas lembar-lembar yang banyak itu. Semuanya masih tetap sama seperti perjanjian yang pernah aku tandatangani dulu.
__ADS_1
"Aku akan tandatangani kontrak ini, asal om menjamin tak akan ada pelecehan seperti yang tertulis di romawi dua, poin empat titik dua." Aku menatap tajam wajah pria setengah baya di hadapanku itu.
Pria itu menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Perlindungan pada setiap modelku, itu pasti mereka dapat. Jangan khawatir, Tiara," ucapnya untuk meyakinkan keputusanku.
Ya udah deh, bagaimanapun nantinya, toh aku tetap bisa menuntut perlindungan dari agensi.
Tanpa berpikir lebih lama lagi, aku segera membubuhkan paraf di setiap lembar surat kontrak dan sebuah tanda tangan di atas sebuah materai di akhir kontrak. Selesai. Kutarik sudut bibirku untuk memperlihatkan seulas senyuman. Kuberikan surat kontrak yang sudah kububuhi coretan tanda persetujuanku pada om Marcel.
"Janji ya, Om. Tiara bakal minta perlindungan. Lagian … Tiara kan masih dibawah umur," ucapku menegaskan kembali salah satu isi surat kontrak tadi.
"Iya, kecuali …," ucapan om Marcel menggantung diselipi seulas senyuman yang seolah mengejekku. "Kecuali sang model menikmatinya."
"Om! Ish … kemarikan kontraknya, aku nggak jadi aja deh," kesalku.
Tapi dengan gesit pria setengah baya itu memasukkan dokumen yang sudah ditandatangani itu ke dalam laci mejanya.
"Nggak boleh, Tiara. Kamu harus profesional. Dokumen yang sudah kamu setujui harus dijalankan." Seulas senyuman mengembang di bibirnya. "Sama halnya dengan aku, aku pasti akan menepati semua perjanjian kita."
"Nggak usah dikejar." Suara itu terdengar di belakangku. "Dia nggak akan kemana-mana. Dia udah belasan tahun jadi penunggu gedung ini."
"Sialan kamu!" Pria setengah baya itu melemparkan bola kertas yang diremasnya sebagai pelampiasan kekesalannya. "Kamu ngatain aku hantu blau, gitu. Untung saja kamu klienku. Kalau bukan … habis, lah kamu," ucap pria setengah baya itu.
Om Damar tertawa terkekeh. Kedua tangannya mendarat di pundakku. Pria itu bahkan tak memperlihatkan emosi apapun tentang peristiwa yang baru saja terjadi. Seperti tak pernah terjadi apapun di antara kami, aku bisa menilainya dari derai tawa lepasnya.
"Jadi gimana Tiara? Sudah selesai penandatanganan kontraknya?" Om Damar mengalihkan topik pembicaraan kami.
"Sudah, sekarang aku mau …."
"Kita berangkat sekarang ya," ucapnya, memutus kalimat yang belum selesai kuucapkan.
__ADS_1
"Aduh," lirihku. Tentu saja aku tau, itu adalah sebuah kode bagiku, sudah waktunya kami nonton film premiere yang tadi dibicarakannya itu.
"Eh, mau kemana kalian?" Om Marcel menatap kami secara bergantian.
Aku mengerutkan sepasang alisku sebagai kode bagi om Marcel untuk menghalangi kepergian kami. Tapi sekali lagi aku salah.
"Udah … Om jaga gawang aja. Jangan sampai kebobolan, Om!" seloroh om Damar. Tangannya dengan cekatan menggamit tanganku keluar dari ruangan itu.
"Tapi Tiara nggak mau ikut Om. Tiara mau pulang," ucapku tegas.
Pria itu menatapku dengan kedua tangan memegang bahuku. "Aku yang membawamu keluar dari rumah, maka aku pula yang wajib mengantarmu kembali ke rumahmu. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu celaka selama berada di dekatku. Jadi … Tiara, tetaplah berada di sampingku."
"Astaga … apa kalian akan menjadi pasangan termanis abad ini?" Om Marcel mengatupkan kedua tangannya seolah sedang melihat sebuah adegan film yang mengharukan.
Astaga … apa-apaan ini? Termanis apanya? Gila yang ada! Apa dia sedang mencoba melamar menjadi pengawal pribadiku? Bener-bener gila! Untuk apa aku menerima pengawal mesum macam dia.
Aku melepaskan tautan tangannya di bahuku. "Ya udah, ayo kita pulang." Akhirnya aku menyerah.
Tak apalah aku mengalah kali ini. Lain kali aku akan pesan akomodasi dari aplikasi online saja, lah. Aku nggak mau alasan ini akan terulang dan terulang lagi.
Om Damar tersenyum penuh kemenangan. Wajahnya terlihat berseri-seri seperti seorang yang memenangkan undian.
"Film itu pasti kamu sangat menyukainya. Sutradaranya sangat terkenal," ucapnya saat mulai memutar kendali kendaraan beroda empatnya itu.
"Om, Tiara nggak mau nonton. Tiara cuman mau pulang," tolakku tanpa keraguan.
Om Damar menghela napas panjang. Kulihat dia mulai menata perasaannya agar tidak melampiaskan kekesalannya atas penolakanku.
"Tiara," ucap sang pemilik suara bariton itu dengan selembut mungkin. "Aku menyukaimu. Sejak pertama kali kita bertemu, aku jatuh cinta padamu. Aku mohon, beri aku kesempatan untuk menunjukkan perasaanku padamu."
__ADS_1
Deg!