
Apa dia bilang? Dia sudah menemukan gadis idamannya. Itu artinya dia sudah mempunyai kekasih. Hmm … sepertinya aku salah menilainya. Seorang pria yang sudah mempunyai kekasih, kenapa malah mendekati bahkan berani merayuku. Sepertinya dia sebangsa buaya darat, deh!
"Ish! Om Damar kalau udah punya pacar, kenapa nggak ajak pacarnya aja, buat nonton film ini? Kenapa harus sama Tiara sih?" tanyaku dengan nada heran. "Atau sebenarnya Om Damar nggak bisa dengan satu gadis, ya? Semacam kadal padang pasir gitu," ledekku.
Pria itu tertawa memamerkan deretan giginya yang masih tampak di ruangan studio yang gelap ini. Tangannya kembali mengacau puncak kepalaku.
"Kapan aku bilang kalau aku punya pacar? Apa menurutmu aku tampak seperti seorang don juan? Ada-ada aja," ucapnya sambil tertawa.
"Dih, jadi gadis idaman itu cuman bohongan aja, gitu?" sahutku.
Om Damar menghela napas. Pandangannya kembali ke layar lebar di hadapannya. "Satu hal yang pasti, aku pernah jatuh cinta pada seorang gadis. Dan sepertinya aku terjebak dengan perasaanku sendiri sehingga tak bisa jatuh cinta lagi."
Aaah …. Nggak aku sangka, ada juga pria dengan cinta mati seperti ini. Selama ini kukira semua itu hanya ada di film saja. Jadi penasaran deh, seperti apa sih gadis cinta matinya itu? Hmm .... Gimana sih rasanya jatuh cinta itu?
Ketika aku sibuk dengan pikiranku sendiri, tiba-tiba pria itu menggenggam tanganku.
"Lalu aku bertemu denganmu. Aku merasa jantungku kembali berdetak. Aku yang telah lama mati rasa terhadap segala jenis wanita, seakan bangkit kembali," ucapnya. Sepasang mata itu menatapku seolah mencari tahu tanggapan atas pernyataannya itu.
Aku menggigit bibirku. Rasanya masih tak bisa kupercaya. Dia seorang pengusaha muda yang tampan. Sudah pasti banyak wanita yang mengincarnya. Tapi … kenapa harus merasa jatuh cinta kepadaku?
Kutarik kembali tanganku. "Ki-kita hanya teman, kan?" tanyaku dengan suara lirih. Entah kenapa tenggorokanku seakan tercekat. "Aku masih harus menyelesaikan sekolahku, Om."
"Aku akan selalu mendukungmu. Ijinkan aku untuk tetap di sampingmu, menemanimu tumbuh menjadi seorang wanita hebat."
__ADS_1
Astaga … ini akan semakin rumit.
"Lihat! Dia benar-benar akan mengorbankan dirinya." Dengan sengaja aku mengalihkan percakapan kami. Tentu saja itu karena aku tak tahu bagaimana harus menjawab permintaannya itu.
Dalam film itu diceritakan bahwa sang protagonis pria sedang mencoba menyelamatkan gadisnya dari tawanan musuhnya, seorang pria yang mempunyai dendam kesumat pada masa lalu sang pemeran utama.
"Aku harap film ini akan berakhir bahagia," ucapku. "Lihat, dia sudah berhasil mengeluarkan gadisnya dari tempat itu. Tapi …. Kenapa dia tidak ikut pergi bersamanya?"
"Dia ingin menyelesaikan semuanya, agar masa lalu tidak membayangi masa depannya kelak." Om Damar menjelaskan padaku logika pikiran protagonis pria melakukan aksinya.
Sejenak kami terdiam mengamati semua rangkaian peristiwa dalam layar lebar di hadapan kami. Terlihat adegan demi adegan heroik yang memukau. Dan ….
"Astaga, apa sutradaranya akan membuat pria itu mati!" kesalku. Tentu saja aku lebih suka akhir yang bahagia dalam setiap cerita. Aku membenci akhir sedih yang pasti akan menguras air mataku.
"Nggak semua yang kita harapkan akan tercapai, Tiara. Sekuat apapun manusia berusaha, tetap Tuhan yang menentukan." Om Damar kali ini terdengar bijak.
Aku mengusap cairan hangat yang bergulir begitu saja di pipiku. Tiba-tiba pria itu mengulurkan tangannya dan memelukku dengan erat. "Sssh …. Sssh …. Jangan sedih, itu cuma film, kok."
Perlahan cahaya redup ruangan menyala, sebuah tanda bahwa film itu telah selesai tayang.
Tapi rasanya begitu lega setelah menumpahkan segala kesedihanku tadi. Aku selalu berusaha terlihat ceria dan tegar di hadapan semua orang, terutama mama. Cukup sudah kesedihannya menjadi seorang single parent semenjak papa meninggal. Aku tak perlu membuatnya semakin sedih dengan memperlihatkan keterpurukanku.
Malam itu aku kembali tak bisa tidur. Semua kejadian yang kualami sepanjang hari itu, kembali bermain di kepalaku. Tentang ciuman pertamaku yang terenggut tanpa suatu kesengajaan, tentang kejadian di lift sore tadi yang benar-benar mendebarkan, juga tentang pelukannya saat di dalam gedung pertunjukan.
__ADS_1
Kenapa emosiku dengan begitu mudahnya berganti dengan cepat saat bersama dengannya. Kemarahan, kesedihan, kegelisahan dan kebahagiaan seakan bergulir begitu cepat tanpa bisa kukendalikan.
Pria itu satu-satunya yang berhasil mempermainkan emosiku. Selama bersama dia, hidupku terasa berwarna.
Tapi … benarkah dia benar-benar belum mempunyai kekasih? Wajah tampan, pekerjaan yang mapan. Sulit untuk dipercaya kalau dia belum memiliki kekasih.
Ah … kenapa aku terus memikirkan dia.
Kupegang dadaku. Kurasakan detakan jantungku yang begitu kencang. Bahkan memikirkan dia saja, membuatku berdebar.
Lupakan, Tiara! Lupakan dia. Kamu nggak pantas untuk dia. Bagaimana jika suatu saat kekasihnya datang dan marah padamu! Om Damar nggak mungkin benar-benar jatuh cinta padamu.
Aku berbalik dan menelungkupkan wajah di atas bantalku.
Pagi itu aku kembali bangun kesiangan. Semua ini karena om Damar. Alih-alih melupakannya, semalaman aku tidak bisa tidur lagi karena terus memikirkan dia.
"Mama, aku berangkat dulu!" pamitku sambil menyambar roti isi daging asap di atas piring saji.
"Tiara, hati-hati!" Suara mama masih sempat kudengar saat aku menutup pintu rumah.
Kugigit dan ku kunyah dengan cepat roti lapis buatan mama sambil berlarian keluar dari rumah.
Celaka! Jika aku tidak cepat menemukan angkot hari ini, maka hukuman sekolah harus kuterima. Astaga, bisa kubayangkan betapa malunya aku, jika harus memakai rompi kuning hukuman tatib sekolah. Dan betapa capeknya hukuman lain yang harus kuterima.
__ADS_1
TIN! TIN!
Suara klakson terdengar di belakangku. Aku melompat karena terkejut. Astaga, sial banget sih! Udah keburu-buru waktu karena hampir terlambat, eh … pake acara dikagetin segala.