
“Kamu terlihat cantik hari ini,” pujinya saat melihatku datang menghampirinya.
Sepasang matanya tak berpindah bahkan tidak pula mengerjap dariku. Seperti seseorang yang baru pertama kali ini bertemu, padahal kemaren juga sudah bertemu. Ah … aneh sekali.
“Iya dong, Tiara kan, cewek,” sahutku dengan cepat. “Ayolah kalau mau berangkat sekarang. Semakin cepat selesai urusannya, semakin cepat kita pulang, kan?”
Aku melihat sekelilingku. Tak ada tanda-tanda keberadaan mama. Hmm … pasti mama sudah berangkat ke pasar deh. Seperti biasa, mama lebih suka belanja sore. Katanya sih, biar bisa nyicil potong-ptong malamnya dan tinggal olah pagi harinya.
“Kenapa? Ada yang ketinggalan?” tanya Om Damar.
Aku menarik sudut bibirku. “Nggak, tadinya mau pamit sama mama. Tapi … pasti dia sudah berangkat ke pasar.”
“Ya udah, yuk.”
Om Damar membuka pintu mobilnya untukku. Mobil bertype sedan dengan simbol logo bundar dengan warna biru putih di tengah itu terparkir dengan rapi di depan pagar rumahku.
Setelah aku masuk, pria itu bergegas menutup pintu. Lalu dia sendiri masuk dan duduk di kursi pengemudi di sebelahku. Sepertinya cukup aneh, kenapa seorang pemilik perusahaan besar seperti dia tidak memakai jasa seorang pengemudi. Mungkin saja tak ada seorang pun tahan dengan sikap buruknya. Ish … bisa jadi dia bukan pria baik-baik.
Aku melihatnya dari sudut mataku. Gimana kalau dia benar-benar orang jahat? Bagaimana kalau dia menculikku? Aih .… Jangan-jangan dia salah satu sindikat perdagangan manusia.
Aku menelan kasar salivaku. Suasana menjadi semakin tegang karena pikiran-pikiran buruk terus datang silih berganti. Seharusnya kemarin aku menolak saja. Kenapa sih aku sebodoh ini, mau aja ngikut perintahnya, seperti seekor kerbau yang dicucuk hidungnya.
Pria itu berdehem. Suaranya membubarkan lamunanku. Aku tergugup dan menebarkan arah pandangku secara random. Tapi sepertinya om Damar mengerti bahwa aku sedang berada di dunia halusinasiku.
“Mikirin apa sih? Besok ada ulangan lagi?” tanya Om Damar. Sepasang matanya menatapku sekilas, tanpa mengalihkan perhatiannya pada jalanan di depannya.
“Euuuh .… Anu Om. Tiara ngerasa aneh aja, kenapa Om nggak pake sopir pribadi sih? Apa nggak capek kemana-mana setir sendiri?” tanyaku.
Aih … semoga dugaanku salah. Semoga dia bukan orang jahat, seperti yang ada di dalam pikiranku tadi. Seandainya dia orang jahat, maka tamatlah riwayatku. Tak ada orang yang akan menemukan dan menyelamatkan aku. Aku sendirian di sini.
Om Damar menggelengkan kepalanya pelan. Tawanya yang terdengar berirama, masuk ke dalam gendang telingaku. Terdengar begitu renyah, begitu ramah dan bersahabat.
“Apa kamu suka diikuti kemana pun kamu pergi? Apa kamu suka memasrahkan keselamatan dirimu kepada orang lain?” tanyanya dengan nada rendah.
“Ya … enggak sih. Nggak bebas dan nggak enak. Apalagi pasrah pada orang lain. Kecuali … kalau memang udah nggak bisa apa-apa, ya memang harus pasrah, Om.” Aku mengedikkan pundakku.
__ADS_1
Om Damar mengadu kedua jarinya hingga terdengar suara “klak!” dari hasil pertemuan kedua jarinya. “Tepat sekali! Selama aku masih bisa melakukan semuanya sendiri, aku akan melakukannya sendiri.”
Aku tersenyum tipis. Sepertinya semua kecemasan yang aku rasakan itu tidak beralasan. Entah kenapa aku merasa yakin, jika dia telah mengatakan semuanya dengan sejujurnya. Tak ada yang perlu dikhawatirkan!
Kuarahkan pandanganku ke luar jendela. Tampak begitu banyak manusia yang berjalan berlalu lalang. Aku mulai merasa bosan, rasanya perjalanan menuju studio ini sangat lama. Kuhembus napasku dengan lebih kuat, saking kerasnya Om Damar pun menoleh padaku.
"Kenapa Tiara?" tanyanya.
"Nggak papa, Om." Kutarik sudut bibirku untuk memperlihatkan seulas senyuman.
"Kebosanan ya? Main tebak-tebakan yuk …."
"Euuh … tebak-tebakan? Orang seusia dia, pasti tebakannya garing deh," batinku. Tapi kalimat itu tak kuucapkan, hanya sebuah anggukan yang kuberikan sebagai tanggapan atas ajakannya.
"Yang kalah, ntar kasih hadiah buat yang menang ya. Aku duluan," ucapnya. "Kamu tahu nggak apa warna angin?"
Eh … enak aja hadiah. Lagian tebakan apa sih, ini? Sejak kapan angin mempunyai warna. Bagaimana dia bisa memberikan warna pada benda gas? Ish! Pasti jawabannya aneh deh.
"Kok diem?" tanyanya. "Nggak bisa jawab, ya?"
"Bentar … aku lagi mikir nih." Aku mencebik kesal. "Aku lagi mikir, bagaimana aku bisa memberikan warna pada benda gas."
"Bisa. Aku bisa membuktikannya." Om Damar tertawa terkekeh seperti merasa bahagia telah menemukan suatu tebakan yang tak akan pernah bisa kujawab.
"Ya udah … bening. Transparan!" sahutku kemudian.
Pria itu menggelengkan kepalanya. "Kamu salah. Bukan itu warnanya."
"Ish …. Emang warnanya apa? Biru? Hijau? Ah …. Om Damar ngaco, ih!" kesalku.
"Gimana nih? Udah nyerah?" tanya Om Damar. "Inget ya, yang kalah kasih hadiah buat yang menang."
"Euuh … mana ada? Tebakannya aja ngaco gitu," ucapku. "Om Damar nggak seru ah."
"Hmm … nyerah, nggak? Kalau nyerah, om kasih tau jawabannya." Pria itu tertawa terkekeh, seolah kegirangan karena berhasil memberikan sebuah pertanyaan yang tak ada jawabannya itu.
__ADS_1
"Tauk ah!" Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada dengan kesal.
"Kamu tahu nggak, kalo orang kerokan. Kan masuk angin tuh, warnanya apa?" ucapnya kemudian.
"Merah!" sahutku.
"Nah …. Kan. Keliatan anginnya warna merah," ucapnya dengan bangga.
"Angin apaan? Punggungnya? Ish … itu kan karena dikerok, Om. Ah, curang," protesku.
Om Damar tertawa lebar, memamerkan deretan giginya yang putih dan tertata rapi. Tangannya terulur dan mulai mengacak rambutku. Ah …. Sepertinya dia mempunyai kebiasaan merusak penampilan orang.
"Ya udah, ya udah. Pertanyaan lainnya, kenapa dokter menutup mulutnya waktu sedang melakukan tindakan medis?" Om Damar kembali memberikan sebuah teka-teki.
"Biar nggak ada virus atau bakteri yang menginfeksi, Om," jawabku.
Aku menarik sudut bibirku. Kali ini pasti jawabanku benar. Dia tak mungkin mengatakan bahwa jawabanku salah. Kecuali kalau dia memang ….
"Salah!"
Senyumanku langsung memudar. Astaga, apa dia memang benar-benar berniat mempermainkan aku?
"Lah! Kok …."
"Iya, salah." Pria itu tertawa terkekeh. "Sepertinya aku yang akan mendapatkan hadiahnya."
"Ish … aku tak akan bisa menang jika Om Damar terus terusan curang," protesku sekali lagi.
Tentu saja aku tidak mau kalah. Siapa juga yang mau kalah dengan mengakui kebenaran jawaban konyol itu. Tapi … kalau bukan karena si dokter takut tertular virus atau bakteri si pasien, lalu apa jawabannya?
Dia benar-benar bikin aku penasaran, walaupun aku sangat yakin jawabannya pasti sama ngawurnya dengan teka-teki pertamanya tadi.
"Lah … terus kalau bukan karena takut terinfeksi, lalu apa Om?" tanyaku.
Om Damar menoleh sekilas padaku. "Yakin, kamu nyerah?"
__ADS_1
Aku menganggukkan kepalaku dengan cepat. "Apa dong? Ih, bikin penasaran aja."