Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Kata Sayang


__ADS_3

Aku menelan kasar salivaku. Bahkan jantungku berdebar karena takut sesuatu yang kudengar sesuai dengan ekspektasiku.


"Bisakah kamu mengganti panggilan "Om" itu? Bukankah sekarang kita adalah sepasang kekasih?" pintanya.


Kukerjapkan mataku. Sungguh tak bisa kupercaya. Apa kata sapaan itu begitu penting baginya, saking pentingnya bahkan senilai dengan lima puluh juta?


Aku menarik sudut bibirku dengan perasaan lega. "Tentu saja," sahutku kemudian.


"Sekarang panggil aku, 'Sayang'," pintanya.


Aku tersenyum sambil menggaruk alisku. "Om serius? Om mau aku panggil gitu di depan semua orang?"


Om Damar mengedikkan pundaknya. "Apa kamu keberatan?"


"Ehm ..." Aku menggigit bibirku.


"Kenapa?"


"Tiara ... belum pernah sebut siapapun dengan kata itu, Om. Jadi ... rasanya sedikit rikuh, gitu," jawabku dengan jujur.


"Jadi ... Tiara belum pernah pacaran?" tanyanya seperti terkejut mendengar pernyataanku.


"Eh ..." Aku merasa panas menjalar di pipiku. Rasanya sungguh malu untuk sekedar menjawabnya. Jadi aku menunduk untuk menyembunyikan wajahku dan menggelengkan kepala perlahan.


"Sayang, kamu memang sebutir mutiara langka yang sangat berharga bagiku," ucap Om Damar. Sepasang tangan kokoh itu meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat. "Aku benar-benar beruntung sudah menemukanmu."


Diangkatnya tanganku dan dapat kurasakan kecupan lembut di atasnya.


"Jadi, aku adalah cinta pertama kamu?" tanyanya sekali lagi.


"Eng ... Memangnya Tiara keliatan playgirl gitu?" Kali ini aku mencebikkan bibirku karena kesal.


"Enggak sih, tapi keliatan aneh aja. Kemana teman-teman lelaki kamu? Apa mereka tidak melihat mutiara seindah ini bersinar di dekat mereka?"


"ish!" Kucubit lengan lelaki yang duduk di sampingku itu. Setidaknya itu adalah peringatan dariku agar dia menghentikan gombalannya.


"Lalu ... Bagaimana dengan Darren? Apa dia bukan pacar kamu?" tanya Om Damar kemudian.


"Darren? Teman," sahutku sedikit tak nyaman. "Dia sahabatku sejak tahun pertama di SMA."


"Sepertinya dia menyukaimu," lanjutnya. "Kamu yakin dia hanya teman biasa?"

__ADS_1


Aku menghela napas panjang dan menghembuskannya sekaligus. "Haruskah aku menceritakan semuanya? Tapi ... Aku tidak mau Darren sakit hati karena aibnya kuumbar pada orang asing, ah ... seharusnya bukan orang asing, bukankah Darren juga mengenalnya. Tidak, aku tidak boleh mempermalukan sahabatku sendiri."


Kugelengkan kepalaku. "Tidak, perasaan cinta di antara sahabat hanya akan menjadi alasan sebuah perpecahan. Aku tidak ingin hubungan persahabatan kami hancur hanya gara-gara--"


"Aku tahu," sahut Om Damar sebelum aku sempat menyelesaikan ucapanku. "Aku pernah mengalaminya."


"Om masih mengingat dia?" tanyaku.


"Dia hanya masa lalu yang tak dapat kugapai. Sementara kamu," ucap lelaki itu. Kurasakan tangannya membelai rambutku dan menyelipkan helaian rambut di balik telingaku. "Kamu adalah masa depan yang layak untuk aku perjuangkan."


Aku menarik sudut bibirku, memberikannya sebuah senyuman. Sungguh, kalimat itu membuat perasaanku jadi lebih baik. Jauh lebih baik.


"Jadi gimana kalau, sementara ada orang lain kamu boleh panggil seperti biasa ... Dan panggil sayang kalau kita sedang berdua," putusnya. "Tapi aku harap perlahan-lahan kamu terbiasa dimanapun juga."


"Ehm ... Iya, Om Damar sayang."


Om Damar menepuk keningnya. "Kenapa digabungin sih?"


Aku mengedikkan bahuku. "Apa ada yang salah, Om Damar sayang?"


"Astaga," gumamnya. "Aku ingin menerkam dan menggigitmu, saking gemasnya."


"Aduh, jangan Om Damar sayang," godaku yang langsung menghindar dengan berdiri dari kursi di ruang tunggu itu.


Sepasang mata kami bertemu, bahkan jarak diantara kami hanya beberapa inchi saja. Dapat kurasakan hembusan napas hangatnya di pipiku. Hal yang membuat jantungku bergemuruh seperti ombak yang sedang menerpa bebatuan terjal. Suara detakan yang semakin cepat, seperti seorang pelari maraton.


Lelaki itu mendekatkan wajahnya padaku. Perlahan tapi pasti jarak diantara kami terkikis habis, saat sepasang bibir kami bertemu dan beradu dalam setiap kecupan yang semakin memburu.


Kurasakan kedua tangannya semakin erat memeluk di pinggangku. Ciuman yang benar-benar membuatku kewalahan, bahkan membuatku seakan kehabisan napas.


Aku bisa mati kehabisan napas!


Kudorong lelaki itu menjauh dan kuhirup udara dengan kuat. Kubiarkan paru-paruku mengembang dan kembali terisi oleh oksigen.


"ish! Jangan gini dong, Om! Tiara bisa mati kehabisan napas kalo gini caranya," protesku.


"Nggak papah. Nanti kalau kehabisan napas, aku mau kok kasih kamu napas buatan," sahutnya.


Aku merengut kesal. "Ish, kenapa Om jadi mesum gini sih?"


"Mesum? Cuma sama kamu, kok. Karena aku cuma cinta sama kamu," lanjutnya. "Biar siapapun yang kehabisan napas, nggak bakal aku kasih napasku yang berharga ini."

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan terdengar di pintu ruangan itu, membuatku spontan menoleh ke pintu masuk. Terlihat Om Marcel dengan sepasang tangannya bersedekap di dada, seperti mengamati kami.


"Jadi ... sedari tadi aku hanya menunggu sepasang kekasih yang sedang bercumbu mesra, nih?" ucapnya.


"Bubar! Aku mau tutup saja kantorku daripada digunakan untuk berbuat mesum," kesal Om Marcel.


Aku segera berdiri dan merapikan diri. "Begini Om, bukannya Om Marcel yang panggil aku kemari?" tanyaku.


Om Marcel mengarahkan telunjuknya pada dirinya sendiri. "Aku? Bukan dia?" tanyanya dengan kebingungan. "Damar! Bukannya kamu yang mengatakan bahwa kamu perlu membicarakan sesuatu dengan --"


Aku menatap keduanya dengan bergantian. Sesaat bahkan kulihat Om Damar mengerjapkan matanya, seperti sebuah kode yang ditujukan pada Om Marcel.


"Jadi ... Kamu ngerjain aku, Dam?" tegas Om Marcel dengan kesal. "Haish! Dasar bocah tengik! Kurang ajar!" Diraihnya sepatunya dan dengan secepat kilatan cahaya, sepatu itu meluncur ke arah Om Damar.


Tentu saja Om Damar dengan cepat berkelit dari sepatu kulit berwarna coklat itu. Lelaki itu bahkan terkekeh saat melihat pemilik BigStar itu kerepotan berjalan dengan satu kakinya, menghampiri sepatu yang teronggok di sudut ruangan itu.


"Kita bicarakan even itu besok saja, Om. Aku sama pacarku mau kencan malam ini," ucapnya dengan santai. Tanpa memperdulikan keterkejutanku, lelaki itu meletakkan tangan kanannya di pundakku dan membimbingku keluar dari ruangan itu.


"Sayangku, kamu mau makan apa malam ini?" tanyanya dengan suara lembut.


***


Kutatap langit yang malam ini terlihat sangat cerah dengan ribuan bintangnya. Suara desiran ombak yang menyapu pantai. Kurasakan angin yang berhembus mempermainkan rambutku.


Cahaya lilin di dalam gelas pun seakan menari-nari saat angin menghembusnya, seakan mengejek ketidakberdayaan sang bayu atas dinding kaca yang membatasinya.


Sekali lagi Om Damar meletakkan seekor lobster yang baru saja dikupasnya ke atas piring nasiku. Tidak berhenti sampai di sana, lelaki itu kembali mengupas seekor lainnya, seakan semua lobster yang ada hendak disusunnya ke atas piring nasiku.


"Sudah Om, nanti kalau aku gendut gimana?" tolakku. "Siapa coba, yang mau pake model gendut?"


"Aku," sahutnya cepat. "Nanti aku buka konfeksi baju hamil dan akan aku patenkan. Kamu bisa jadi modelnya."


Aku mengerucutkan bibirku dengan kesal. "Bilang aja kalau nggak bakal laku."


Kudorong piring nasi yang mulai tertimbun oleh daging lobster itu menjauh. "Aku makan sayuran aja kalo gitu."


Om Damar mencelupkan tangannya yang belepotan bumbu berwarna kemerahan itu ke dalam mangkok berisi air. "Aku lebih suka kamu sedikit berisi daripada mengalami anoreksia," sahutnya tenang.


"Tapi ...."

__ADS_1


"Dan satu hal lagi yang lebih penting dan aku benci jika kamu mengabaikannya ...." ucap Om Damar dengan tegas.


Lelaki itu menatapku dengan tajam, seakan hendak menyampaikan hal yang sangat penting padaku.


__ADS_2