Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Menunggumu Sepanjang Hidupku


__ADS_3

Sepasang mataku membulat ketika melihat sosok pria yang sedang bercakap denganku di telepon itu, sudah berada tepat di hadapanku. Jarak tiga meter yang memisahkan kami, tak terasa cukup untuk meredam kecemasan dalam hatiku. 


"Sudah terima teleponnya?" Suara Darren tiba-tiba terdengar di belakangku. 


Dengan gugup aku membalikkan badanku dan menjawabnya pertanyaannya. 


"Euuh … m–maaf. Bukan aku ingin mengacau di hari ulang tahunmu. Tapi … aku kurang enak badan." Aku mencari alasan agar dapat melepaskan diri dari acara yang sebenarnya kuhindari itu.


Darren meletakkan tangannya di keningku. Sejenak dahinya berkerut. Bisa saja dia tahu, kalau sebenarnya aku hanya ingin menghindarinya.


“Dingin! Apa kamu kelelahan? Aku antar pulang, ya?” tanyanya dengan wajah terlihat panik. 


Aku meraih lengan pria muda yang hendak masuk kembali ke dalam resto untuk membubarkan acaranya. 


“Tidak … tidak! Kamu nggak perlu antar aku pulang,” ucapku menghalangi keinginannya. “Aku nggak papa, kok. Aku bisa pulang sendiri.”


Pria muda itu masih menatapku dengan serius. “T–tapi ….”


“Apa kamu tega membubarkan acara ini hanya demi mengantarku pulang?” tanyaku. 


Pria itu terlihat semakin galau. Wajahnya terlihat semakin gelisah. 


Aku menarik sudut bibirku dan mengangguk pelan. “Masuklah. Jangan kecewakan mereka yang sudah susah payah datang kemari untuk merayakan kegembiraan bersamamu.”


Pria muda itu menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak terasa gatal. “Oke, tapi …. Ah, baiklah. Aku akan menghubungimu nanti,” ucapnya kemudian.


Aku menganggukkan kepalaku. “Sekarang masuklah,” ucapku sambil melambaikan tangan. 


Sejenak pria muda itu tampak mengerutkan dahinya, seperti menimbang kembali keputusan yang telah diambilnya. Tak lama kemudian dia menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis sambil melambaikan tangannya. 


Kuhela napas dalam-dalam. Syukurlah, semua akan baik-baik saja. Tak ada yang perlu dicemaskan, semua akan baik-baik saja. Kulangkahkan kakiku perlahan menjauh dari resto itu. 


“Dia … kekasihmu?” Suara itu terdengar begitu dekat denganku. 


“Om Damar! Berhentilah mengikutiku,” kesalku.

__ADS_1


Pria itu mengatur langkahnya menyeimbangkan dengan kecepatan langkahku. Dengan acuh dan tetap cuek seolah tak ada seorang pun di sekitarku, aku terus melangkah.


“Not bad at all. Sepertinya bakal jadi saingan beratku,” ucapnya seolah aku sudah mengiyakan pertanyaannya tadi. 


Aku menghentikan langkahku. Kusipitkan mataku menatap wajah pria yang terus mengusikku itu. 


“Aku tidak berniat untuk berpacaran dengan siapapun. Tidak Om Damar dan tidak pula dengan Darren!” ucapku sedikit kasar.


“Aaah …. Jadi namanya Darren.” Pria bertubuh tegap itu manggut-manggut seolah berusaha mematri nama itu di dalam otaknya. 


“Aaah … sudahlah. Om Damar nggak akan paham,” ucapku dengan putus asa dan kembali berjalan menuju eskalator turun. 


Kali ini aku sengaja tidak menggunakan lift. Tentu saja karena aku tidak ingin terjebak kembali dalam ruangan berukuran kecil itu bersama dia. Aku masih ingat saat kemarin aku tak berkutik di dalam sana. 


“Tiara …. Dengar aku.” Pria itu meraih lenganku dan menarikku dalam pelukannya. “Aku tidak tahu apa yang baru saja kamu lihat. Tapi satu hal yang perlu kamu ketahui, kamu salah paham.”


“Om, lepasin!” ucapku. Kedua tanganku mendorong tubuhnya menjauh dariku. “Lepasin nggak!”


"Sssh …," desisnya untuk menenangkan aku. "Tiara, please."


Astaga, ini benar-benar memalukan. Aku bisa bayangkan semua pengunjung bisa saja menonton kami. Ngapain sih, dia pake acara peluk segala. Apa dikiranya sedang main sinetron?


"Udahan, yuk marahnya. Kita pulang." Om Damar mengendurkan pelukannya. Kini tangannya menggenggam erat tanganku seakan takut aku akan hilang jika dia melepasnya sedetik saja. 


*** 


Aku masih diam membisu sepanjang perjalanan. Sementara Om Damar sesekali menatapku dengan seulas senyuman di bibirnya. Tentu saja itu membuatku semakin kesal. 


"Sebenarnya apa yang kamu lihat? Aku dengan kekasihku yang mana?" tanyanya tiba-tiba. 


"Ish! Ngaku kan sekarang?" kesalku. 


Pria itu mengulurkan tangannya dan mengusap puncak kepalaku. "Itu bukan pernyataan, tapi pertanyaan," sahutnya sambil terkekeh. "Sekarang ceritakan padaku apa yang kamu lihat." 


"Buat apa? Nggak masalah kok, Om mau jalan dengan siapapun. Om punya hak untuk itu," jawabku tanpa mau menceritakan kejadian yang sebenarnya. 

__ADS_1


"Astaga, Tiara … Tiara." Pria itu menggelengkan kepalanya sambil tertawa terkekeh. Ditepikannya kendaraannya sebelum menghentikannya. Lalu Om Damar turun dari mobilnya begitu saja. 


Dia memutar dan berhenti di depan pintuku. "Turunlah, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu."


Pria itu membuka pintu mobilnya untukku. 


Heh! Apa dia marah? Apa dia sudah merasa kesal karena aku terus marah padanya? Kenapa dia memintaku turun? Apa dia akan meninggalkanku terlantar di jalanan?


Baiklah, nggak masalah. Toh aku bukan anak kecil yang akan tersesat bahkan di kota sendiri. Tanpa rasa takut, aku turun dari mobil.


Sang surya mulai turun di ufuk barat. Udara mulai terasa sejuk dengan angin sepoi yang meniup pucuk daun di pepohonan. Cahayanya yang mulai meredup menambah kesyahduan suasana taman kecil perumahan itu. 


"Tiara," ucapnya mengawali percakapan kami. Sepasang mata kami saling bertemu. "Aku pernah jatuh cinta. Satu kali. Dan itu menyisakan rasa sakit yang mendalam saat perasaan itu diabaikan oleh orang yang kusayangi." 


Pria itu kembali terdiam, sepertinya dia sedang mengatur perasaannya yang kembali memutar ulang memori masa lalunya. Kisah cinta yang tak sampai.


"Saat aku bertemu denganmu, aku seakan menemukan hidupku kembali. Aku yakin, kehadiranmu mampu mengisi kekosongan hatiku," lanjutnya. 


Om Damar menarik sudut bibirnya, sementara aku masih menatapnya tanpa ekspresi. Aku bahkan tidak tahu harus mengatakan apa.


Tiba-tiba pria itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. "Tiara … aku tahu, mungkin ini terlalu cepat untukmu. Tapi … satu hal yang pasti. Aku hanya tidak ingin kehilangan dirimu."


Benda berkilau di dalam kotak hitam itu terlihat sangat indah. Aku menutup mulutku dengan satu tanganku karena terkejut. Kenapa dia memberikannya padaku? Jadi … apa wanita cantik pemilik toko perhiasan itu bukan kekasihnya?


Om Damar mengambil benda berbentuk lingkatan dengan mata yang bersinar di atasnya itu. Tangannya meraih tanganku, hendak menyematkan perhiasan nan cantik itu ke jari manisku. 


Aku menarik tanganku dengan cepat. Bagaimanapun aku tak bisa menerimanya! 


"Maaf … aku tidak bisa. Aku masih sekolah, Om," sahutku lirih sambil menundukkan wajahku. 


"Aku akan menunggumu, Tiara. Setahun ataupun dua itu tak berarti untukku. Bahkan aku sudah menunggumu selama tiga puluh lima tahun hidupku." Pria itu menatapku dengan tatapan lembutnya yang khas.


Astaga, kenapa jantungku berdebar begitu kencang. Perasaan apa ini? 


Aku menatap sepasang mata itu. Tak terlihat dusta di dalamnya. Kali ini perasaanku mengatakan bahwa dia telah menceritakan yang sebenarnya. Tapi … haruskah aku menerima pernyataan itu? Haruskah aku menerima cintanya?

__ADS_1


__ADS_2