Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Sungguh Memalukan


__ADS_3

“Dih … Kak Merry jahat amat, sih. Masa ketawa aja dilarang,” ucapku sambil mengerucutkan bibirku.


“Yaaah … kan. Lihat tuh, garis senyumnya jadi pecah.” Kak Merry kembali mengambil spons dan memberikan sentuhan lagi pada garis senyumku. “Done, perfect!” ucapnya dengan seulas senyum di bibirnya.


“Makasih, Kak.” 


Aku melihat Kak Merry menganggukkan kepalanya dengan senyuman khasnya. Tangannya dengan cekatan memasukkan perlengkapan make up yang baru saja dipakainya ke dalam kotak besinya. 


Suara Om Marcel kembali terdengar, pria setengah baya itu dengan tepuk tangannya yang khas, memberikan perintah kepada para kru untuk mempercepat pekerjaannya. Tentu saja perintah itu seharusnya juga ditujukan untukku. 


Aku bergegas menghampirinya, berkumpul di tengah ruangan, sebagai tanda bahwa aku telah siap dengan pekerjaanku. Darren yang masih merasa canggung pun telah  berdiri di belakangku. 


“Cantik,” ucap Om Marcel mengomentari hasil riasan Kak Merry. Matanya menatapku seakan mengoreksi cela yang mungkin dibuat oleh penata rias andalannya. 


“Oke, semua sudah siap,” teriak Om Marcel pada semua kru yang masih sibuk mengatur letak pencahayaan. “Kita mulai sekarang!”


Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan itu. Ruangan yang semula terang benderang itu, tiba-tiba saja menjadi remang. Sementara lampu-lampu yang sangat terang itu menyorotku.


Dimana Om Damar? Kenapa aku tidak bisa melihatnya dari sini? Apa dia sudah pulang? Benar-benar sudah pulang? 


“Tiara! Fokus! Mana senyumanmu?” teriak Om Marcel. 


Mau tak mau, aku menarik sedikit sudut bibirku dan mengangkat kepalaku dengan gaya elegan. Beberapa kali kudengar suara kamera dengan cepat mengabadikan setiap gerakan yang kubuat. Hingga suara teguran dari Om Marcel kembali terdengar.


“Darren! Jangan terlihat canggung seperti itu. Bukankah dia kawanmu, bukan musuhmu? Kenapa kamu seakan tak ingin menyentuhnya?” teriak marah Om Marcel. “Dia bukan bom yang akan meledak jika disentuh, bukan?”


Aku menoleh menatap pria muda yang masih terlihat canggung itu. “Nggak papa, kok. Kamu lupain aja kamera-kamera itu. Kita seperti biasa aja.” Aku menarik sudut bibirku. 


Darren menganggukkan kepalanya. Didekatkannya bibirnya dan berbisik padaku. “Kamu berhutang satu minuman manis setelah ini.”


Aku memiringkan kepalaku sambil tertawa. “Kenapa begitu?”

__ADS_1


“Karena aku sama sekali nggak suka sama kamera,” ucapnya dengan jujur.


Aku menganggukkan kepalaku dengan tegas. “Tentu saja … tentu saja. Aku tahu itu.” Kutepuk pundaknya dengan menarik sudut bibirku. 


“Dan yang pasti, aku suka kamu mengajakku kemari,” lanjut Darren. “Aku bisa ikut menikmati betapa cantiknya gadis yang kupuja selama ini.”


Sepasang mataku membulat mendengar kalimat terakhir yang diucapkannya itu. 


Suara kamera itu terus terdengar memproduksi gambar-gambar kami berdua. Hingga suara Om Marcel terdengar memecah keheningan ruangan itu.


“Kalian berdua benar-benar sedang bertengkar?” tanyanya. Aku melihat sosok pria itu berjalan menghampiri kami. “Apa begitu sulit bagi kalian untuk terlihat sebagai pasangan manis walau hanya di dalam foto saja?”


“Euuh … anu Om. Tiara nggak ada masalah sih,” sahutku. "Kami nggak bertengkar kok."


Tentu saja kalimat terakhir Darren membuat semua gerakanku menjadi canggung. Apa maksudnya mengatakan hal seperti itu? 


Aku melihat seulas senyuman di bibir pria muda itu. "Benar, kita berdua nggak bertengkar 'kan, Ra? Yuk kita buat gambar yang bagus," ucapnya dengan penuh percaya diri.


Tidak … tidak! Aku harus profesional. Seharusnya aku tidak menghubungkan urusan pribadiku dengan pekerjaan ini. Agensi tak mungkin akan memakaiku lagi jika aku bersikap tak profesional seperti ini. 


“Tiara, wajahmu terlihat terlalu datar. Ayolah …” tegur Om Marcel.


Aku segera mengubah raut wajahku. Yaa … aku harus berusaha lebih profesional. Supaya klienku tidak menyesal memakai jasaku. 


“Nah … bagus seperti itu.” Suara Om Marcel kembali terdengar seolah menyemangati kami. 


Darren tiba-tiba saja berlutut di depanku. Sepasang mataku membulat. Apa yang dilakukannya di bawah sana? 


Pria muda itu menengadah menatapku. “Apa perlu kuajarkan cara memasang tali yang benar?” ucapnya dengan seulas senyuman. Rasa canggung itu sudah hilang. Pria muda itu terlihat begitu natural menjalankan sesi pemotretan perdananya.


Suara kamera yang mengabadikan momen itu terdengar begitu sibuknya. Hingga suara Om Marcel kembali memecahkan keheningan. 

__ADS_1


“Break! Kita istirahat dulu!” teriaknya sambil menepukkan kedua tangannya. “Ganti dekorasi dan kostum kalian.” 


Lampu-lampu kembali menyala terang. Aku bisa melihat banyak orang di dalam ruangan itu. Para penata cahaya, dekorasi, fotografer. Dan …. Om Damar!


Dia masih ada di sini. Aku pikir dia sudah meninggalkan studio dari tadi. Apa yang dilakukannya di sini? Apa mungkin dia terbiasa mengikuti dan mengatur sendiri semua kebutuhan perusahaannya secara detail? Sungguh aneh, bukankah seharusnya dia mempunyai karyawan khusus untuk mengatasi masalah ini?


Sepasang mata kami saling bertemu, dan itu membuatku kembali merasa gugup. Apalagi kaos ketat yang dikenakannya sebagai pengganti kemeja yang basah terkena tumpahan itu, menampakkan cetakan kekar otot tubuhnya.


Aku segera menundukkan kepalaku karena rasa panik yang tiba-tiba datang melanda. Untung saja tak ada yang memperhatikan aku. Bahkan Darren telah mendahuluiku ke ruang ganti. 


Kulangkahkan kakiku menuju ruang ganti. Ruang ganti ini terpisah dengan letak yang saling memunggungi antara satu dengan yang lain. 


“Ini yang harus kamu pakai selanjutnya.” Seorang gadis dengan kacamata bulatnya memberikan sebuah setelan pakaian dalam sebuah kemasan plastik bening. “Aku akan menunggu di luar, katakan padaku jika ada sesuatu yang kamu butuhkan.” 


Ish! Dia terlihat sangat serius. Nggak asyik seperti Om Marcel ataupun Kak Merry. Mungkin saja dia pegawai baru, jadi sikapnya masih terlihat begitu tegang. Dia hanya ingin terlihat profesional dan menghindari masalah.


“Oke Kak,” sahutku singkat.


Aku memakai pakaian setelan itu. Hmm … sejenis pakaian untuk tenis lapangan. Tapi … ukuran ini, sepertinya kurang nyaman buatku. Terlalu sempit di bagian dada. Tapi … sebaiknya aku coba dulu.


Ah … benar-benar sesak. 


Krek! 


“Astaga … bunyi apa itu? Apa ada yang sobek? Celaka!” batinku. 


Tanpa menunggu lama, aku segera keluar dari kamar ganti. Tentu saja aku harus segera mengatakan masalah ini pada gadis berkacamata tadi.


Tapi sekali lagi sepasang mataku membulat saat melihat seseorang yang menungguku di luar pintu kamar ganti.


“Kyaa!!” teriakku sambil menutup bagian belahan dadaku yang terekspos. 

__ADS_1



__ADS_2