Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Tak Sempurna


__ADS_3

"Aku?" tanyaku. "Kenapa harus aku yang coba?" 


Pria itu menggaruk keningnya yang aku yakin tidak terasa gatal. Ehm … sepertinya dia sedang berpikir untuk mengarang sebuah cerita agar aku mau mencoba gaun itu untuknya. Atau mungkin sedang mencari cara merayuku agar aku mau menuruti keinginannya.


"Karena …." 


Aku masih memperhatikan gerak gerik bahasa tubuhnya. Om Damar menautkan kedua tangannya di belakang tubuhnya. Dia menghela napas seolah berusaha melepas beban yang ada dalam pikirannya. 


"Karena aku membutuhkan kamu malam ini, Tiara," ucapnya. Sepasang manik mata gelap itu menatapku penuh kesungguhan. 


Kukerutkan keningku, dalam pikiranku masih menyangkal apa yang baru saja kudengar. Bukankah ini aneh sekali. Sebentar ... sebentar, jika dipikirkan lagi … sebuah gaun … urusan pekerjaan … membutuhkan aku malam ini? Aku sama sekali nggak bisa paham apa hubungan dari semuanya ini. 


"Apa Om Damar nggak salah? Untuk apa aku gaun semacam ini?" tanyaku mengharapkan sebuah alasan yang akan memperjelas semua keabu-abuan dalam pikiranku. "Kenapa Om Damar nggak langsung ajak si "Cinta Laura" itu buat nyoba gaun ini?"


"Hmm … begini. Sebenarnya nanti malam aku ada acara reuni," ucapnya dengan sangat hati-hati. "Tapi ... Karena tahun ini sudah ada kamu di sisiku, maka aku tidak ingin datang sendirian lagi ke acara itu." 


"Ew … jadi …." Aku memicingkan satu mataku untuk memastikan bahwa dia mengajakku. Eh … sebenarnya aku juga berharap dia mengajakku, bukan gadis yang disebutnya mirip Cinta Laura tadi. 


Pria itu menganggukkan kepalanya. "Iya, aku mau kamu temani aku ke acara itu, malam ini," ucapnya. "Sebagai calon istri aku."


"Emh … apa Om yakin mau ajak aku? Apa nantinya Om Damar nggak nyesel ngajak anak kecil macem aku? Apa Om nggak malu?" tanyaku sambil tersenyum. Tentu saja sebuah senyum kemenangan! Aku mulai menyadari bahwa seseorang yang dikatakan mirip artis ternama itu adalah aku. Astaga, Om Damar ada ada saja.


Tapi ah …. Setidaknya akhirnya aku tahu urusan apa yang dimaksudnya. Akhirnya aku tahu, tidak ada gadis lain yang mengancam posisiku. Akhirnya aku tahu, hanya aku yang benar-benar ada dalam hatinya.

__ADS_1


Pria itu mengangkat sepasang alis tebalnya. Lalu perlahan dia menggelengkan kepalanya dengan penuh keyakinan.


"Tidak. Kenapa harus nyesal atau bahkan malu? Bukankah aku seharusnya bangga memilikimu?" ucap pria itu. Dengan lembut dia menyentuh pucuk hidungku dengan jari telunjuknya.


"Ew …. Kenapa Om Damar nggak bilang dari tadi?" Aku mencebik kesal. "Hampir saja aku meminta Om memilih gaun itu."


Pria itu mengerutkan keningnya. "Tidak apa jika kamu menyukainya. Bukan suatu masalah buatku," ucapnya dengan tenang. "Apapun yang kamu pakai akan terlihat sempurna."


Ish! Tentu saja aku nggak mau pakai gaun seperti itu. Terlalu mencolok dan aku benci menjadi pusat perhatian. Karena pada awalnya aku memilih gaun itu hanya karena berharap pemakainya akan terlihat norak. Nggak aku sangka kalau gaun itu, aku sendiri yang harus memakainya. 


"Bagaimana kalau gaun ini saja, Nona," ucap seorang pramuniaga. Gadis pramuniaga itu memperlihatkan sebuah gaun mini dengan potongan yang sederhana. Sepotong gaun yang terlihat cantik dan elegan dengan beberapa manik swarovski di bagian dadanya. 


Aku menganggukkan kepalaku, menyetujui penawarannya. "Gaun yang cantik!" pujiku. Memang gaun berwarna hijau botol itu terlihat sangat cantik. Apalagi jika dipakai pada acara malam. Gaun itu akan semakin menonjolkan kekontrasan warna kulitku dan juga terlihat mewah walaupun dalam model yang sederhana.


Hah! Pantas saja .... Ternyata batu-batu swarovski ini diambil langsung dari Australia dan desain ini buatan Tiffany, designer kondang itu sendiri? Astaga, perlukah Om Damar membeli gaun semahal ini untukku, hanya untuk datang ke acara reuni sekolahnya? Sepertinya ini terlalu berlebihan. 


"Ew … kalo gitu, nggak jadi deh. Kita pilih yang lain aja," ucapku sambil menarik tangan Om Damar menjauh dari tempat itu. 


Namun Om Damar terlihat bingung karena aku meminta untuk membatalkannya. 


"Sebentar. Kenapa? Jika kamu nggak suka gaun itu, kamu bisa pilih gaun lainnya," ucapnya sambil menahan langkahku. 


"Om, butik itu milik Tiffany. Semua koleksinya super premium, sudah jelas semua barangnya pasti sangat mahal. Nggak mungkin aku pakai gaun semahal itu hanya untuk menemani Om ke acara reuni sekolah," gumamku karena tak ingin dua pramuniaga itu mendengar ucapanku. "Bukankah itu terlalu berlebihan?"

__ADS_1


Pria itu tertawa pelan. Dia menarikku masuk ke dalam pelukannya. "Astaga, Tiara. Dengarkan aku. Aku tak peduli apapun yang akan kamu pilih. Semahal apapun gaun itu, akan kuberikan untukmu asal kamu bahagia. Karena tak ada yang lebih berharga daripada kamu."


Heh! Apa dia sedang merayuku? Hmm… baiklah, seharusnya aku mencoba ketulusan perkataannya. Apa dia bisa konsisten saat mengetahui harganya?


"Jadi … aku boleh pilih gaun itu?" tanyaku tanpa sebuah keraguan lagi.


"Kenapa kamu nggak mencobanya?" sahut pria itu. Tangannya membimbing aku kembali ke dalam galeri. "Aku yakin, malam nanti kamu akan terlihat paling mempesona."


Ah … lagi-lagi dia membuatku tersipu-sipu. Bagaimana mungkin ada mulut yang bisa berucap semanis itu. Dan bagaimana mungkin sang pemilik mulut manis ini tidak memiliki seorang kekasih pun sepanjang hidupnya. 


Aku masih terperangkap dalam perasaan dan pikiranku, saat berada dalam kamar pas untuk mencoba gaun cantik itu. Gaun itu terlihat sangat pas saat menempel di tubuhku. Bahkan aku sendiri terpukau oleh gemerlap batuan swarovski yang menempel dan memperjelas lekuk tubuhku. 


Setelah cukup lama mematut diri di depan cermin, aku pun keluar dari kamar pas. Tentu saja untuk menunjukkan pada Om Damar, sekaligus meminta pendapatnya tentang penampilanku dalam balutan gaun indah ini. 


Namun yang kudapatkan adalah sebuah tatapan aneh darinya. Dan tentu saja tatapan itu sukses membuatku merasa risih, malu dan kehilangan kepercayaan diri. 


Hmm … sepertinya gaun ini nggak cocok deh. Aku menggigit bibirku ketika pria berahang tegas itu berdiri dari kursinya dan berjalan mendekatiku. 


Ew … rasanya aku ingin kabur dari tempat ini. Aku benar-benar merasa tak nyaman, seperti ada perasaan malu karena penampilanku. Aku ingin terlihat sempurna di matanya. Nggak memalukan seperti ini.


Pria itu menggamit daguku dan membuatku menengadah menatap wajahnya. Sejenak aku menatap sepasang manik mata gelap itu, berharap mendapatkan sebuah jawaban atas semua pertanyaan dalam hatiku. 


Apa dia tidak menyukai penampilanku dalam gaun ini?

__ADS_1


__ADS_2