Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Gadis Cantik Dalam Foto


__ADS_3

Mau tak mau, aku masuk ke dalam rumah itu. Rumah yang terlihat mewah, dengan perabotnya yang rapi, bersih dan terawat dengan baik. 


Benar gak sih, dia hidup sendirian? Tapi kalau hidup sendirian, buat apa rumah sebesar ini? 


"Tunggu ya, aku cuman membersihkan diri sebentar," ucapnya sebelum bergegas meninggalkan aku. 


Aku masih melihat sekelilingku dengan tatapan takjub. Bagaimana tidak, rumah ini begitu besar. Sebuah foto besar tergantung di dindingnya. Foto besar seorang pria muda yang tampan! Astaga, apa itu dia saat masih seusiaku? 


Aku berjalan mendekatinya. Di bawah foto itu, terlihat beberapa foto lainnya berjajar di atas sebuah rak. Hmm … foto-foto dengan bingkai yang bersih tanpa debu. Seseorang pasti merawat semua ini setiap hari.


Ku perhatikan gambar di dalam foto itu. Masih gambar wajah pria muda yang sama dan seorang gadis cantik di sampingnya. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Hmm … siapa dia? 


Cukup banyak foto yang kulihat di sana, di atas rak itu. Dan semuanya dengan gadis yang sama. Mungkin juga dia model yang dimaksud oleh Kak Merry. 


Ingatanku kembali pada semua yang diucapkan Kak Merry saat tadi meriasku. Tentang bagaimana ayah Om Damar memaksakan diri untuk memakai putranya sebagai model pria hanya karena putranya menyukai seorang model yang juga adalah teman akrabnya. 


Dan jika diperhatikan, kisah ini tak jauh berbeda dengan sekarang. Om Damar seperti mewarisi sifat ayahnya. Dia tidak dapat ditolak! Setiap keinginannya seperti sebuah hukum yang harus dipatuhi. 


Ah … tidak, tidak. Mungkin aku terlalu berlebihan. Bukankah Om Damar tidak memaksakan aku menjadi kekasihnya, tetapi dia mengatakan akan menunggu sampai aku siap dengan sebuah hubungan. 


"Tiara." 


Suara bariton itu membuatku terkejut. Aku berbalik dan menatap pria yang sedang menuruni anak tangga dengan langkah tergesa. Hampir saja aku menjatuhkan foto yang hendak ku kembalikan ke atas rak itu karena fokusku tiba-tiba saja terpecah. Dengan gesit pria itu ikut menangkapnya. 


Om Damar mengambil foto itu dari tanganku dan meletakkannya kembali ke tempat asalnya. Tercium aroma maskulin di tubuhnya, menandakan bahwa posisi kami sangat berdekatan. 


Wajahnya yang tampak segar dengan kemeja dongker dengan model slim fit yang memperlihatkan postur kekar tubuhnya membuat jantungku berdebar semakin kencang. 


"Maaf sudah lama menunggu," ucapnya. Lalu pandangan matanya jatuh pada gambar-gambar di belakangku. Sesaat dia terdiam, tapi dengan cepat dia mengubah raut emosi di wajahnya dengan sebuah tarikan di sudut bibirnya. 

__ADS_1


"Kita keluar makan sekarang, ya. Perutku sudah sangat lapar," ucapnya sambil meletakkan tangannya ke atas pundakku. "Kamu ingin makan apa?" 


Baiklah, mungkin aku tak perlu membahasnya. Bisa saja dia tak ingin membahas masalah ini denganku. Aku akan menunggu, aku yakin suatu saat nanti dia akan menceritakan semuanya dengan sendirinya. 


Restoran makanan laut, tempat yang kami berdua pilih untuk makan malam hari ini sangat ramai. Aku mengamati bahkan hampir tak ada meja kosong di dalam ruangan itu. 


"Om Damar tinggal sendirian di rumah sebesar itu?" tanyaku karena tergelitik penasaran.


"Memangnya kenapa kalau sendirian?" jawabnya balik bertanya.


"Tiara masih nggak percaya kalau sendirian. Rumah itu terlalu rapi buat seorang pria yang hidup sendiri semacam Om," sahutku tanpa basa basi. 


Pria itu menautkan sepasang alisnya. "Kamu pikir rumahku akan terlihat kotor, kacau berantakan gitu?" 


"Euuh … b–bukan, Om. Maksudku … nggak mungkin Om sendirian membersihkan rumah itu," sahutku cepat. 


Om Damar tertawa terkekeh. "Tentu saja bukan aku. Ada seorang pembantu yang datang bekerja setiap pagi dan pulang sebelum senja. Dia yang merapikan dan membersihkan rumahku setiap harinya. Sebelum kamu siap menjadi istriku." 


Aku mencebikkan bibirku. "Memangnya siapa bilang aku mau jadi istri Om?" 


Ish! Kenapa dia sepercaya diri itu mengatakan aku akan menjadi istrinya? Apa dia yakin aku bakal mau jadi istrinya? 


"Apa kamu yakin?" tanyanya menggoda.


Aku menggelengkan kepalaku. "Nggak ah, nggak mau. Tiara nggak mau dikasih tugas bersih-bersih dan rapi-rapi tiap hari," sahutku. 


Om Damar mengulurkan tangannya dan mengusap puncak kepalaku. "Duh … duh …. Memangnya siapa juga yang ngomong bakal suruh kamu jadi tukang bersih-bersih." 


"Lah tadi … bukannya Om bilang .…" Lidahku mendadak kelu. 

__ADS_1


"Tentu saja kamu yang akan mengurus rumah dengan bantuan mereka," ucapnya dengan senyuman yang mengembang. 


"Euuuh … kenapa pembicaraan ini semakin dalam, sih," batinku. Sungguh aku merasa sangat canggung berada dalam pembicaraan dewasa seperti ini. 


Akhirnya aku lebih memilih menatap gelas berisi lemon tea di hadapanku sambil mempermainkan sendok pengaduk di dalamnya. Seperti kehabisan kalimat untuk kuucapkan. 


"Tentang foto-foto tadi … bukankah itu foto-foto Om Damar?" tanyaku mencoba mengubah topik pembicaraan kami. Ingatanku kembali pada foto-foto yang berbaris rapi di atas rak pajangan. Ah … tentu saja pasti karena gadis cantik di dalam foto itu.


"Benar. Itu foto-fotoku saat masih seusia kamu," ucapnya tanpa ekspresi. 


Aku menganggukkan kepalaku sebelum menyesap minuman segar yang masam itu. Aku mengernyitkan wajah menginterpretasikan rasa yang menyentuh lidahku. Asam! 


Om Damar tertawa terkekeh. "Kenapa? Terlalu masam? Apa kamu mau nambah gula?" tawarnya. 


"Euuh … beneran, asem! Seperti bau Om Damar kalau belum mandi," ucapku sambil meneguk sebotol air putih yang ada dj dekatku. 


Tangan itu kembali mengusap puncak kepalaku sambil tertawa terkekeh. "Awas aja …. Kamu bakal inget aku terus tiap pesen lemon tea. Kamu bakal inget bau acem yang bikin kamu kangen," guraunya. 


"Dih …. Kalau gitu nggak pesen-pesen lemon tea lagi, deh," cetusku dengan cepat.


"Nggak mungkin …. Aku tahu kamu suka banget sama minuman yang satu itu," sanggah Om Damar. Sepertinya dia sudah dapat menyimpulkan minuman favoritku hanya dengan dua kali makan malam bersama saja. 


"Apa Om Damar juga mengalami hal yang sama?" 


Tanpa sadar aku mengucapkan sesuatu yang tak seharusnya kubahas. Pria itu menghentikan tawanya. Wajahnya berubah menjadi sedikit serius.


"Apa maksudmu?"


"Euuh … aku suka minuman lemon tea, seasam apapun aku tak bisa berhenti untuk menyukainya. Apa perasaan yang sama Om rasakan pada gadis di foto itu?" 

__ADS_1


__ADS_2