Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Jebakan Untuk Si Penguntit


__ADS_3

Kuletakkan foto-foto itu di atas meja belajarku, sementara Shinta mengamati satu demi satu gambar yang tersaji di hadapannya itu. Mulutnya tampak menganga. Dari raut wajahnya aku dapat menebak bahwa dia benar-benar kebingungan dengan kasus aneh yang kuhadapi ini.


"Jadi … kamu nggak ngeliat pelakunya?" tanyanya seolah aku belum mengatakannya dengan jelas. 


"Kamu tahu, kan …. Kakiku masih nggak bisa diajak kerja sama," sahutku, kembali menyesali kelambatan gerakku. 


"Kesimpulanku juga sama dengan kamu. Jelas itu bukan Darren, bukan Ricky ataupun Raka." Shinta mengerutkan keningnya seolah berpikir keras. "Pelakunya ada di sekolah. Hmm … tadi siang cuman ada ekskul basket, sih. Kalau bukan mereka, bisa jadi itu salah satu pengajar yang belum pulang. Atau …."


"Atau apa?" tanyaku penasaran. 


"Tadi siang ada rapat OSIS. Mungkin nggak, sih … salah satu peserta rapat melenceng keluar untuk ngelakuin itu?" 


Aku mengerucutkan bibirku sambil mengedikkan pundakku. "Tak tahulah. Semua bisa saja adalah pelakunya," ucapku. 


Kuletakkan kedua tanganku di atas meja dan kubenamkan wajahku di dalamnya. "Semakin aku pikir, semakin aku pusing, Shin."


Kudengar suara jari jemari Shinta mengetuk-ngetuk lembut meja belajarku. Aku mendongak menatap wajah sahabatku itu saat tak ada lagi kata yang keluar dari bibirnya. Wajahnya tampak serius seperti sedang memikirkan sesuatu. 


"Apa jadinya kalau kita membuat sebuah jebakan?" 


Shinta mengatakan idenya dengan penuh semangat, seolah seorang Archimedes dengan kata eureka -nya. 


Sebenarnya aku tidak terlalu yakin akan rencananya. Menjebak? Bagaimana caranya menjebak sebuah target yang sama sekali tidak kita ketahui? Bukankah sangat mustahil jika kita menangkap harimau dengan jebakan untuk seekor kelinci?


Tapi Shinta terlihat begitu yakin. Aku bisa melihat keyakinannya dari sepasang matanya yang bersinar. Baiklah, aku tidak akan mengacaukan keyakinannya. Setidaknya aku harus menghargai usahanya dalam membantuku menemukan si pengecut itu. 


"Ew … tentang Darren? Apa kamu tahu, keluarganya akhirnya memberikan ijin padanya untuk bekerja sambilan," kicau Shjnta. "Dia bilang, keluarganya malah merasa senang akan kemandirian dan kedewasaan Darren."

__ADS_1


Aku menghela napas panjang. Ini bukan kabar bagus, sih. Terutama buat aku. Bagaimana kalau tiba-tiba Darren berbesar kepala dan kembali berani meminta jawabanku untuk menjadi kekasihnya. Menolaknya sama artinya aku kehilangan satu sahabat. Menerimanya juga tak mungkin. Hatiku tidak bersamanya.


"Semua itu berkat kamu, Ra," ucap Shinta sambil menepuk punggungku. "Kamu adalah semangat bagi Darren. Dan … aku harap pasangan serasi seperti kalian akan bersatu pada akhirnya. Sahabat jadi pacar." 


"Ish! Apaan sih?" sahutku. "Aku malah nggak nyaman kalau status kami berubah."


"Maksud kamu?"


"Ew … maksud aku … aku dan dia kan berteman. Aku maunya gitu aja terus," sahutku dengan perasaan canggung. 


Nggak mungkin aku mengatakan pada Shinta kalau aku dan Om Damar sudah mempunyai sebuah komitmen bersama. Nggak mungkin pula aku mengatakan padanya bahwa aku sudah mencintai orang lain. Dia pasti akan sangat terkejut jika mengetahui hal ini.


"Ra, kamu bayangin betapa menyenangkannya hidupmu nanti jika bersama dengan Darren. Seorang kekasih sekaligus seorang sahabat. Ditambah lagi dia adalah orang yang paling tahu siapa kamu selain aku. Dia yang tahu apa yang kamu suka dan apa yang tidak." Shinta mencubit pipiku. "Percayalah, kamu bakal jadi orang paling bahagia di dunia ini." 


Aku mengerutkan keningku. "Bagaimana seandainya ada sesuatu yang buruk terjadi? Lalu kami putus. Lalu dia pergi. Bukankah artinya aku akan kehilangan kalian semua sekaligus?"


Gadis itu menjentik keningku. "Dasar! Kenapa pikiranmu selalu pada hal-hal negatif, sih?" 


Heran! Bukankah itu benar. Kenapa orang selalu berpikir semua yang indah tanpa memikirkan kegagalan yang mungkin juga akan terjadi. Bukankah sebelum semuanya terjadi, kita harus mengantisipasinya.


"Ah … udahlah, mendingan kamu kasih tahu apa rencanamu? Jebakan apa yang kamu buat untuk penguntit itu?" tanyaku dengan penuh penasaran. 


"Sebenarnya solusi masalah ini sangat mudah," sahut Shinta. "Seandainya kamu menerima cinta Darren, maka masalah akan selesai. Penguntit itu nggak akan pernah gangguin kamu lagi."


Aku mencebikkan bibirku. "Nggak gitu kali solusinya. Itu namanya menyelesaikan masalah dengan masalah baru," sahutku dengan tegas. 


Bayangin aja, aku harus pacaran sama Darren hanya karena menghindari masalah dengan si penguntit. Bukankah artinya aku memberikan harapan palsu pada Darren, lalu saat penguntit itu tahu semuanya, maka dia akan kembali menggangguku. Sama sekali bukan solusi!

__ADS_1


Shinta mengedikkan pundaknya. "Terserah kamu aja. Atau … kamu punya cara lain?" 


Aku menggigit bibirku. "Benar juga sih, seandainya aku memanfaatkan Darren setidaknya hingga ujian sekolah beberapa bulan lagi, maka masalah akan selesai," batinku. "Perlukah aku coba?" 


"Ra …." Shinta menggerakkan telapak tangannya di depan wajahku. 


"Eew …. Ntar aku pikirkan dulu, Shin. Aku nggak mau Darren terluka karena aku," sahutku tanpa bisa memberikan sebuah keputusan.


Tentu saja aku nggak boleh egois. Aku juga harus mikirin perasaan Darren kalau aku mau jadi pacar dia, hanya karena menghindar dari seorang penguntit. Gila aja! Aku bisa bayangin jika itu adalah aku sendiri. Dan seseorang yang aku sukai, memanfaatkan aku. Ish! Amit-amit, deh. Jangan sampe.


Setelah Shinta pulang, aku masih duduk bergeming dari meja belajarku. Kutatap satu demi satu foto yang berjajar di atasnya. Kuperhatikan baik-baik, berharap ada sesuatu petunjuk yang tertinggal di atas kertas glossy itu. 


Tiba-tiba pandanganku tertumpu pada suatu bayangan di sebuah kaca jendela. Sebuah bayangan seorang siswa! Kuperhatikan kembali dengan seksama foto-foto lainnya. Tentu saja untuk mencari sebuah clue yang tertinggal di dalamnya. 


Seandainya saja ada pantulan lain, bayangan yang terlihat sama, mungkin saja itu adalah jawabannya. Sebuah jawaban atas teka-teki yang menyiksaku minggu terakhir ini. Tapi yang kuharapkan sama sekali tak nampak. Foto lainnya sama sekali tak menampakkan bayangan atau pantulan apapun. Rasanya seperti berada pada jalan buntu.


Ah – sudahlah! 


Aku meninggalkan meja belajarku dan membaringkan tubuhku di atas ranjangku. Bagaimanapun aku harus segera beristirahat agar besok bisa berangkat sekolah dengan badan yang segar. 


Tak butuh waktu lama untuk terlelap dalam tidurku. Bahkan waktu terasa berputar dengan cepat dan tiba-tiba saja hari sudah berganti. 


Pagi itu aku kembali merasa ada seseorang yang sedang menguntitku. Aku sengaja mengabaikannya. Bagaimanapun juga, dia tak akan berani melakukan apapun di tempat keramaian seperti ini. 


Aku menghela napas panjang, mengubur dalam-dalam perasaan takutku dan terus berjalan menyusuri trotoar menuju sekolahku. 


"Nggak! Bukan … aku nggak boleh overthinking. Bisa saja dia memang tinggal di daerah ini dan kebetulan berangkat di jam yang sama," pikirku. Kucoba menepis semua hal negatif yang kupikirkan. 

__ADS_1


"Lari!" 


 


__ADS_2