Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Siapa Dia


__ADS_3

"Dam, kita perlu bicara," ucap wanita itu dengan tenangnya seolah mengabaikan kehadiranku di tempat itu. 


Om Damar terlihat enggan mengikuti perintahnya. Aku dapat merasakannya dari hembusan napasnya ketika mau tak mau harus berdiri dari kursinya. Kucoba menghalangi langkahnya dengan menggenggam tangannya.


Tapi Om Damar menenangkan aku dengan senyuman dan kecupan ringan di keningku. "Aku akan segera kembali."


Aku menganggukkan kepalaku. Sejenak kuamati kedua orang yang terlihat seperti sedang dalam sebuah perdebatan sengit. Hmm … aneh, wajah wanita itu seperti tak asing bagiku. Kucoba berpikir lebih keras. Dimana aku pernah melihat wajah itu? 


Glek! 


Aku menelan kasar salivaku. Aku dapat mengingatnya sekarang. Dia … dia …. Dia adalah gadis yang ada di dalam foto itu. Foto-foto yang berderet rapi di sepanjang rak di rumah Om Damar! Dia adalah gadis yang tak pernah bisa dilupakannya. Dia adalah gadis cinta pertamanya. 


Mungkin nggak sih, aku bisa merebut hati itu? Atau … mungkin sebaiknya aku tidak terlibat di antara mereka. 


Bukankah masa depanku masih panjang? Mungkin dengan menghindar dan melupakannya sedari sekarang, tak akan membuat hatiku lebih sakit dari saat ini. 


Ah … aku tahu sekarang. Dia membuatku terlihat seperti ini hanya untuk menarik perhatian wanita itu. Dia hanya memperalatku saja. 


Jadi, selama ini semua kalimat yang diucapkannya di depanku itu semuanya bohong. Dia tidak benar-benar mencintaiku. Semuanya palsu!  Nggak ada lagi yang perlu dipertahankan. 


Aku berdiri dari kursiku. Entah apa yang kurasakan saat ini. Perasaan marah karena merasa dikhianati, kecewa, sedih, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Mungkin bahkan tak ada gunanya lagi, aku berada di sini. Sebaiknya aku pulang saja. 

__ADS_1


Belum juga kakiku sampai di depan pintu, terdengar sebuah kegaduhan di dalam sana. Tepat di tempat, dimana Om Damar sebelumnya berdiri. Suara pekik kengerian disusul dengan seseorang yang terjatuh.


Mataku membulat ketika menyadari seorang yang sedang terlibat dalam pertengkaran itu. Di mana wanita tadi? Sekarang yang kulihat adalah seorang pria bule berusia paruh baya, sedang berdiri dengan pongahnya dengan sepasang tangan terkepal.


Sementara Om Damar yang baru saja terjatuh pun segera bangkit. Pria itu juga mengepalkan tinjunya di samping badannya. Ish! Gila aja Om Damar. Masa sih dia mau ngelawan pria setengah baya itu. Siapa sebenarnya pria bule itu? Mantan guru sekolahnya kah? Tapi …. Kenapa dia harus berantem sama mantan gurunya itu?


"Kakak." 


Tiba-tiba lenganku disentuh oleh gadis itu. Gadis yang aku ketahui bernama Fretty itu tiba-tiba menarik tanganku keluar dari gedung. "Kita jalan-jalan di luar saja yuk, di dalam sangat membosankan." 


Gadis cantik bak boneka barbie itu menyeretku ke taman yang ada di samping hall pertemuan. Sebuah taman yang sangat hijau dengan rumput gajah yang terawat rapi dan tumbuhan rimbun sebagai pagar pembatas jalan setapak hingga sebuah kolam ikan dengan air mancur di tengahnya. 


"Kakak suka permen?" tanyanya. Gadis itu memasukkan satu tangannya ke dalam saku jumsuitnya. Tak lama kemudian sebuah permen loli keluar bersama dengan tangannya. 


"Aku nggak suka kalau orang tuaku mengajakku ke acara semacam ini. Benar-benar membosankan," ucap gadis itu. "Seharusnya mereka meninggalkan aku di rumah, tidak memaksaku untuk ikut ke acara membosankan ini." 


Tiba-tiba gadis itu menoleh padaku. Dari tatapan matanya seolah menyiratkan keinginan agar aku menyetujui ucapannya. Entah kenapa aku merasa gugup saat melihat tatapannya, tatapan yang seakan sedang berusaha membaca pikiranku. 


"Ew … iya sih. Seharusnya kita di rumah dan belajar." Akhirnya aku menjawab sekenanya. 


"Ish … mabar dong, Kak. Main game online sama teman-teman. Itu baru asyik," tukas gadis itu tanpa rasa ragu. 

__ADS_1


Aku menarik sudut bibirku. Ah … dia benar, mungkin memang itu yang seharusnya aku lakukan di usia belasan ini. Menikmati hidup, bermain dengan teman-temanku. Bukan malah menyibukkan diri seolah menikmati rutinitas kontrak kerja yang aku tanda tangani. 


"Bagus sih, main bareng sama teman. Tapi jangan sampai pelajaran kamu terbengkalai, ya."


"Kakak juga suka main game online? Main apa, Kak? Kita main bareng, yuk," ucapnya dengan penuh semangat. 


"Ew, nggak sih. Kakak nggak main game," akuku dengan jujur.


Aku yakin sekarang pasti dia berpandangan jika aku cupu, kuno, ketinggalan jaman. Namun setidaknya aku mengatakan hal yang sebenarnya. Aku bisa melihat pendapatnya tentang aku dari raut wajahnya yang tiba-tiba saja berubah. 


"Hah! Kakak nggak main game online sama sekali? Dih … bilang aja kalo Kakak nggak mau main sama aku," ucapnya setengah merajuk. 


Astaga … dia sangat menggemaskan. 


"Enggak kok. Memang kakak nggak ada waktu buat main game online," ucapku sambil mengulurkan tanganku untuk mencubit gemas pipinya.


"Ih! Memang Kakak hidup di planet mana? Kok nggak pernah main game sih?" Pertanyaannya semakin mendesakku seakan tak percaya pada pengakuanku.


Aku mengangkat kedua tanganku ke atas dan mulai menggerakkannya seakan sedang menakutinya. "Aku datang dari planet Belobelo. Dan sekarang aku akan menangkapmu," ucapku sambil mulai mengarahkan kedua tanganku untuk menggelitiknya.


Namun tiba-tiba keceriaan ini terusik oleh suara seseorang yang memanggil namaku.  

__ADS_1


"Tiara!" Suara bariton itu terdengar di telingaku. 


Dengan gerakan spontan, aku menoleh ke asal suara dan menghentikan gerakan menggelitikku pada pinggang Fretty. 


__ADS_2