Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Robin Morgan


__ADS_3

Pria itu meraih wajahku, menaikkan daguku dan menatapku dengan wajah serius. Dengan cepat aku menutup jerawat yang bertahta dengan elegannya di ujung hidungku. Aih … ini benar-benar memalukan!


Om Damar mengerutkan keningnya, seperti dia tak suka melihatku menutupi sesuatu darinya. Perlahan aku menurunkan tanganku, memperlihatkan sesuatu yang ingin kusembunyikan darinya. Jerawat!


Tapi hal yang tak kuduga terjadi. Dia sama sekali tidak marah, melainkan tersenyum. Seulas senyuman yang membuatku merasa sangat tenang. Tentu saja, selama dia mengatakan semuanya oke, maka semuanya akan baik-baik saja. 


"Untuk apa kamu tutupi? Jerawat adalah sesuatu yang manusiawi. Kecuali kamu adalah sebuah patung porselen," ucapnya. "Apa kamu tahu, kamu terlihat semakin imut dengan jerawat itu." 


Pria itu menarik sudut bibirnya. Aku sangat memahami, semua itu dikatakannya hanya untuk menghiburku. Tidak lain dan tidak bukan, dia tidak ingin aku merasa tertekan dengan adanya jerawat itu. 


Aku menarik sudut bibirku, menciptakan sedikit lengkung senyuman untuknya. Nggak ada lagi yang perlu kucemaskan selama Om Damar tidak mengatakan sesuatu apapun. 


Suara dehem terdengar, sepertinya Om Marcel sedang memberikan kode pada kami. Mungkin saja dia merasa terabaikan kehadirannya karena Om Damar yang langsung menyapaku, bahkan tidak menyapanya. Seolah hanya aku yang ada di sana.


Tepat saat itu suara ketukan terdengar. Kulihat wajah Kak Elsy menyembul dari balik pintu. "Robin sudah datang," ucapnya gadis berkulit hitam manis itu. 


Namun belum sempat Om Marcel memberikan tanggapan, seorang pria muda menyeruak masuk ke dalam ruangan itu. Seorang pria muda berwajah blasteran dengan kulit bersih, rahang tegas khas asia itu menampakkan diri di hadapan kami. Di belakangnya seorang pria berusia matang berusaha menahannya untuk masuk.


"Robin, biar aku saja yang menangani semua ini," ujar pria itu. Tapi tangannya ditepis begitu saja oleh pria muda itu. 


"Nggak … nggak perlu. Aku bisa tangani ini semua sendiri," ucapnya dengan arogan. Ditatapnya semua orang yang hadir di ruangan itu satu demi satu dengan penuh rasa percaya diri. 

__ADS_1


"Om Marcel. Apa ini yang disebut dengan etika bisnis? Ketika Om Marcel sudah mengajukan kontrak kerja sama denganku, dan kita sudah menyetujuinya, tiba-tiba Om mengalihkannya pada orang lain. Ah … sebenarnya bukan orang lain, tapi adikku sendiri," protes pria muda itu. 


Hah! Jadi … Robin Morgan adalah kakak Darren! Jadi … dia yang selama ini ingin ditemui oleh Shinta. Tapi satu hal yang pasti, walaupun keduanya adalah saudara sekandung, kedua pria muda itu mempunyai dua kepribadian yang berbeda. 


Bukan … bukan karena aku adalah teman dekat Darren lalu aku melebih-lebihkan sifatnya. Tapi memang semuanya terlihat berbeda. Darren yang kukenal tertutup, anti kamera, lebih suka menyendiri dan seorang gamer. Sangat bertolak belakang dengan pria arogan di hadapanku ini. 


Pria muda itu kini mengarahkan pandangannya kepadaku. Tatapan matanya begitu tajam seolah menghakimiku. Aku mengalihkan pandanganku kepada Om Damar, meminta perlindungan sebelum sebuah kalimat terlontar dari mulut pemuda itu. 


Tapi Om Damar terlihat begitu tenang. Dari wajahnya tak ada perasaan gentar sekalipun. Malah sebaliknya ada seulas senyuman terlihat di sana. Aku rasa Om Damar sudah mempunyai sebuah rencana. 


"Kamu …" katanya sambil mengarahkan telunjuknya kepadaku. Mataku membulat, bukan hanya terkejut mendengar semua kenyataan ini tapi juga terkejut karena tak tahu apa kesalahanku hingga dia juga marah terhadapku. "Iya kamu! Kamu 'kan, yang meminta Om Marcel menggantikan kontrakku dengan orang lain?" 


Aku menoleh pada Om Marcel. Kulihat pria setengah baya itu bertumpu tangan dengan satu tangan menopang dagunya. Tidak ada sebuah reaksi sedikitpun, seolah sedang berpikir keras akan untuk sebuah jawaban.


"Boleh aku bertanya, apa kamu menepati semua perjanjian dalam kontrak? Apa kamu datang pada hari yang telah dijadwalkan? Apa kamu sudah melakukan semua kewajibanmu?" Rentetan pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Om Damar. 


Kini pria muda itu menatap tajam ke arah Om Damar. Kedua alisnya bertaut dan bibirnya terbuka dengan wajah frustasinya.


"Setidaknya aku berusaha menepati kontrak itu dengan menyelesaikan dulu kewajibanku yang lain. Tapi …." Pria muda itu menghempaskan tangannya dengan putus asa. "Kalian bahkan telah menggantikan posisiku. Aku Robin Morgan! Apa aku tidak pantas untuk mendapat kesempatan itu dibandingkan dia yang bahkan sama sekali baru di bidang ini." 


"Seandainya profesimu adalah seorang dokter, lalu datang seorang pasien yang sekarat. Mungkinkah rumah sakit menunggu kedatanganmu dan tidak memanfaatkan dokter lain yang berjaga?" sahut Om Damar dengan tenang. 

__ADS_1


"Dalam hal ini tidak ada yang sekarat! Tidak ada yang akan mati jika pemotretan ditunda dalam beberapa hari ke belakang," sanggahnya tak mau kalah. 


"Aku membutuhkan iklan itu secepatnya, karena minggu depan sebuah produk baru akan diluncurkan. Menunggu seorang artis yang tidak profesional sepertimu, tentu saja akan sangat membuang-buang waktu berhargaku," sahut Om Damar menanggapi ucapan pemuda itu.


Om Damar terlihat dingin saat mengatakan hal itu. Dia tampak sangat berbeda jika sedang berdua denganku. Wajah tampan yang penuh senyum itu sama sekali tak tampak. Hanya wajah tegas dan rahang keras itu saja yang tersisa di sana. 


"Robin, ayo kita pulang. Percuma, kita sudah kehilangan kontrak itu," rayu sang manager, berusaha menyadarkan Robin yang masih bersikeras bahwa semua tindakannya adalah benar. 


"Dia benar! Kamu hanya mempermalukan diri, jika berbuat seperti ini." Om Marcel yang sejak tadi diam sebagai pendengar, akhirnya seperti mendapatkan angin segar. Dia pun  memberanikan diri untuk menjawab. 


Seperti tersulut oleh api, pria muda itu pun mulai marah. Dia menepis tangan managernya. Kini matanya kembali menatapku. "Katakan padaku, kenapa harus Darren? Apa kamu sengaja ingin kami berdua bertengkar karena hal ini?"


Aku meneguk salivaku dan baru saja akan menjawab, ketika tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Muncullah wajah seorang pria muda berkulit pucat itu dari sana.


"Sorry … sorry, aku terlambat …" ucapnya sebelum menyadari kehadiran Robin di sampingnya. 


Mata pria muda itu membulat. "Koko! Kenapa ada di sini?" serunya karena terkejut. 


Sesaat kemudian Darren melihat sekelilingnya. Dia terlihat seperti kebingungan mengamati suasana yang terlihat tegang di antara mereka. "Apa aku sudah melewatkan sesuatu?"


"Mereka hanya segerombolan penipu. Ayo kita pulang!" Robin menarik tangan Darren untuk mengajaknya pergi dari tempat itu. 

__ADS_1


"Penipu? Apa maksudnya?" Darren menghempas tangan kakaknya, seolah menunjukkan sikap berontak untuk dikemudikan oleh saudara tuanya itu. "Apa mereka sudah menipu Koko?"


"Jaga ucapanmu, Robin! Atau aku akan menuntutmu dengan tuduhan pencemaran nama baik!"


__ADS_2