Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Kehebohan Si Tukang Tagih


__ADS_3

"Apa kamu buat masalah lagi?" tanya Bu Hartini sesaat setelah melihat kami di depan pintu ruangannya.


"Eh, kami cuman datang terlambat Bu."


"Tadi angkotnya mogok."


"Kami sudah berlari secepat mungkin."


"Stop! Stop. Bicaranya gantian." Bu Hartini tampak kesal mendengar ucapan kami yang silih berganti. Aku rasa dia pusing mendengar alasan yang kami ucapkan bahkan dalam tempo yang bersamaan.


Mendengar suara tinggi yang diucapkan oleh kepala sekolah kami itu, nyaliku menciut dan aku pun diam tanpa keberanian untuk menjawab. Aku tak mungkin mempersalahkan Kevin sepenuhnya, lagi pula aku tak tega jika harus melihat Bu Hartini menghukumnya.


"Kami naik angkot, tapi kami berhenti lumayan jauh dari sekolah. Karena itulah kami terlambat, Bu," terang Kevin pada akhirnya.


"Apa benar yang dikatakan Kevin, Tiara?" tanya Bu Hartini sesaat kemudian.


"Euh .... Benar Bu," sahutku. "Sebenarnya Kevin terlambat gara-gara aku. Seandainya tadi aku bisa berlari lebih cepat."


Bu Hartini menghela napas, matanya melirik kakiku.


Aku rasa semestinya dia mulai mempertimbangkan untuk tidak memberikan skorsing bagi kami. Bagaimanapun ini bukan kesengajaan.


Bu Hartini mengerutkan keningnya, sepertinya dia meragukan ucapanku walau itu adalah kenyataan yang telah terjadi. Kevin memang ngeselin, tapi dia tidak meninggalkan aku sama sekali.


Namun tak lama kemudian, wanita paruh baya itu mencoret-coretkan penanya di atas selembar kertas. Setelah membubuhkan tandatangannya, Bu Hartini pun menggesernya ke arahku.


"Kamu boleh kembali ke kelas."


***


"Hah! Jadi tadi pagi kamu terlambat, Ra?" ulang Darren seolah tak mendengar dengan jelas perkataanku.


"Iya, tapi... untung saja, Bu Hartini lagi baik hati. Jadi aman, aku bebas rompi kali ini," sahutku lega.


"Hush! Ngawur, justru dia hari ini tak enak hati. Uring-uringan. Kabarnya ada anak pindahan sekolah lain. Dan... anak itu biang masalah. Kabarnya Bu Hartini nolak, tapi sepertinya dia nggak bisa melawan dewan sekolah." Shinta segera menyampaikan hasil pantauannya yang hampir tak pernah meleset itu.


"Hah! Biang masalah?" tanya Raka menegaskan inti pemberitaan Shinta.


"Iya, aku dengar sih, dia itu pindah ke sekolah ini karena ...." Shinta menggaruk kepalanya.


"Karena ketombe? Atau karena kutuan?" sahutku sengaja menggodanya.


"Hish! Bukan!" Shinta menepuk lenganku dengan gemas. "Ada masalah apa gitu. Dan kabarnya sih, dia sekarang tinggal sama keluarga omnya di perumahan apa gitu."


"Dia tinggal di dekat rumah aku. Kami tetanggaan." Aku melihat gadis yang biasa membantu ibu kantin berjalan ke arah kami. Sepasang tangannya memegang nampan berisi mangkok bakso pesanan kami.

__ADS_1


"Serius?" tanya Shinta.


Kuanggukkan kepalaku. "Dia baik kok, nggak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Ah ... Syukurlah. Tapi, kamu mesti tetap berhati-hati, loh Ra." Shinta terlihat cemas.


"Tenang, tenang." Darren mengangkat kedua tangannya. "Tenang semuanya. Selama ada Darren di samping Tiara, semua akan aman terkendali."


Aku menggelengkan kepala sambil tertawa kecil. "Astaga, Ren. Apa-apaan sih kamu?"


"Mulai saat ini, kamu nggak boleh keluar rumah sendiri. Aku yang bakal antar dan jemput kamu ke mana pun, titik!" ucap Darren layaknya seorang suami yang posesif.


"Loh ... Loh. Kenapa aku jadi seperti tahanan gini sih?" kesalku.


"Ren, memangnya kamu dah punya ilmu membelah diri, macam amoeba gitu? Kan kamu juga ada kerjaan. Mana bisa jadi pengawal pribadi Tiara?" sambung Shinta mendukung perkataanku.


Sekarang ganti Darren yang menggaruk kepalanya. "Bener juga sih."


"Dah ... Udah! Ayo baksonya dimakan dulu." Raka menyodorkan mangkok berisi bakso ke masing-masing hadapan kami. "Keburu dingin, nanti kalo nggak enak pada nggak mau bayar."


Lelaki muda itu tersenyum sambil mengerlingkan matanya pada gadis yang masih menurunkan mangkok terakhir bakso di atas nampannya itu. Gadis itu membalas senyuman Raka dengan canggung sebelum pergi meninggalkan kami.


"Dasar! Playboy cap kutu kupret," kesal Shinta sementara jari tangannya yang ramah, langsung mendarat di telinga Raka.


"Aduh! Duh!" teriak Raka sambil cekikikan. "Abisnya kamu terus-terusan gantung perasaan aku, Shin. Udah kering ini jantung hatiku, mirip ikan asin."


***


"Kamu pulang aja, Ren. Aku nggak apa-apa, kok," usirku yang mulai tak nyaman diikuti. "Toh kamu harus istirahat sebelum kerja nanti."


Lelaki muda itu tersenyum, "Nggak papah. Yang penting kamu selamat."


"Udah sana pulang, gih!" usirku sekali lagi. "Kita ketemu lagi besok."


Akhirnya lelaki muda itu menyerah. Dikedikkannya pundaknya sebelum menaiki motornya. "Yakin kamu nggak mau kuantar?" tanyanya sekali lagi.


Aku tersenyum dan menjawabnya dengan jelas. "Terima kasih."


Tentu saja aku tidak bisa terus terusan memberikan harapan palsu ataupun memanfaatkannya. Rasanya sungguh tidak manusiawi melakukan hal seperti itu. Dan aku bisa membayangkan jika aku yang diperlakukan sedemikian. Pasti sangat menyakitkan.


"Neng, taxi Neng!" Suara itu tiba-tiba saja terdengar di belakangku.


Aku segera menoleh ke samping, ke jalanan beraspal di sebelahku. Kulihat sebuah mobil yang melaju perlahan dan pengendaranya melongokkan kepalanya keluar dari jendelanya.


Kutarik sudut bibirku membentuk senyuman yang lebar saat mengetahui siapa pria di dalamnya. "Om Damar!"

__ADS_1


Lelaki itu tersenyum lebar. "Ayo, aku antar pulang," ajaknya.


Cepat-cepat aku masuk ke dalam mobilnya dan memasang sabuk keselamatan. "Kok tumben Om lewat daerah ini?"


"Sengaja," sahutnya cepat. "Sengaja mau ketemu sama kamu."


"Heh! Baru juga kapan kita ketemu."


"Aku malah maunya ketemu kamu tiap hari, Sayang." Lelaki itu kembali tersenyum, tanpa meninggalkan fokusnya pada jalanan beraspal di depannya. "Eh iya. Apa kamu sudah dihubungi lagi sama Om Marcel?"


"Tentang apa Om?" tanyaku.


"Tentang pembuatan iklan yang baru," sahutnya.


"Belum, sih. Ada apa ya Om?"


"Tunggu saja, biar Om Marcel yang jelasin ke kamu."


Suara alunan musik yang lembut dan hembusan pendingin udara yang menyentuh kulitku, membuatku merasakan kantuk. Apalagi udara di luar yang terasa terik sedari tadi menyengatku.


"Tidur saja sebentar, kalau sampai nanti aku bangunkan." Om Damar sepertinya memperhatikan aku dari sela konsentrasinya mengemudikan mobilnya.


Dan benarlah, sesaat setelah aku sampai di depan rumahku, lelaki itu membangunkan aku. Aku dapat merasaakn tangannya menyentuh lembut rambutku dan membiarkan aku tersadar dengan perlahan.


"Kita sudah di depan rumahmu," ucapnya dengan lembut. "Apa kamu masih ingin tidur sebentar lagi? Apa aku harus berputar satu kali lagi?"


Kuregangkan tanganku sejenak. Tidur selama beberapa menit sudah cukup membuat mataku sedikit segar.


"Nggak usah, Om. Tiara turun sekarang."


Aku hendak turun dari mobil itu saat sepasang mataku melihat sebuah motor matic yang terlihat asing bagiku. Apa mama sedang menerima seorang tamu?


Baru saja aku menutup pintu mobil, tampaklah seorang wanita dengan tubuhnya yang subur keluar dengan wajah ppenuh amarahnya.


"Aku sudah bersabar, Nilam! Ini sudah lewat jauh dari tengat waktu!" teriaknya dengan kencang. "Minggu depan, jika kamu belum juga membayarnya, kamu harus keluar dari rumah ini."


Wanita itu semakin dekat denganku yang sedang melangkah masuk.


"Nah! Kamu!" Tiba-tiba wanita berbadan bongsor itu megarahkan telunjuknya padaku. "Kamu! Bukannya kamu seharusnya bisa bantu ibu kamu cari duit! Sudah sebesar ini juga."


Sepasang mata itu melotot seperti mau lepas. Bahkan salivanya menyembur lepas saat berbicara dengan kasar.


"Nilam! Kau jual saja anak gadismu ini, bahkan membesarkan seekor sapi saja bisa menghasilkan uang jutaan rupiah dalam beberapa tahun!" teriaknya lagi.


Namun tiba-tiba mamaku keluar dari dalam rumah. Tangan kanannya membawa sebuah panci teflon yang siap untuk dipukulkan "Jeng Vivin! Ini urusan saya dengan Jeng Vivin. Saya tidak terima kalau Jeng menyangkut pautkan semua ini dengan Tiara!"

__ADS_1


"Heh! Apaan ini, kenapa kamu yang lebih galak dari aku!" teriak wanita itu sembari menarikku sebagai tameng di antara mereka.


__ADS_2