Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Uji Nyali


__ADS_3

"A–apa itu?" tanyaku. 


Perlahan kuperhatikan sesuatu yang melayang di atasku itu. Sepasang mata yang melotot itu …. Hanya sebuah boneka. Aku kembali bernapas lega. 


Tiba-tiba sebuah kursi bergoyang keras dengan sendirinya di hadapanku, bahkan tengkukku terasa dingin karena tiupan angin. Heh! Baiklah, semua ini hanya settingan untuk menakut-nakuti pengunjung.


Pintu keluar sudah terlihat. Ini nggak seseram apa yang ada di dalam bayanganku. Kereta itu terus bergerak ke arah cahaya yang mulai terlihat. Aman! Semuanya aman.


Seorang wanita dengan kostum menyeramkan, menyambut kami bahkan membantu kami turun dari kereta. Aku masih mengerjapkan mataku, beradaptasi dengan cahaya terang yang masuk ke dalam retinaku. 


Baru saja kami keluar dari ruangan gelap bernuansa horor itu, Darren kembali menarikku ke dalam sebuah wahana yang ada tepat di sampingnya. Sebuah wahana dengan tema yang sama!


"Heh! Apa kamu sengaja mau bikin aku jantungan?" kesalku.


"Nggak … aku cuman pingin tahu, kamu bukan seorang penakut, kan?" tantangnya. 


"Nggak, emang aku nggak takut. Cuman … aku nggak suka sound nya yang bikin aku kaget!" dalihku tak mau mengakui apa yang aku rasakan sebenarnya.


Darren tertawa pelan. "Ciee … kamu pikir aku percaya? Aku sama sekali nggak yakin kamu berani," tantangnya. 


"Dih … terserah!" sahutku sambil berlalu darinya. 


"Mana buktinya? Kamu melarikan diri. Itu artinya kamu takut, Tiara," ejeknya. 


Aku menghentikan langkahku dan berbalik menatapnya. "Apa yang harus aku buktikan? Masuk ke tempat berisik seperti itu?" 


Ish! Jadi dia menantangku! Perlahan kulihat pria muda itu menganggukkan kepalanya. Itu berarti dia benar-benar menantangku. 


Aku menghela napas. Sedetik kemudian pria muda itu telah menyeretku masuk ke dalam wahana rumah berhantu itu tanpa bisa kutolak.


Pemandangan yang terlalu sulit untuk kujelaskan, karena di dalam sana pencahayaan sangat minim. Hmm ... Mungkin karena mataku belum bisa beradaptasi dengan jumlah cahaya yang ada. Hanya cahaya temaram yang terlihat dan beberapa lampu berwarna merah. Dan seperti yang aku duga, suara-suara yang mengundang bulu kuduk meremang, terdengar di sekitarku. Suara tangis, suara pekik dan kekeh tawa dengan nada yang aneh menyapa telingaku. 

__ADS_1


Bukan hanya bulu kudukku yang meremang, tapi jantungku pun mulai berdetak dengan lebih kencang. Sesekali kurasakan hembusan angin di tengkukku. Heh! Aku menepis kesal angin yang dingin di leherku. 


"Ren, jangan bercanda ih!" gumamku. Aku tahu pasti itu dia, karena dialah yang berjalan di belakangku. 


Namun ketika aku menoleh, Darren sama sekali tak ada di belakangku. Bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa dia ada di sekitarku. Jadi … siapa tadi yang menghembusku? 


Aku mengamati sekelilingku. Mungkinkah aku berjalan terlalu cepat hingga Darren tertinggal sebegitu jauhnya? Ish! Haruskah aku menunggunya, atau … sebaiknya aku tinggal saja. Toh kami akan tetap bertemu di pintu keluar. 


Baru saja aku hendak melangkah, tiba-tiba terdengar suara menghentak di sekitarku. Suara menghentak seakan sesuatu hendak melepaskan diri dari dalam kerangkeng besi. 


Aku menjerit saking terkejutnya. "Ren, kamu dimana?" 


Kakiku seakan begitu berat untuk kuangkat, ketika kulihat sebuah tangan seakan hendak menggapai keluar dari balik jeruji besi di depanku. 


"Jalan Ra!" 


Tiba-tiba saja suara yang kukenal itu terdengar di telingaku. Aku berpaling dan menatapnya. Kugelengkan kepalaku dengan cepat. "Nggak. Kita balik saja," sahutku dengan suara yang kurasa sedikit bergetar. 


"Kenapa cepat-cepat sih?" Suara bernada protes itu terdengar di telingaku.


"Kamu nggak liat, apa! Itu, cewek pake baju biarawati ngejar kita!" sahutku. 


"Yaelah, Ra. Itu kan nggak beneran." Darren berusaha membangkitkan keberanianku. 


"Mau beneran atau nggak. Aku nggak nyaman berada di sini." 


Darren menghentikan langkahnya. Dan tentu saja, mau tidak mau aku pun berhenti karena tangan kami berpaut. Aku berpaling menatapnya dengan perasaan kesalku. 


"Kenapa kamu nggak nyaman? Bukankah ada aku di sini? Apapun yang terjadi, aku akan lindungin kamu, Ra. Karena aku nggak mau kamu sakit ataupun terluka," ucapnya. 


Aku melepaskan genggamanku. 

__ADS_1


Roar!


Suara keras itu terdengar di belakangku. Aku menoleh ke belakang. Seorang zombie terlihat keluar setelah berhasil mendobrak sebuah pintu kayu. 


Sepasang mataku membulat dan aku segera berteriak dengan keras. Kulihat makhluk mengerikan itu berjalan terhuyung menghampiri kami sebelum aku menutup mataku. 


"Sssh …. Udah, udah. Lepasin dong. Ntar aku ikutan jadi zombie karena kamu nggak kasih aku napas." 


Kalimat Darren menyadarkan aku bahwa tanpa sadar aku telah merangkulnya. Perlahan aku mengintip zombie yang tadi berada di balik badannya. Zombie itu sudah hilang!


"Iya, nggak ada. Udah nggak ada. Dia udah aku usir," sahutnya seolah bisa membaca pikiranku. 


Kulepaskan sepasang tanganku dari pinggangnya. Sungguh itu membuatku merasa sangat malu. Ya ampun, kenapa aku terlihat seolah menanggapi perasaannya. Bagaimana kalau tiba-tiba dia merasa aku memberinya sebuah harapan?


"I–itu tadi … maaf … aku nggak sengaja," ucapku dengan terbata-bata. 


"Sengaja juga nggak papa, kok." Aku melihat wajah pria muda itu tampak tersipu-sipu. "Aku rela mau dipeluk sepuas apapun sama kamu, Ra." 


"Euuuh …." Aku menggelengkan kepalaku, berbuat seolah tak mendengar kalimat apapun dari bibirnya, dan kembali melangkah meneruskan perjalanan kami. 


Tapi sepertinya tak ada waktu untuk bersantai bagi kami. Tiba-tiba terdengar suara gergaji mesin yang sangat keras, bersamaan. Kami berdua menengok ke belakang. 


Tepat saat itu kulihat seorang pria bertopeng dengan jubah hitamnya mengejar kami dengan gergaji mesin di tangannya. 


"Gila! Lari!" teriakku. Tanpa terasa lagi-lagi tangannya telah menggenggam erat tanganku. Dia menyeretku keluar dari wahana yang sangat mengerikan itu, melalui sebuah lorong gelap yang seolah tanpa ujung! 


Suara itu semakin keras, tapi untunglah. Aku sudah dapat melihat sebuah pintu di ujung sana. Sebuah pintu yang aku yakin adalah pintu keluar dari wahana ini. 


"Kamu yakin ini pintu keluarnya?" Darren seolah memperingatkan sesuatu sedang menanti kami di balik pintu itu. Kulihat pria muda itu mengedikkan pundaknya, seolah memasrahkan apapun pada keputusanku.


Aku memutar pergelangan tanganku, membuat kenop pintu itu ikut berputar dan terbuka.

__ADS_1


__ADS_2