
"Aku rasa … Darren … hanya merasa cemburu. Mungkin karena dia mengenal siapa pria yang sedang menjadi saingannya," ucap Shinta. "Sudahlah, apapun yang akan jadi putusanmu, aku pasti akan dukung."
Ada perasaan lega dalam hatiku setelah mengatakan beberapa kebenaran yang tidak diketahuinya. Sejak disibukkan dengan acara-acara pemotretan iklan, kuakui bahwa kami tak sedekat dulu. Mungkin karena waktuku banyak terkuras oleh acara itu.
Aku mengangguk pelan, kutarik sudut bibirku untuk memberinya seulas senyuman.
"Ehm … tentang Darren. Aku …."
"Hanya kamu yang bisa memperbaiki suasana hatinya, Ra," sambung Shinta tanpa memberiku kesempatan.
Mau tidak mau, aku kembali mengangguk pelan. Aku harus mencari cara agar Darren bisa kembali seperti semula. Tentu saja masih tetap dalam tatanan prinsip yang sudah ada. Aku tak akan pernah mengubahnya.
Bulan tak tampak di langit. Sebaliknya gemerlap bintang terlihat di atas sana. Ditambah dengan kerlip lampu kota yang seakan menggambar garis cakrawala, membatasi antara bumi dengan langit. Kerlip yang terlihat indah bak intan permata yang terserak begitu saja.
Terlihat banyak pasangan muda mudi duduk di atas kursi cafe, menikmati secangkir minuman hangat sambil menikmati keindahan panorama sekitarnya.
Lampu-lampu gantung terlihat semakin membuat suasana outdoor cafe itu terlihat semakin meriah. Ditambah dengan suara musik lembut nan harmonis khas yang membuat suasana semakin terkesan romantis.
Kutangkap lengan pria muda yang sedang menggerakkan tangannya untuk menuang susu ke dalam cangkir kopi di depannya. Gambar susunan hati yang sengaja dibuatnya dalam cangkir itu pun menjadi kacau.
"Ren, dengerin aku," pintaku.
"Ra, plis … jangan ganggu aku," ucap pria muda itu.
Seorang pria lainnya terlihat mulai terganggu dengan kehadiranku. Dia mendecak kesal. Matanya menatap tajam ke arah kami berdua.
"Urus teman-teman kamu dulu, setelah itu kamu boleh bekerja kembali," perintahnya.
__ADS_1
Hmm … mungkin saja dia adalah pemilik cafe ini. Sikapnya begitu tenang, eh … bukan, dingin. Dia terlihat seperti tidak mempunyai perasaan. Bahkan dia mempekerjakan pelajar SMU tanpa ijin dari orang tuanya.
Pria itu memberikan kode pada seorang pramusaji, sepertinya dia yang akan menggantikan peran Darren. Baguslah! Setidaknya si kulkas itu memberiku kesempatan untuk bicara dengan Darren.
Darren meletakkan semua benda di tangannya dan dengan acuh mencuci tangannya.
"Kita pulang sekarang, yuk! Kami semua cemas karena kamu nggak pulang ke rumah." Aku menunjuk Raka dan Shinta yang menunggu di luar.
Darren melangkah keluar sementara aku dengan tertatih mengikuti langkahnya dari belakang. Tiba-tiba dia berbalik dan menatapku dengan tajam.
"Ra, kamu lihat kan. Aku bekerja di sini," ucapnya. Sepasang tangannya memegang kedua pundakku. "Seperti yang pernah kamu bilang, kamu nggak mau pacaran selama masih sekolah, selama itu masih pake duit orang tua. Tapi … sekarang aku sudah bekerja. Kasih aku waktu, Ra. Aku bakal buktiin kalau aku layak jadi pacar kamu."
Aku bergeming menatap sepasang mata penuh kesungguhan itu. Pikiranku semakin kacau mendengar kalimat yang diucapkannya. Semua ini kesalahanku. Tak seharusnya aku mengatakan hal konyol seperti itu hanya sebagai alasan penolakan. Seharusnya aku sadar, bisa saja dia nekad mewujudkan ucapanku.
Ini bukan hal yang baik. Jika dia bekerja sepulang sekolah hingga larut malam, bagaimana dengan pelajaran sekolahnya? Bahkan kami sudah berada di semester akhir menjelang kelulusan. Ini sama sekali bukan sesuatu yang baik! Aku akan semakin merasa bersalah jika dia nggak lulus hanya karena kekonyolan ini.
Perlahan kutarik sudut bibirku, memberinya seulas senyuman canggung padanya.
Pria muda itu menghela napas sebelum kembali berbicara. "Hukuman terberat dariku?"
Aku mengangguk pelan. "Kamu sudah membuatku merasa menjadi orang paling bersalah, Ren," gumamku lagi.
Kali ini aku melihat seulas senyuman manis di bibirnya. Pria berkulit putih itu terlihat manis dengan mata sipitnya saat tersenyum. "Maaf. Aku hanya ingin memperjuangkan cintamu. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan itu."
Kali ini tanpa kusangka, Darren menarik tangannya yang masih berada di pundakku, membuatku mendekat dan memelukku dengan erat. "Aku tak mau kehilangan kamu, Ra. Kamu adalah cinta pertama dalam hidupku."
Clap! Clap! Clap!
__ADS_1
Suara tepukan tangan terdengar di sekitar tempat itu. Bukan! Bukan hanya dari Raka dan Shinta. Ternyata semua orang yang sedang menikmati malam itu juga sedang mengamati kami.
Cepat-cepat aku melepaskan diri dari pelukannya. Dih … main peluk aja. Mana di depan umum pula. Ah …!
Astaga! Ini benar-benar memalukan. Aku rasa mereka semua bahkan mendengar semua kalimat yang diucapkan oleh Darren. Terbukti rekan kerja yang sedang menggantikannya di meja bartender tersenyum dan memutar kembali volume musik ke setelan semula.
Kurasakan wajahku yang menghangat. Aku menunduk, berusaha menyembunyikan wajahku. Seandainya saja aku bisa lari dan bersembunyi ….
"Kita pulang, yuk. Besok ada penilaian fisika. Aku nggak mau kamu dapat nilai jelek," ucapku kali ini dengan sungguh-sungguh. "Jangan bikin malu."
Darren terlihat mulai bisa tersenyum lebar. Sepertinya aku berhasil membuatnya pulang kembali ke rumahnya. Hmm … walau aku nggak tahu bagaimana harus mengambil sikap padanya di masa yang akan datang.
Darren memang sempurna sebagai seorang kekasih. Tapi … entah kenapa aku lebih mencintai Om Damar. Walaupun jarak usia kami terpaut cukup jauh, tapi pesonanya tak bisa kotolak. Bersamanya, aku merasa bisa lebih menikmati hidup.
Ah … sudahlah, sebaiknya kujalani saja semua apa adanya. Selebihnya biar Tuhan yang menentukan.
Aku melihat pria muda itu telah melepas apron coklatnya. Perlahan dia menghampiriku. Tangannya menaut jemari tanganku, menggandengku pergi meninggalkan cafe yang terletak di atas perbukitan itu.
***
"Mereka diskors?" Sepasang mata Darren membulat ketika Shinta memaparkan gosip yang didengarnya di kantin siang itu.
"Iyalah! Sudah sepantasnya tiga preman itu diskors!" seru Shinta. "Kamu tahu, kaki Tiara sampe cedera gara-gara cari sinyal di ruangan itu."
Mendengar semua itu hatiku terasa gelisah. Jika mereka bertiga diskors, bisa-bisa mereka bertiga nggak lulus. Dan semua itu hanya gara-gara si Ricky!
Heran! Apa sih yang mereka lihat dari si Ricky? Kenapa sampai begitu tergila-gila seperti itu? Apa hanya karena titel kapten basket sekolah kami saja bisa membuat tiga gadis itu berbuat barbar padaku?
__ADS_1
Tanpa sadar aku telah menatap Ricky yang duduk di meja nun jauh di sana. Pria muda itu tersenyum nakal dan melambaikan tangannya padaku. Sontak mataku membulat dan segera kualihkan pandanganku.
Haish! Apa aku sudah gila?