Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Kriteria Idaman


__ADS_3

Seulas senyuman tersungging di bibirnya. “Seandainya bisa, aku ingin waktu berhenti sejenak saat ini, Tiara. Karena aku ingin dapat lebih lama bersamamu. Seperti saat ini," lirihnya. Sepertinya dia hanya ingin aku saja yang mendengar ucapannya.


Ah .... Tentu saja, ruangan ini terlalu padat. Bisa-bisa semua orang mendengar kalimat lebaynya itu. Pasti dia akan merasa malu, apalagi jika salah seorang dari mereka mengenal dirinya.


"Kamu yakin, Ren. Dia bakal dateng ke acara ulang tahun kamu besok?" 


Aku tersentak mendengar suara itu. Suara itu suara yang aku kenal. Itu suara Raka! Astaga, untung saja aku berdiri membelakangi mereka. Semoga saja mereka tak mengetahui kehadiranku di sini.


"Yakin aja, soalnya aku dah wanti-wanti Shinta buat seret dia dateng. Makanya aku mau reservasi dulu meja buat kita besok."


Celaka, ada Darren pula. Duh … cemana nih kalau mereka berdua tahu aku ada di sini, sama om-om pula. Apes bener sih, di kota sebesar ini, bisa-bisanya ketemu mereka di sini. Jika mereka berdua tahu aku bersama om Damar, pasti mereka akan memberitahukan hal ini pada Shinta. Dan ... tak ada yang bisa menjamin rahasia ini tak akan menyebar ke seisi sekolah.


"Apa kita sekalian aja nonton premiere film yang itu. Denger-denger pembuatan film nya menghabiskan total biaya jutaan dolar."


Deg!


Apa mereka juga akan nonton film yang sama denganku? Aduh … mampus deh, cepat atau lambat mereka akan melihatku. 


"Sepertinya nggak bisa, Ka. Aku kemarin sudah cek melalui aplikasi book online. Kursinya full book. Gila nggak tuh." 


Kali ini aku bernapas lega. Hanya perlu menyembunyikan diri sebentar lagi, dan aku bebas dari mereka. Kutundukkan wajahku, kembali bersembunyi di balik tubuh tegap om Damar. 


Suara denting terdengar. Pintu lift terbuka. Beberapa orang di dalamnya bergegas turun dan beberapa masuk ke dalam lift. Kami pun kembali berdesakan. Bahkan mereka masuk dan membuatku hampir jatuh karena desakan mereka. Om Damar dengan cepat menahanku. Sepasang tangannya kini berada di pinggangku. 


Astaga, kenapa mereka bisa sebrutal itu. Seperti lift adalah satu-satunya jalan untuk naik ke atas. Bukankah ada eskalator di beberapa tempat lainnya. 


Namun aku merasa cukup lega karena aku tidak lagi mendengar suara mereka. Sepertinya mereka berdua sudah turun dari lift. Ini artinya situasi sudah aman.


Seharusnya aku tak perlu berdebar seperti ini. Aih … tangan ini kenapa terus menempel di pinggangku, sih. Nggak tau apa, kalau rasanya risih banget. 


Kupegang tangan itu untuk melepaskannya. Tapi om Damar seperti enggan untuk melepaskannya. Kini tangannya menggenggam kedua tanganku.  

__ADS_1


Pintu lift kembali memperdengarkan suara dentingnya. Suara khas tempat pertunjukan terdengar. Beberapa orang yang tadi berdesakan masuk, sekarang mulai mengosongkan ruang kecil di dalam lift. 


Om Damar yang masih tak mau melepaskan tanganku, menggandengku keluar dari dalam lift. 


"Lepasin Om, malu diliatin orang." Aku berusaha meloloskan tanganku dari genggamannya.


"Ssst … begitu banyak orang. Gimana kalau tau-tau kamu hilang?" tanyanya seolah aku seorang bocah kecil yang akan tersesat di tengah hutan. 


"Ya ampun, Tiara bukan anak kecil, Om," sahutku sambil tertawa terkekeh.


Om Damar tetap tidak melepaskan genggaman tangannya. Dengan tenang dia membimbingku ke sebuah studio. Bahkan aku terheran-heran ketika beberapa pekerja di tempat pertunjukan itu membungkukkan badannya dengan hormat.


"Om Damar, apa kita nggak beli tiket dulu?" tanyaku saat pria itu masuk begitu saja ke sebuah studio. 


"Tiketnya full book, Tiara. Nanti kita nontonnya berdiri aja, ya … di bagian belakang." Pria itu tertawa terkekeh. 


"Ish! Nggak mah ah, kita pulang aja. Nggak papa kok, walau nggak premier. Kita nontonnya kapan-kapan aja." Aku menahan langkahku, mengajaknya membatalkan keinginannya. 


"Heh! Kenapa sepi gini sih?" Sepasang mataku membulat melihat ruangan yang penuh dengan deretan kursi yang kosong melompong itu. 


Om Damar membimbingku untuk duduk di bagian tengah, kursi dengan view terbaik di studio itu. "Kan udah aku bilang, ini premier. Jadi sebelum sebuah film dimainkan di gedung ini, harus diputar terlebih dahulu untuk cek kelayakan sebelum penonton mengkonsumsinya." 


Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. Oh, jadi sebelum tayang perdana yang dikonsumsi banyak orang itu, mereka selalu memeriksa kualitas tayangnya. 


Tapi … bukankah itu cukup dengan melihat beberapa menit saja. Kenapa mereka mau membuang waktu dengan memutar setiap film nya selama dua jam untuk memastikan kualitas gambar dan suaranya. Hmm … ini aneh! 


Sudahlah, untuk apa aku memikirkan hal yang tak begitu penting. 


Tak berapa lama kemudian, film pun dimulai. Hanya ada seorang wanita yang masuk untuk menghantar cemilan untuk kami. Hmm … aku sama sekali tak yakin jika film ini diputar sekedar untuk cek layak tampil semata. 


Tapi … ah, tidak mungkin. Mana mungkin om Damar sengaja membooking full studio ini hanya untuk kami berdua. Mustahil. Berpikiran seperti ini saja rasanya aku terlalu kegeeran. Astaga, hentikan pikiran konyolmu, Tiara! 

__ADS_1


Tiba-tiba pria itu mendekatkan wajahnya. "Tiara, menurut pendapatmu, apa gadis itu akan mengetahui identitas protagonis pria?" bisiknya di telingaku. 


Aku mengerutkan keningku. "Seharusnya sutradara membuatnya seperti itu." 


"Lalu apa kisah mereka akan berlanjut, setelah gadis itu mengetahui identitasnya?" bisiknya sekali lagi.


"Entahlah …," sahutku kemudian.


"Seandainya kamu berada di posisinya, apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya sekali lagi. 


Pertanyaan yang membuat aku tercenung. Seandainya aku menjadi gadis itu, mendapatkan cinta yang tulus dari pria yang bahkan akan menyerahkan hidupnya asalkan gadisnya selamat. Haruskah dia membencinya hanya karena masa lalunya?


"Entahlah, mungkin aku akan menjauh darinya. Tapi … ah, pria seperti itu sangat langka," jawabku.


"Apa kamu menyukai tipe pria seperti itu?" 


Aku tersenyum lebar. "Semua gadis pasti menyukai pria seperti itu. Hanya tinggal bagaimana mereka berdua melepas semua kenangan peristiwa masa lalunya."


"Bagaimana dengan aku? Apa menurutmu, aku termasuk dalam kriteria pria idaman?" tanyanya untuk kesekian kalinya.


Aku tertawa terkekeh. "Tentu saja. Aku sedikit heran, kenapa Om Damar tak juga menikah? Jangan katakan kalau tak ada gadis yang mau dengan Om," ucapku kemudian.


"Tentu saja, kamu benar. Tapi …." Om Damar menggelengkan kepalanya. 


Aku ikut menggelengkan kepalaku. "Kenapa Om? Apa mereka tidak masuk dalam kriteria gadis idaman Om?"


Om Damar tersenyum kecut.


"Kalau begitu, Om harus menurunkan kriteria cewek idaman Om. Ingat Om, kesempurnaan hanya milik yang di atas." 


"Jangan khawatir. Aku sudah menemukan gadis itu, Tiara." Pria itu tersenyum penuh arti. 

__ADS_1


__ADS_2