Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Ada Yang Cemburu Gak Sih?


__ADS_3

"Tentang pria pembuat buku ini. Siapa dia? Apa dia kekasihmu?" Pertanyaan yang tak pernah kuduga akhirnya melesat keluar dari bibirnya. 


Sejenak aku terkesiap. Tentu saja, aku tak menyangka dia akan menanyakan hal pribadi seperti itu. Sangat aneh, bukankah hubungan kami hanya sebatas model dan klien? Lalu kenapa dia begitu peduli dengan kehidupan pribadiku?


Apa setiap model harus memberitahukan kehidupan pribadinya pada klien? Sejak kapan? 


“Apa aku perlu menjelaskan secara detail tentang kehidupan pribadiku?” tanyaku dengan sedikit ragu. 


Aku harap pertanyaanku tidak membuatnya marah dan membatalkan kontrak yang seharusnya aku tandatangani besok. Sorot mata teduh itu tak menampakkan sebuah tanda kemarahan. Bahkan perlahan pria itu menarik sudut bibirnya hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih dan tertata rapi.


“Aku harus tahu, apakah akan ada seseorang yang marah bila nanti kamu harus pulang terlalu malam karena jam pemotretan, bukan? Aku juga tidak mau tiba-tiba ada seseorang yang datang dan mengacau di jadwal pemotretan iklanku,” sahut pria itu tanpa menghilangkan senyumannya. 


“Oooh …” lirihku panjang sambil menganggukkan kepala saat mulai memahami tujuannya.


Astaga, alasannya benar-benar masuk akal. Mungkin saja pertanyaan ini bukan ditujukan hanya untukku, tapi untuk semua model juga. Aduh … sepertinya aku sudah salah menilai dia. Aku pikir dia sengaja mengorek informasi dariku.


Kalau begitu, sebaiknya aku jujur saja. 


“Nggak ada Om. Tiara nggak punya pacar, kok.” Aku tertawa lebar untuk mencairkan suasana sekaligus ungkapan penyesalan karena menuduhnya walau tak terucap. “Yang ada paling mama yang dateng ke lokasi, kalau nggak lekas pulang.”


Pria itu tersenyum tipis. Dia mulai membuka scrapbook di tangannya. “Kalimat yang puitis, goresan yang cantik. Siapa pembuatnya?”


“Euu … A–apa aku harus menceritakan pembuatnya juga, Om?” tanyaku. Kali ini aku tak yakin untuk mengatakannya. Untuk apa? Toh dia juga tak mengenal Pak Seno dan guru matematikaku itu pun sudah dikeluarkan oleh pihak sekolah. Dia tidak akan mempengaruhi pekerjaanku pada akhirnya.


“Nggak harus, sih.” Om Damar memperlihatkan lagi senyumannya. “Tapi … jika kamu ingin mendapatkan kembali buku ini, aku ingin mendengar kisahnya.”


Aku melihat sekelilingku. Sinar mentari sudah mulai turun ke ufuk barat, pertanda sang penguasa langit akan segera berganti. Daun-daun terlihat kemerahan tertimpa cahaya matahari. Suara gemerisiknya terdengar saat angin bertiup.


Kami duduk di sebuah bangku taman. Sementara Om Damar masih menunggu sebuah kalimat keluar dari mulutku. 


“Dia guru di sekolahku.” Aku mengawali ceritaku dengan kalimat pendek itu. 

__ADS_1


“Guru bahasa,” tebaknya. Ada sebuah senyuman terselip di bibirnya seolah sedang mengejekku.


Aku menggelengkan kepalaku. “Matematika.”


Tiba-tiba senyum itu memudar. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Om Damar terdiam, seperti menunggu kalimat lain terucap kembali dari mulutku.


“Dia menyembunyikan perasaannya dan menuangkannya di buku itu. Hingga seorang wanita datang ke sekolah dan membongkar semuanya. Entah apa yang dikatakan olehnya, sehingga sekolah memutuskan untuk merumahkan Pak Seno.” 


Aku terbelalak dan menutup mulutku rapat dengan kedua tanganku. Astaga, kenapa aku menyebutkan namanya. Tidak seharusnya aku menambahkan kesusahan Pak Seno. Ah … bodohnya aku. Kenapa aku keceplosan, sih!


Om Damar tertawa melihat ekspresiku. Tangannya terulur dan mengacak rambutku dengan gemas. “Astaga Tiara, kamu polos sekali. Jujur, benar-benar tidak pandai berbohong. Dan aku suka itu."


Aku mencebik kesal. Rambutku jadi berantakan gara-gara ulahnya. Bukan karena aku terlalu mengutamakan penampilan, tapi … bukankah hubungan kami tidak seakrab itu.


Ah … sudahlah. Yang penting kontrak itu tidak batal dan tak ada lagi yang perlu kusembunyikan dari dia. Aku bisa bernapas lega sekaligus merasa lebih tenang sekarang. 


"Apa kamu ada waktu luang hari ini?" tanyanya tiba-tiba. 


Aku menggelengkan kepalaku. "Besok ada tes fisika, Om," sahutku dengan cepat. 


Om Damar mendecak kesal. "Kalau begitu, kamu temani aku makan sekarang."


"Menemani Om makan?" ulangku. "Tapi … sejak kapan model harus menemani kliennya makan?" 


"Yaaa … emang nggak ada rumusnya harus gitu sih," sahutnya. "Tapi, apa kamu tega lihat aku kelaparan terus makan sendiri, nggak ada yang nemani, gitu."


"Ih … Om ini pinter maksa, deh," kesalku.


"Daripada kamu masuk angin. Bukannya tadi kamu cuman makan dikit, terus nggak mau makan lagi gara-gara aku," kilahnya tanpa mau kalah. "Aku nggak mau model iklanku sakit dan mengganggu jadwal pemotretan."


Ish … lagi-lagi dia memberikan sebuah alasan yang sangat masuk akal. Pria itu menunjuk sebuah resto di pojok taman. Sebuah resto cafe kecil di udara terbuka, cukup nyaman untuk menikmati pemandangan di senja hari.

__ADS_1


Pria itu beranjak dari bangku taman. Mau tidak mau, aku pun mengikuti langkahnya menuju resto di pojok taman itu.


"Dua spaghetti carbonara, satu cafe latte dan …." Pria itu mengalihkan perhatiannya padaku. "Kamu mau minum apa?" 


"Lemon tea saja, Om," sahutku dengan cepat.


"Ya, satu lemon tea," ucapnya di hadapan kasir resto. "Kami akan duduk di sebelah …." 


Diedarkannya pandangannya ke seluruh meja yang tersedia, lalu menunjuk satu meja yang terjauh dari semua keramaian. "Sana!" 


"Baik, Pak." Kasir itu dengan sigap menyelesaikan transaksi. Dan setelah melakukan pembayaran, kami pun menunggu di meja yang telah dipilihnya. 


"Entah kapan terakhir kali aku bisa duduk santai menikmati suasana seperti ini," ucapnya. Disandarkannya punggungnya dengan begitu santai. 


Aku berdehem, mengusir perasaan canggung. 


"Om Damar, boleh nggak Tiara nanya sesuatu?" 


"Tanya aja." Om Damar kembali memamerkan senyumannya yang khas. "Ada apa Tiara?" 


"Eeuuh … anu Om. Itu … kalau ada yang liat Om sama Tiara sekarang, terus ada yang marah-marah gimana?" tanyaku. 


Aih … kenapa aku pake nanya sih, bukannya diem aja. Nanti kalau dia ge er gimana? Aku menggigit bibirku, menyembunyikan rasa gelisah yang datang menyerang. 


Tapi … kalau aku nggak nanya, nanti kalau tiba-tiba ada yang datang, marah-marah terus tuding aku pelakor gimana? Mending kalau cuma di tempat pemotretan. Kalau di rumah, terus ribut-ribut, yang ada kasihan mama. Kalau di sekolah, lebih parah, bisa dikeluarin aku dari sekolah, walaupun sebenarnya tak ada apapun di antara kami.


Om Damar tersenyum lebar. "Kenapa? Memangnya Tiara mau jadi pacar Om Damar?"


Heh! Mataku membulat sempurna. 


Tuh beneran kan, dia jadi ge er. Duh gimana nih?

__ADS_1


__ADS_2