Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Jerawat Asmara


__ADS_3

"Apaan sih? Tiara nggak suka yang beginian," kesalku. "Om rese. Emang Tiara dianggap apaan? Barang? Udah ah, Tiara mau tidur!"


Kudengar suaranya masih memanggil-manggil namaku. Tapi aku tak ingin menanggapinya lebih lama lagi. Kututup panggilan video itu tanpa basa-basi lagi. 


Malam bergulir dengan begitu cepat, kekuasaan langit pun diambil alih kembali oleh sang surya. Yang dengan begitu nyata menunjukkan kekuatannya dengan cahaya dan kehangatannya.


Pagi itu aku segera bangun dari tidurku  dan bergegas bersiap ke sekolah. Sejenak aku mematut diri dan … astaga, apa itu? Sebuah jerawat tepat di ujung hidungku. Merah!


Bagaimana acara pemotretan nanti? Semuanya bakal berantakan cuma gara-gara jerawat nggak tau diri ini. Gimana kalau Om Marcel marah dan nggak mau pakai aku lagi jadi model iklannya. 


Kucoba menekan bintik berwarna merah yang menempel di hidungku. Ahh … bener-bener nyebelin. Kenapa juga sih dia muncul. Heran aja, nggak biasanya dia muncul di wajahku. 


"Tiara, cepat berangkat! Apa kamu mau terlambat ke sekolah?" Suara mama yang terdengar tinggi, menyentakku kembali pada kenyataan bahwa aku hampir terlambat. 


Dengan putus asa, aku menurunkan jari jemari tanganku yang belum juga berhasil menekan bintik itu supaya menghilang dari wajahku. Bahkan bintik merah itu terlihat semakin memerah di bagian sekitarnya. 


Ish! Kesel. Bayangin … gimana nggak kesel. Tampangku sekarang jadi mirip tokoh dalam sebuah film kartun dengan wujud tikus got itu. Heh! Mickey eh … Minnie Mouse dalam versi manusia. 


Dengan pasrah, aku keluar dari kamarku. Kuambil sebuah plester dari kotak obat dan kutempel melintang untuk menutup si jerawat yang ngeselin itu sebelum berangkat ke sekolah.


Suara klakson terdengar di belakangku beberapa detik kemudian, sebuah motor berhenti di sampingku. Pengemudinya menarik kaca helmnya ke atas dan memerintahku dengan nada khasnya. 


"Naik!" titahnya sambil menyodorkan sebuah helm kepadaku. "Cepetan! Aku nggak mau terlambat gara-gara kamu."


"Ish! Sadis amat sih ngomongnya," sahutku dengan kesal. Mau tak mau aku menerima benda bulat itu dan memasangnya di kepalaku dan melompat naik ke atas motor sportnya. 


Kuda besi itu pun melaju dengan cepat, membelah jalanan beraspal hitam menuju sekolahku. Saat kami tiba, kulihat sekuriti sekolah kami sudah menarik pintu gerbang untuk menutupnya. 


"Eeeh … eeeh … Pak, tunggu bentar," teriakku sambil melompat turun dari atas motor. Bergegas aku berlari untuk masuk ke dalam sekolah. 


Aku melewati sang security sambil mengulas senyuman yang lebar, anggap saja sebagai pengganti tiket masuk karena membiarkan aku masuk dengan selisih beberapa detik lebih lambat. 

__ADS_1


"Nggak perlu pake helm, di dalam sekolah nggak ada acara naik motor kok," ucap pria berseragam dongker itu sambil menahan tawanya.


"Ya ampun. Maap … maap. Keburu-buru jadi lupa buka, Pak," sahutku sambil menarik sudut bibirku memperlihatkan sederetan gigi di dalam mulutku. 


Aku segera berlari kembali ke tempat parkir, di mana Darren masih sibuk memposisikan motornya. Pria muda itu tertawa terkekeh melihatku kembali menghampirinya dengan benda bulat di tanganku.


"Ish! Malah ketawa, bukannya ngingetin aku." Aku mencebik kesal. 


"Yaelah … udah dijemput, udah dianterin sekolah juga. Si eneng masih juga marah," selorohnya. "Ntar aku cium juga."


Mataku membulat mendengar kalimat yang diucapkannya. Kututup kedua pipiku dengan kedua tanganku sambil berlari meninggalkannya. 


Kan nggak lucu kalau tiba-tiba bibirnya mendarat di pipiku. 


Aku segera berlari menuju kelasku. Kuabaikan bapak sekuriti yang masih menahan tawanya saat aku kembali melewatinya. Untung saja, pelajaran belum dimulai. 


Shinta yang duduk di sebelahku, mengamatiku dengan tatapan aneh, seakan ada sesuatu yang tak biasa atau ada sesuatu yang salah. Dan sungguh, itu membuatku merasa tak nyaman. 


"Itu … kenapa?" tanya gadis itu sambil menunjuk ke arah hidungku.


"Euuh … nggak, nggak papa," sahutku dengan perasaan tak nyaman.


"Kata Darren, kemarin kamu nggak selesaiin sesi pemotretan, ya? Ada apa?" tanyanya bak seorang polisi yang sedang mengintrogasi pelaku maling ayam.


"Nggak … nggak papa kok. Cuman mama pingsan, trus dibawa ke rumah sakit sama tetangga sebelah rumah," sahutku. "Makanya aku buru-buru nyusul ke rumah sakit."


"Tapi … beneran, kamu nggak papa. Trus itu kenapa?" tanyanya lagi. Sepertinya Shinta masih merasa ada sesuatu yang sedang kusembunyikan. 


"Swear, aku nggak papa kok," ucapku dengan seulas senyuman. Setidaknya aku tahu, dia bertanya karena dia peduli denganku. 


Tiba-tiba gadis itu mengeluarkan plester dari dompet obat kecil yang selalu dibawanya. Tanpa mengatakan apapun, gadis itu menempelkan plester dengan gambar hati beraneka warna itu di hidungnya. Melintang di hidungnya, persis seperti yang kulakukan.

__ADS_1


Shinta tertawa kecil kepadaku sambil menunjuk hidungnya. "Tidak kenapa-kenapa dan aku pasang plester. Sama sepertimu. Jadi … mari kita buat ini sebagai tren baru di sekolah kita." 


Mataku membulat.


Haish … tren sekolah? Astaga … ini karena jerawat bodoh, ngeselin yang muncul tanpa permisi. Bukan karena aku sengaja pasang buat gaya-gayaan.


Bu Hanna, guru mata pelajaran kimia yang membuka pelajaran hari ini, masuk ke dalam ruangan kelas kami. Seperti biasa, sepasang mata tajam guru dengan rambutnya yang sebagian besar telah memutih itu, menyapu seluruh ruangan kelas. 


Sepasang matanya berhenti tepat ke arah kami berdua. Guru senior yang terkenal killer itu melangkahkan kakinya mendekati meja kami. Shinta mengerutkan alisnya semacam memberikan kode kepadaku.


"Itu … hidung kalian berdua kenapa?" tanya Bu Hanna tanpa berbasa-basi. 


Suara gemuruh seperti sekumpulan lebah terdengar di dalam ruangan kelas kami. Mereka saling sahut menyahut menyuarakan apa yang ada di dalam benaknya. 


"Ramai saja terus, ibu akan kurangi nilai sikap kalian semua," ucap Bu Hanna dengan tenang.


Sontak seluruh siswa di dalam ruangan kelas itu terdiam. Suasana menjadi hening, hingga suara Bu Hanna kembali terdengar. 


"Ini sekolah, bukan tempat untuk fashion show," tegurnya. 


"Tapi Tiara itu model, Bu," cetus seorang siswa laki-laki – entah siapa – yang ada di barisan belakang.


Shinta menyodokku dengan siku tangannya. Entah kenapa ingatanku kembali pada peristiwa foto-foto di mading sekolah kemarin. Aku menoleh ke belakang. Tapi sungguh, aku tak bisa mengenali suara asing itu. 


"Biarpun model, sekolah tetap adalah sekolah. Buka plester kalian!" perintah guru berperawakan mungil itu. 


Shinta segera melepaskan plester yang melintang di hidungnya. Dan tentu saja aku terpaksa melakukan hal yang sama. 


Perlahan kukelupas plester dengan warna coklat itu dari hidungku. Lalu kututup bagian bulatan memerah itu dengan tanganku. 


Bu Hanna menyilangkan kedua tangannya dan menghela napas panjang. "Kenapa? Kamu malu karena ada jerawat di hidungmu lalu kamu berusaha menyembunyikannya?" 

__ADS_1


Aku mengangguk pelan. Sementara Shinta menahan tawanya dan mendoyongkan badannya ke arahku. "Oh … jerawat asmara toh alasannya."


__ADS_2