Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Kabar Kabur


__ADS_3

"Dia … dia Om Damar. Orang yang memakai jasaku sebagai model perusahaannya," sahutku. "Dia segera datang. Tentu saja karena dia nggak mau rugi. Bukankah kalau aku terluka, maka produknya akan gagal launching?"


Aku menarik sudut bibirku. Seharusnya jawaban itu cukup membuatnya tak lagi mencurigai hubungan kami. Dan satu hal lagi, aku tidak berbohong tentang hal ini.


"Astaga, Tiara. Maksudmu … apa kamu sedang memperalat dia?" tanyanya tiba-tiba.


Mataku membulat dan segera kusilangkan kedua tanganku. "Tidak … tidak. Kamu tidak bisa menyebutnya seperti itu," sahutku membela diri. "Aku hanya mendapatkan hakku untuk mendapatkan perlindungan sebagai modelnya."


Shinta menautkan kedua tangannya di depan dada. Wajahnya terlihat serius seperti ingin membaca sesuatu di wajahku. Ah … benar-benar membuat perasaanku menjadi kacau dan salah tingkah.


Tiba-tiba seulas senyuman mengembang di bibirnya. "Kena kamu!"


Gadis itu tertawa, menandakan bahwa dia senang telah berhasil mempermainkan aku. Tentu saja aku merasa lega karena interogasi ini sudah berakhir. Bahkan aku masih dapat merasakan debaran di jantungku, apa jadinya jika dia tahu ada sesuatu di antara aku dan Om Damar.


"Aku tahu, kamu nggak mungkin mau jalan sama om-om. Cowok sekeren Ricky aja berani kamu tolak. Apalagi om-om," ucapnya sambil menepuk satu pipiku dengan lembut.


Dengan gemas kugelitik pinggang sahabatku itu hingga membuatnya tertawa terkekeh sampai terguling di atas ranjangku.


Astaga …. Shinta, seandainya kamu tahu bagaimana perasaanku saat ini. Mungkin dulu aku akan bicara senaif itu. Aku tidak akan jatuh cinta pada om-om. Tapi pada kenyataannya, tak ada yang bisa memilih perasaan itu akan terikat pada siapa.


Seperti perasaanku saat ini. Mungkin aku masih merasa malu untuk mengakuinya, walau dalam hatiku sudah terukir indah namanya. Mungkin bagi remaja seusiaku, dia adalah om-om. Tapi bagiku, dia adalah seorang pria yang mempesona.


Suara dering ponsel menghentikan canda tawa kami. Kulihat di layarnya sebuah nama sedang berkedip. Om Marcel! Ada apa gerangan menelponku semalam ini?


"Aku pulang dulu, Ra," pamit Shinta sesaat sebelum aku mengangkat ponselku. "Udah malem, ketemu besok ya."

__ADS_1


Aku melambaikan tangan saat sahabatku itu mengayunkan kakinya keluar dari pintu kamarku. Kuantarkan kepergiannya dengan tatapan mataku hingga punggung itu lenyap di balik pintu.


"Halo, Om! Tumben malem-malem gini telpon," sapaku setengah berbasa-basi.


"Aku dengar kejadian tadi. Aduh gimana-gimana? Masih bisa jalan kan? Acara Damar tinggal dua hari lagi. Bisa kacau nanti kalau kamu nggak bisa melenggang di catwalk," cecar Om Marcel.


"Aduh Om! Gimana kalau Tiara nanti shownya pake tongkat?" godaku.


"Eh, beneran nih? Kamu nggak bisa jalan?" Om Marcel spontan berteriak panik. "Astaga, aku harus gimana nih? Cari model dalam dua hari? Oh my God!"


"Om … Om Marcel. Beneran nih, Om mau cari model lain? Tiara masih bisa jalan, kok," ucapku, tak dapat menahan diri lagi untuk berhenti mempermainkan Om Marcel karena kepanikan yang menyerangnya.


"Gimana nggak cari …. Apa?" Kepanikan Om Marcel pun berakhir. "Kamu bisa jalan? Kamu beneran nggak papa?"


"Astaga, syukurlah," ucapnya. "Kamu hampir bikin aku jantungan."


"Ish! Kok Tiara sih. Emang dari sananya, kali … setiap manusia punya jantung. Tiara nggak bisa bikin jantung, kok," cetusku bercanda.


"Ih, nggak lucu ah," sahut Om Marcel dari dalam benda pipih di tanganku. "Bulan depan ada acara fashion show. Louis Bridal ingin mengadakan audisi untuk acara ini. Apa kamu berminat untuk mewakili agensi? Tentu saja jika kamu bisa masuk dalam kandidatnya, keuntungan besar dapat kamu raup."


Mendadak Om Marcel membicarakan sebuah tawaran besar. Sangat aneh! Seorang model remahan sepertiku mendapat sebuah tawaran fantastis seperti ini mewakili Big Star agensi. Bukankah ini sangat aneh?


"Om Marcel, kenapa Om memilihku. Bukan yang lain?" tanyaku. Tentu saja ini sangat aneh. Kenapa Om Marcel tidak memilih modelnya yang lain? Model papan atas agensinya yang sudah mempunyai bandrol di pasaran, bukankah lebih mudah baginya untuk lolos dalam audisi itu?


Cukup lama Om Marcel terdiam, mungkin dia sedang berpikir keras untuk menjawab pertanyaan ini. Dalam pikiranku, bisa jadi semua ini adalah ulah Om Damar yang sedang mempengaruhi Om Marcel. Dan tentu saja aku tidak menyukai hal ini. Bagaimanapun juga aku lebih senang jika seseorang melihat hasil kerja kerasku, bukan karena koneksi.

__ADS_1


"Begini Tiara. Pertama, aku sudah melihat potensi dan bakatmu. Kamu bisa melakukannya. Karena bagaimanapun seorang model ternama akan memulai karirnya dari nol," jelasnya. "Kedua, kamu yang paling cocok dengan kualifikasi yang diharapkan oleh sang designer di agensi kita. Muda dan seorang model pemula dengan wajah yang segar."


"Kau tau apa artinya itu? Mereka sedang mencari model pendatang baru. Dan ini adalah kesempatan bagimu untuk mengejar karirmu!" terang Om Marcel dengan menggebu-gebu. "Dan ketiga yang paling penting dari segalanya. Aku yakin kamu bisa Tiara. Aku memberimu dukungan seratus persen! Mataku hampir tidak pernah keliru dalam memilih model!"


"Ew … terserah sama Om, deh. Atur aja," sahutku kemudian. "Toh … Tiara nggak punya manager."


"Manager? Benar juga. Mungkin setelah ini kamu butuh manager, orang yang bisa mengatur semuanya untukmu," ucap Om Marcel. "Untuk sementara ini, aku akan mengatur semuanya untukmu."


Aku menarik sudut bibirku. "Makasih Om!"


Suara klik terdengar, tanda sambungan telepon telah terputus. Tapi suara dering kembali terdengar bahkan belum sempat aku meletakkan benda pipih itu kembali. Nama yang berkedip di atas layar membuatku terperangah tak percaya.


Raka! Ada apa dengan semua orang hari ini? Kenapa mereka terlihat begitu aneh? Mau tak mau, kuangkat ponselku dengan menarik ikon hijau ke atas.


"Tiara! Gawat!" ucap pria muda itu dengan nada gugup yang kentara.


"Ada apa sih, Ka! Malem-malem gini," sahutku.


"Darren ada di sana, nggak?" tanyanya kemudian.


"Nggak. Buat apa dia malem-malem keluyuran ke rumahku?" tanyaku sedikit sinis.


"Ew … keluarganya pada bingung cari dia. Darren menghilang!"


"A–apa?"

__ADS_1


__ADS_2