
"Nggak masalah," ucapnya tiba-tiba.
Tentu saja aku sangat terkejut saat mendengar dia menyetujui permintaanku. Selama setahun terakhir ini, selama aku mengenal dia, aku tahu dia begitu membenci acara foto. Bahkan setiap ada acara foto bersama, dia lebih memilih untuk menghindar.
Aku tak bisa mengetahui apa alasan di balik penolakannya selama ini. Mungkin saja dia mempunyai trauma tersendiri dengan benda bernama kamera tersebut. Atau bahkan dia hanya tak suka menjadi perhatian umum.
"Kamu yakin?" tanyaku menegaskan keputusan yang diambilnya itu.
"Sepertinya kamu sendiri yang nggak yakin? Ya udah, nggak usah ajak aku kalau gitu," ucapnya dengan cuek. Sepasang tangannya kembali memasukkan roti lapis daging asap itu ke dalam mulutnya.
"Euuuh … iya deh, yakin." Aku cepat-cepat merevisi ucapanku. "Ish! Gitu aja ngambek."
"Jadi … nanti aku jemput kamu, ya," sahutnya sambil tersenyum. Matanya terlihat berbinar, seakan telah berhasil mendapatkan sesuatu yang sangat diidamkannya.
"Nggak perlu sih, sebenarnya. Aku bisa berangkat sendiri, kok," sahutku dengan cepat.
"Haish! Tujuan kita toh sama." Darren seperti biasanya, tak mau ditolak.
"Tujuan kita memang sama, tapi rumah kamu itu jauh, loh. Jadinya malah kamu muter-muter dulu, kan?" tolakku sekali lagi dengan sebuah alasan yang kuat.
"Tapi kan … aku yang muter-muter. Bukan kamu. Kok kamu, sih yang keberatan." Darren mengerutkan alisnya seperti sedang berpikir tentang sesuatu.
"Udah ah, terserah kamu. Yang penting aku nggak pernah minta kamu buat jemput aku. Titik!" ucapku sambil memasukkan potongan terakhir roti lapis itu ke dalam mulutku sebelum meneguk habis segelas susu hangat di hadapanku.
Aku berdiri dari kursiku dan segera beranjak ke pintu. "Ma … Tiara berangkat dulu!"
"Hati-hati, Sayang!" Suara mama terdengar dari balik dinding dapur.
"Eeeh … Tiara, tunggu!" teriak Darren. "Tante, Darren juga berangkat!"
Pria muda itu segera berlari menyusulku. Aku masih sempat melihatnya meneguk habis cairan putih di dalam gelasnya.
__ADS_1
"Ini … pake helm nya," ucapnya sambil menyerahkan benda bulat itu padaku dan seperti yang sudah-sudah, dia memasang penguncinya hingga terdengar bunyi klik tanda helm sudah terpasang dengan baik.
Nggak ada yang spesial sepanjang perjalanan dan juga selama di sekolah. Semua berjalan seperti biasa. Hanya saja Shinta yang terus menerus menggodaku seolah aku dan Darren benar-benar mempunyai hubungan khusus, hari ini.
Siang itu begitu terik ketika sekolah telah usai. Kulangkahkan kakiku perlahan menyusuri lorong sekolah kami. Terlihat gerombolan siswa yang bercengkrama seolah cuaca terik itu sama sekali tidak mempengaruhi mereka.
“Ra,” panggil seseorang di belakangku.
Aku menghentikan langkahku. Demikian pula Shinta dan Ratna yang saat itu sedang asyik bercakap tentang guru baru pelajaran matematika kami. Dengan kompak, kami bertiga menoleh mencari sang pemilik suara.
“Kamu sudah lihat mading sekolah, belum?” Wajah pria muda itu terlihat serius, seolah sesuatu yang pelik sedang terjadi.
“Nggak sih. Ada apa?” tanyaku.
Lokasi ruang mading yang jauh dari kelasku, membuatku merasa malas untuk mengunjunginya. Hanya sekali waktu saja aku menunjungi ruang itu, yaitu ketika ada pengumuman nilai dan pemenang lomba atau mencari ruang kelas baru.
“Kalo gitu … kamu harus liat!” Raka menepuk pundakku sebelum berlari meninggalkan kami bertiga yang masih bengong.
Shinta menoleh padaku. Keningnya berkerut dengan wajah heran. “Ish … apaan sih, tuh anak.”
“Kita kesana aja, yuk,” ajak Shinta yang sepertinya terpengaruh oleh perkataan Raka. Tangannya menggandengku dan menarikku tanpa memberikan kesempatan untuk menolak.
“Aku pulang duluan, deh.” Ratna melambaikan tangannya.
Aku masih sempat membalasnya sebelum Shinta berjalan lebih cepat dengan tangan yang masih menggandengku.
“Shin, pelan-pelan dong!” protesku.
Kami berhenti tepat di depan tembok yang dikelilingi sederetan kaca itu. Jantungku seakan berhenti berdetak ketika aku melihat tempat yang seharusnya berisi berbagai info, pengumuman aktivitas sekolah itu telah berubah menjadi ….
Foto-fotoku! Bagaimana bisa semua foto itu ada di sana?
__ADS_1
Mataku membulat. Buku dari dari Pak Seno? Tapi … buku itu aman di laci meja belajarku di rumah. Dan Pak Seno … bukankah dia sudah pulang ke kampung halamannya?
Tapi siapa pelakunya?
Sepasang kakiku terasa lemas. Kusandarkan punggungku ke dinding ruangan, sementara itu Shinta mencabut satu demi satu foto-foto yang sengaja dipasang cepat menggunakan pin kertas itu.
“Siapa yang melakukan ini, Ra?” tanya Shinta. “Bagaimana dia bisa mempunyai begitu banyak koleksi fotomu?”
Aku menelan kasar salivaku. Haruskah aku menceritakan semua kisah tentang Pak Seno? Semua foto ini sama persis dengan yang ada di scrapbook miliknya.
Tidak! Tidak seharusnya aku menyangkut pautkan hal ini dengan Pak Seno. Bukankah dia sudah menerima hukumannya? Dan aku yakin, bukan dia pelakunya.
“Ra, kemari! Lihat ini!” titah Shinta tanpa mengalihkan pandangannya pada secarik kertas yang menempel di papan mading.
Aku perlahan mendekati papan yang sudah kosong melompong kembali itu. Kini pandanganku mengarah pada sehelai kertas berwarna biru, yang di dalamnya berisi coretan sederetan huruf yang sengaja di goreskan dalam teknik kaligrafi nan indah.
“Kira-kira siapa yang membuat semua ini?” tanya Shinta seolah mewakili pertanyaan yang ada dalam hatiku.
“Nggak mungkin Darren!” Shinta segera menjawab sendiri pertanyaan itu sambil menggelengkan kepalanya. “Tulisannya mirip tauge balet.”
Aku mencabut kertas berwarna biru itu dan menatap setiap hurufnya. Bukan! Ini jelas bukan seperti huruf kaligrafi yang ditulis oleh Pak Seno di dalam scrapbooknya.
“Raka, lebih nggak mungkin. Dia no feel for you,” ucap Shinta. “Lah terus siapa?”
Shinta juga menyerahkan sekumpulan foto itu ke tanganku setelah mengamati semuanya satu demi satu.
“Dia seseorang di sekolah ini,” ucapnya dengan yakin. “Pasti dia akan melakukan hal-hal aneh lainnya setelah ini.”
Aku kembali menggelengkan kepalaku. “Gayamu dah mirip banget sama detektif kecil itu, siapa namanya …. ehm, Conan! Conan Edogawa!” ucapku sambil menjentikkan jariku.
“Ah … aku bicara serius juga,” sahut gadis manis itu dengan kesal.
__ADS_1
Aku tertawa pelan. Tentu saja aku tidak ingin Shinta merasa cemas dengan semua hal ini. Dan aku yakin, suatu saat nanti sang pelaku akan muncul dengan sendirinya. Hanya saja, saat ini aku harus lebih berhati-hati dengan sang penguntit itu.
“Ya ampun … ternyata kalian di sini! Aku sudah mencarimu di mana-mana,” ucap pria muda yang tiba-tiba saja muncul itu. Pandangannya mengarah ke sekeliling kami. “Apa yang kalian kerjakan di tempat ini?”