
"Psst! Kak Elsy," sapaku pada gadis yang berjaga di depan meja reception sambil mengetukkan jari telunjukku.
"Eh, kamu Ra. Kenapa?" tanyanya ramah seramah biasanya.
Aku menengok sekelilingku. Tak ada tanda-tanda kehadiran Om Damar di sana. Bahkan aku tak melihat mobilnya di halaman parkir tadi.
"Om Damar belum datang kan?" lirihku karena tak ingin seorang pun mendengar.
Kak Elsy mengalihkan pandangannya ke arahku. "Euh... belum, Ra. Ke- kenapa ya?” tanyanya seperti tergagap.
Aku menghela napas lega. "Nggak Kak, nggak papa. Cuman eh … ada sedikit masalah kecil.” Kupegang dadaku, berharap jantungku sedikit merasakan ketenangan. “Ya udah, aku langsung ketemu Om Marcel, kalo gitu.”
Namun saat aku berbalik, ternyata Om Damar sudah ada di belakangku. Tatapan matanya setajam pisau yang siap mencincangku hingga hancur.
“Aih! Pantesan Kak Els jadi gugup gitu, ternyata dia sudah ada di belakangku,” batinku. Cepat-cepat aku menundukkan kepalaku dan berlalu dari hadapannya.
“Loh … loh, Tiara. Kamu mau kemana? Bukannya kamu baru saja cari aku?” tanya Om Damar dengan suaranya yang lantang.
Untung saja hari sudah sore, dalam artian studio sudah hampir tutup. Jadi tak banyak orang yang tersisa di dalam sana. Bisa kubayangkan bagaimana gosip akan menyebar dengan cepat jika mereka semua mengetahui semua tentang kebenaran hubungan kami.
Aku mengerjapkan mataku dan memberikan kode dengan alisku agar dia diam dan hanya mengikutiku. Tapi bukannya mengerti dan diam-diam mengikutiku, lelaki itu seperti sengaja mempermainkan aku.
“Tiara, ada apa dengan mata kamu?” tanyanya sekali lagi dengan volume suara yang tak kalah kerasnya.
Aku mencebik kesal. Kusilangkan kedua tanganku di dada dan bergegas pergi meninggalkannya.
“Gumussh! Kenapa sih kamu nggak peka terhadap kode sesimple ini,” gumamku sembari masuk ke ruang tunggu VIP yang sunyi seperti biasanya.
Tak lama kemudian, Om Damar pun datang menyusulku.
“Kok merengut gitu sih? Pingin tahu gak, gimana penampakanmu dengan muka dilipat gitu?” Om Damar mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jasnya.
“Eit … eit! Ambil foto tanpa ijin, aku kenain royalti! Awas aja!” sahutku ketus.
Klik!
Suara klik itu menunjukkan bahwa lelaki itu benar-benar mewujudkan niatnya. Untung saja aku sempat menutupi wajahku dengan tanganku.
"Yah …" ujarnya terdengar kecewa saat melihat hasil jepretannya di dalam ponselnya.
Aku melambaikan tanganku di depannya.
__ADS_1
"Om, jadi … jelaskan kenapa aku disuruh ke mari pukul empat sore ini?" Tanyaku. "Apa karena kejadian tadi siang?"
Om Damar memasukkan kembali ponselnya. Lelaki itu menatapku dengan kedua tangan memegang pundakku. Wajahnya terlihat serius, dan jujur ini membuatku sedikit takut.
Aku menundukkan kepalaku dengan canggung. "Mengenai hutang itu, Om bisa memotong dari gaji yang seharusnya aku terima," lanjutku tanpa berani menatap matanya.
"Tiara, lihat aku," titahnya.
Aku masih menundukkan kepalaku. Perasaan canggung dan malu, seakan membuatku tak sanggup menatap wajahnya. Seperti aku tak punya muka lagi di hadapannya.
"Lihat aku, Tiara," pintanya sekali lagi.
Tapi aku masih tak punya keberanian untuk mengangkat wajahku dan balas menatapnya. Hingga tangannya menyentuh lembut daguku dan mengangkatnya hingga pandangan kami bertemu.
Aku dapat melihat wajah tampan penuh karisma itu di depanku. Sepasang matanya yang teduh, seakan menawarkan sebuah perlindungan dan kedamaian.
"Bukankah aku kekasihmu? Bukankah aku sudah berjanji akan menjagamu dan melindungimu? Aku hanya ingin menepati janjiku saja, Tiara."
Lelaki itu menarik sudut bibirnya, memulas senyuman yang indah.
Kekasih! Benar, tapi … aku tidak mau dia menganggap aku memanfaatkan dia dan status hubungan kami untuk menyelesaikan masalah ini. Atau bahkan bagaimana jika akhirnya dia akhirnya mengikatku karena hutang itu?
"Tapi Om, lima puluh juta bukan jumlah yang sedikit. Aku tidak bisa menerima uang itu begitu saja, aku –"
Deg!
Heh! Apa ini? Jangan-jangan dia bukan lelaki baik-baik seperti yang selama ini aku pikirkan. Jangan-jangan dia sama saja dengan om-om mesum yang ada di luaran sana.
Astaga! Apa aku terlalu polos sampai tak menyadari kemesumannya?
"Aduh! Kenapa Om Damar main selentik sih?" Protesku sambil mengelus keningku.
"Kamu juga, ngapain melotot seperti itu? Apa aku terlihat seperti hantu?"
"Euh, abisnyaa … ngapain Om pake usul acara transaksi segala. Emangnya Tiara apaan," sahutku ketus. "Dasar Om mesum!"
Namun tiba-tiba jemarinya kembali mendarat di keningku.
"Aduh, apaan sih! Sakit tau," kesalku sementara tanganku kembali meraba keningku.
"Udah hilang belum, pikiran buruk kamu itu. Apa perlu aku bantu cuci otak kamu?" sahutnya.
__ADS_1
"Lah! Tadi Om bilang aku harus melakukan satu hal senilai lima puluh juta. Tapi Om juga nggak mau potong gaji aku," simpulku kemudian. "Lalu transaksi apa yang Om pikirkan?"
Lelaki itu tersenyum misterius, membuatku merasa semakin penasaran dengan sesuatu yang ada di dalam pikirannya. Digenggamnya kedua tanganku, sementara sepasang mata itu tak lepas menatapku.
"Ya ampun … Damar, Tiara, kalian sudah datang ternyata." Suara Om Marcel memecah keheningan di antara kami.
Cepat-cepat kutarik tanganku. Perasaan canggung dan gugup seketika datang, ketika mengetahui orang lain di sekitarku.
"Ups! Apa aku sudah mengganggu kalian?" Tanya Om Marcel. Sepertinya dia sudah menyadari perbincangan serius di antara kami berdua.
Lelaki paruh baya itu melirik arlojinya, "dua puluh menit! Selesaikan masalah kalian dalam dua puluh menit. Setelah itu kita bicarakan tentang acara launching itu di ruanganku."
Setelah mengatakan hal itu, Om Marcel langsung berbalik dan kembali menghilang ke balik pintu. Namun sesaat kemudian, wajahnya kembali muncul, mengintip di pintu itu. Seulas senyuman terlihat di wajahnya.
"Tidak boleh ada pertengkaran di sini, apalagi adegan dua puluh satu tahun ke atas," godanya.
"Om Marcel!" Seru kami bersamaan.
Lelaki paruh baya itu mengangkat kedua tangannya tanpa melepaskan cengiran di wajahnya dan kembali menghilang ke balik pintu.
"Astaga … dia sepertinya tak akan pernah berubah," gumam Om Damar.
Lelaki itu kembali menatapku.
"Jadi? Apa yang harus aku lakukan sebagai pengganti lima puluh juta itu?" tanyaku tanpa ingin membiarkan rasa penasaran itu berlama-lama dalam pikiranku.
Lelaki itu kembali memperlihatkan senyumannya, seolah sengaja membuat rasa penasaranku semakin besar.
"Pertama, apa kamu percaya sama aku?"
"Euh … sejauh ini Om Damar baik, selalu ada saat aku butuhkan. Om yang selalu membereskan semua masalahku tanpa aku minta. Bagaimana bisa aku tidak percaya sama Om? Tapi … kali ini Om bikin Tiara ragu."
Om Damar menaikkan kembali tangannya. Dan dengan secepat kilat, aku menyelamatkan keningku dari pendaratan jari-jarinya. Tapi ternyata tangan Om Damar malah menyentuh rambutku dan mengusaknya perlahan.
"Ingat, aku pernah berjanji akan menjagamu hingga saatnya tiba," ucapnya entah untuk keberapa kalinya dia mengingatkan aku. "Itu berarti aku hanya ingin memberikan air dan pupuk hingga cinta itu tumbuh subur dan berkembang semakin besar."
Aku menganggukkan kepalaku, walau semakin tak mengerti maksud ucapannya. Jika semua yang ada dalam pikiranku salah, lalu apa sebenarnya yang diinginkannya? Apa yang dapat kuberikan padanya, yang nilainya setara dengan angka lima puluh juta itu?
"Kedua, apa kamu merasa nyaman dan bahagia berada di dekatku?"
Pertanyaan apa ini? Astaga, apa dia sengaja membuatku malu? Kutundukkan kepalaku dan mengangguk perlahan.
__ADS_1
Tangan itu kembali meraih daguku dan mensejajarkan wajahnya denganku. Tatapan matanya yang dalam ditambah senyuman khasnya, terasa menenangkan hatiku.
"Aku juga mencintaimu, Tiara," ucapnya. "Dan sebagai kompensasi hutang itu, aku hanya ingin minta satu hal padamu …."