
Di dalam wajan teflon itu terlihat irisan bawang bombay dengan bumbu racik berwarna kuning yang telah berpadu menjadi satu. Iya … memang nggak ada yang salah dengan itu.
Tapi … kenapa udang yang masih utuh dengan kepalanya dan telur ayam yang masih menyatu juga dengan cangkangnya itu ada di dalam sana? Apa dia bahkan tidak tahu bahwa dia harus mengupas semuanya sebelum memasukkan semua bahan ke dalam wajan?
"Stop … stop!" Kuangkat satu tanganku. "Matikan … matikan," perintahku untuk menghentikannya.
Walau dengan wajah yang terlihat heran, Om Damar tidak membantahku sama sekali. Dengan satu tangannya, pria itu menekan tombol off di kompor listriknya, untuk menghentikan aktivitas memasaknya.
"Kenapa?" tanyanya. Sepertinya dia cukup terkejut melihat kehadiranku dan reaksiku.
"Sudahlah, kita makan di luar saja," sahutku, tanpa keinginan menjelaskan apapun.
"Tapi …." Om Damar terlihat kebingungan karena permintaanku kali ini. "Kenapa? Ada apa ini? Apa ada sesuatu yang salah?"
Tentu saja dia merasa bingung karena aku yang semula menginginkan masakan penuh cinta, tiba-tiba berubah pikiran dengan mengajaknya makan di luar. Tapi … Tentu saja aku tidak mau lebih jauh merepotkannya dengan memintanya membuat sebuah masakan baru.
"Tidak, Tiara yang salah udah maksain Om buat makan siang. Tiara dah percaya. Om Damar beneran nggak bisa masak. Dan Tiara janji nggak akan maksa Om masak sesuatu buat Tiara." Aku berusaha menjelaskan alasanku tanpa menyinggung perasaannya. Bagaimanapun juga dia sudah berusaha membuatku bahagia dengan menuruti permintaanku.
Pria itu tersenyum tersipu-sipu. Dikembangkannya kedua tangannya dan merengkuhku dalam pelukannya. "Maaf, ya. Mungkin aku harus mengikuti kursus memasak terlebih dahulu untuk membuat sebuah menu untukmu."
Aku mengangguk pelan. "Mungkin sebaiknya … lain kali … Tiara yang masak buat Om," lirihku. Kurasakan sebuah kecupan lembut mendarat di keningku.
Tak berapa lama kemudian, kami telah berada di jalanan. Kali ini Om Damar kembali mengemudikan mobilnya sendiri. Sungguh membuatku heran, apa mungkin dia hanya memakai sopir sekali waktu saja. Lalu … apa tugas mereka saat Om Damar tidak memakai jasanya?
"Sopir yang tadi … kemana Om?" tanyaku spontan.
__ADS_1
"Aku nggak nyaman dengan seseorang mengemudi untukku," ucap pria itu mengatakan kembali alasan yang sama seperti yang pernah dikatakannya dulu.
"Tapi … tadi?"
"Tadi? Ah …," ucap pria itu sambil menggaruk puncak hidungnya. "Itu … karena aku tak mungkin membiarkan kamu dalam kesulitan terlalu lama. Aku mengerahkan beberapa tenaga keamanan dari perusahaan untuk pencarian itu." Pria itu sedikit menjelaskan tentang beberapa orang yang membantunya mencariku di sekolah.
"Ew … pasti Om tadi kaget, terima panggilan telpon dari aku," lirihku. "Maaf."
"Kenapa minta maaf? Kamu melakukan hal yang benar. Aku malah senang. Karena itu artinya kamu memikirkan aku. Bukan hanya itu, aku merasa dihargai sebagai kekasihmu, karena kamu bahkan mengandalkan aku. Aku senang karena setidaknya merasa dibutuhkan," sahutnya. "Dan tentu saja, aku akan menepati janjiku untuk menjagamu."
Iya sih, Om Damar terpikirkan setelah aku mencoba menelpon teman-temanku dan tak satu pun dari mereka yang merespon. Hmm … seandainya dia tahu dia bukan orang pertama yang kuhubungi, apa mungkin dia akan kecewa, ya? Ah … sudahlah, biar aku simpan sendiri kenyataan yang sebenarnya. Setidaknya biar Om Damar bahagia karena merasa dihargai.
"Jadi … kita mau makan apa nih?"
***
Aku mengangguk pelan.
Sore itu Shinta datang ke rumahku. Shinta sengaja datang ke rumahku, setelah mengetahui sesuatu telah terjadi padaku di sekolah tadi pagi. Dan tentu saja aku menceritakan semua kejadian pagi tadi padanya, dengan harapan dia akan memahamiku karena bagaimanapun juga kami sudah berteman lama.
"Kamu juga aneh. Ngapain juga kamu dateng pagi-pagi gitu? Emangnya mau bantu office boy ngepel sekolah?" Ungkap kesal gadis itu. Bukannya memahami, sebaliknya gadis itu menyalahkan aku.
"Ya enggak lah, Shin. Cuman, aku takut kalau…." Ucapanku terputus oleh suara tinggi Shinta.
"Apa? Darren lagi? Kamu sengaja menghindari Darren?" Nada suara Shinta masih terdengar tinggi. "Kamu itu tega, ya. Bukannya kamu bisa bilang baik-baik sama dia kalau nggak suka. Bukannya bikin dia kecewa dan sakit hati."
__ADS_1
"Wow … wow, sebentar. Tentang Darren, aku sudah berkali-kali bilang kalau aku nggak berniat untuk pacaran selama masih bersekolah. Kamu salah, Shin, kalau kamu anggap aku nggak bicara baik-baik sama dia."
Gadis itu mendesis kesal. "Jadi karena kamu nggak mau pacaran sama anak sekolahan, lalu kamu pacaran sama om-om, gitu?"
Aku menghela napas panjang untuk meredam perasaan kesalku. Sabar … bagaimanapun aku harus tetap tenang dan sabar.
Memang aku belum siap menjabarkan tentang fakta ini. Fakta tentang hubunganku dengan Om Damar. Aku harus mencari alasan lain agar Shinta tidak terus mempertanyakan tentang Om Damar.
Sebenarnya aku cukup merasa kesal juga, sih. Gimana nggak kesal. Shinta adalah sahabatku, tapi dengan terang-terangan dia membela Darren. Apa sebenarnya dia ingin menjadi "mak comblang" dengan menjodohkan kami berdua?
"Kamu udah cek panggilan telepon kamu tadi pagi?" tanyaku. "Aku sudah meminta bantuan kamu, juga bantuan Raka. Tapi … ponsel kalian berdua tidak bisa ku hubungi. Bahkan aku sudah berjuang hingga naik ke atas kursi untuk mencari sinyal. Hampir tidak ada sinyal yang menjangkau gudang itu."
Wajah Shinta masih menampakkan perasaan kesalnya.
"Aku mulai putus asa, bahkan aku tak berani menghubungi mamaku karena tak ingin membuat mama khawatir. Setelah semua pertimbangan, akhirnya aku meminta bantuannya," jelasku dengan detail.
Shinta menundukkan kepalanya. "Maaf, aku meninggalkan ponselku di mobil pagi tadi. Dan Raka … ah sudahlah. Kamu tahu pasti dia nggak bisa terlalu diharapkan."
Aku menghela nafas lega. Syukurlah, dia bisa menerima alasanku, walau mungkin alasan Shinta menanyakan semua itu sama sekali berbeda. Aku yakin, pasti banyak gosip yang mulai beredar di sekolah tentang pria matang yang membopongku tadi pagi.
"Semua siswa sibuk membicarakan kalian berdua. Kamu dan om-om yang terlihat membopongmu keluar dari ruangan itu." Shinta menyampaikan kabar berita yang terjadi di sekolah. "Ra, tentang kamu dengan pria itu … apa kalian mempunyai hubungan selain …."
Glek!
Aku menelan kasar salivaku. Sepertinya aku kembali gagal untuk mengalihkan pembicaraan ini. Tapi perlu nggak, sih … perlukah aku menceritakan hubunganku dengan Om Damar?
__ADS_1
Tapi … gimana seandainya dia menganggapku bukan gadis baik-baik. Bagaimana kalau setelah semua itu, dia membocorkannya di sekolah, lalu sekolah akhirnya mengeluarkan aku karena kesalahpahaman ini?
"Dia siapa, Ra? Apa dia kekasihmu?" Gadis itu segera menghujaniku dengan banyak pertanyaan sekaligus. "Katakan padaku, Ra. Apa dia kekasihmu?"