Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Jadi Dia Lawanku


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Om Damar. "Masa sih, baru kutinggal beberapa menit saja sudah ada masalah. Hmm … apa mungkin seharusnya aku nggak usah pulang saja, ya."


"Euuh … itu Om. Tiara cuman kaget aja, kirain siapa yang iseng video call malem-malem gini."  Soalnya Tiara lagi mikirin siapa sih, orang yang iseng nempelin foto-foto Tiara ke mading," sahutku.


"Hmm … apa kamu perlu bantuan?" tawar Om Damar. "Om bisa meminta kepala sekolahmu untuk membantu mengatasi hal ini."


Kepala sekolah? Duh … nggak deh, kalau harus berurusan dengan makhluk yang satu itu. Bisa-bisa masalah kecil begini menjadi masalah besar, bahkan seisi sekolah yang nggak perlu tahu pun jadi tahu. Itu sama artinya dia harus menanggung malu atau bahkan tak ada kesempatan lagi bagi pelaku untuk tetap tinggal di sekolah itu.


"Nggak … nggak usah Om. Tiara bisa atasi semua masalah ini sendiri," sahutku dengan cepat. 


"Baiklah, katakan saja padaku kalau kamu sudah tak mampu mengatasinya," ujarnya sambil melemparkan senyuman manisnya. "Aku akan membereskan masalah ini buatmu." 


"Euuh … makasih Om," ucapku alih-alih menolaknya sekali lagi. Aku tahu dia bukan type yang mudah ditolak.


"Udah, sana tidur," perintahnya. "Udah malem, istirahat supaya besok badan kamu segar." 


"Iya Om. Ini juga baru mau tidur, Om. Tiara masih siapin buku pelajaran buat besok," sahutku.


"Ya udah. Nggak usah dipikirin lagi. Selamat tidur ya," ucapnya sambil tersenyum dengan manisnya. 


Aku membalasnya dengan seulas senyuman. "Iya. Met tidur juga, Om."


"Eh eh … Tiara sebentar," tahannya ketika aku hendak menutup panggilan itu. 


"Ada apa Om?" tanyaku penasaran.


"Jangan lupa ya," ucapnya lagi sambil mengulas sebuah senyuman. "Mimpikan aku dalam tidurmu."


Eh … sebentar, kenapa dia bisa tau sih, kalau aku sering mimpi dia selama ini? Serem amat, macem cenayang deh. 


Sepertinya karena aku hanya terdiam, pria itu kembali menautkan sepasang alisnya. 

__ADS_1


"Kenapa? Ada yang salah dengan kata-kataku?" tanyanya sebelum kembali tersenyum. "Aku selalu memimpikanmu dalam tidurku. Wajah cantikmu, senyuman manis yang biasa kamu berikan padaku, juga wajah kesal itu. Semuanya seakan terpatri di dalam memoriku. Dan aku cukup bahagia dengan itu."


Benarkah itu yang sedang dirasakannya? Tak jauh berbeda dengan yang aku rasakan. Bahkan bisa dibilang sama! Aku bahkan tak bisa tidur karena selalu mengingat wajahnya. Bukan di dalam mimpi.


Tapi kenapa kalimat itu diucapkannya dengan panjang lebar dan begitu mendetail? Ish! Sepertinya dia bukan sedang mencurahkan isi hatinya. Semuanya ini terdengar lebih seperti kalimat gombalan usang sang don juan! 


Aku sama sekali nggak yakin, di perusahaannya tak ada seorang wanita pun yang memikat hatinya. Bahkan sekretaris yang biasanya diceritakan sebagai sosok cantik sempurna dalam sinetron kejar tayang yang selalu aku tonton setiap sore bersama mama. 


"Aku selalu mengimpikan bahwa kamu sedang berada di sampingku, menemaniku dalam setiap langkah perjalanan hidupku, menemaniku melewati malam yang sepi seperti sekarang ini," lanjutnya.


"Om, Tiara jadi heran deh." 


"Kenapa?"


"Euuh … Om pinter ngerayu, tapi kok belum punya istri sih?" 


"Astaga … apa kamu pikir aku bisa mengatakan hal seperti ini pada setiap wanita yang kutemui?"


"Nggak … nggak …. Apa ucapanku tadi terdengar seperti rayuan? Ah … aku benar-benar kurang pandai mengungkapkan isi hatiku," keluhnya. 


"Nggak kok, Om. Euuh … Tiara juga kadang kebawa kalau pas sedang mikirin Om," ucapku tanpa sadar. 


Mataku membulat. Kutepuk keningku setelah menyadari kalimat yang baru saja terucap. 


Bodoh! Bodoh! Bodoh! Tiara kamu bodoh! Kenapa kamu harus mengatakan hal sebodoh itu? Bukankah seharusnya kamu menutup rapat-rapat perasaanmu? Inget … dia om-om! Usia kalian terpaut jauh. 


Aku dapat melihat senyumannya mengembang dari layar pipih di tanganku. "Kamu mikirin aku?" tanyanya seolah menegaskan apa yang tanpa sengaja terucap dari bibirku. 


Aku memutar otak. Tentu saja mencari alibi lain supaya tidak terlihat memalukan buatku. "Eeh … maksud Tiara, euuh." 


Lidahku menjadi kelu begitu saja. Mau kasih alibi apa? Bahkan dia selalu ada buatku, dia tak pernah marah atau melakukan sesuatu yang membuatku kesal. Dia terlalu sempurna untuk kucari sisi buruknya! 

__ADS_1


"I–itu Om. Tiara mikir cincin itu. Ehm … bagaimana bisa Om mau kasih ke Tiara. Sementara Tiara SMA aja belum tamat," ucapku pada akhirnya. 


"Itu karena aku berharap banyak sama kamu. Itu karena aku benar-benar tak ingin kehilangan kamu," ucap pria di dalam benda pipih itu. "Tiara, aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu. Saat pertama kali kita bertemu." 


Cinta … jatuh cinta. Apa seperti ini rasanya? Saat bertemu, perasaanku tak menentu, jantungku seakan sedang tidak baik-baik saja. Tapi saat jauh darinya, bayangan dia seakan ada di dekatku. Benarkah seperti yang kurasakan saat ini? 


"Cinta … seperti apa perasaan itu?" lirihku.


"Cinta … kalimat yang sangat susah untuk didefinisikan. Seperti rasa ketertarikan seseorang terhadap sesuatu. Kamu dengan lemon tea mu, contohnya, atau … aku dengan kamu," sahutnya. "Pikirkan siapa yang sedang kamu inginkan ada di sampingmu saat ini, besok dan seterusnya. Pikirkan siapa orang yang membuatmu merasa nyaman." 


Aku menghela napas panjang. Nggak bisa dipungkiri, aku hanya merasa nyaman bila ada dia di sampingku. Apa mungkin aku jatuh cinta sama dia? 


"Apa kamu sedang memikirkan seseorang itu? Apa kamu sudah menemukan siapa yang membuatmu merasa nyaman dan sukai berada di sampingmu?" desaknya. 


"Apa itu temanmu … yang tadi kamu bawa ke studio? Eh … siapa namanya."


"Darren." 


"Benar. Apa kamu merasa nyaman jika bersama dia? Apa kamu mencintainya?" tanya Om Damar seolah sedang mengintrogasiku.


"Ish! Apaan sih … kami cuman berteman biasa, kok. Nggak lebih dari itu," sahutku. 


"Tapi … aku bisa melihat bahwa dia menyukaimu dengan sangat jelas." Om Damar menatapku dari layar pipih di tanganku. Dan tatapan itu membuatku semakin gugup.


"Euuh … tapi kami berdua hanya teman, Om," sahutku. "Walau dia pernah menyatakan perasaannya, aku sudah menolaknya. Diantara kami murni hanya teman."


"Baiklah," ucap pria itu kembali dengan seulas senyumannya yang khas. "Setidaknya aku tahu, siapa yang akan menjadi lawanku kali ini. Astaga … semoga ini tak akan serumit yang aku pikirkan." 


"Lawan? Apa yang akan Om lakukan pada temanku?" tanyaku kemudian. "Aku tidak akan memaafkan seseorang yang menyakiti kawan-kawanku!"


"Tentu saja … aku akan bersaing dengan sehat melawannya, untuk mendapatkan hatimu," ucap pria itu dalam senyum yang dikemasnya di bibirnya.

__ADS_1


Astaga … apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya. Mungkin dalam benaknya aku hanyalah sebuah benda yang menarik dan perlu diperebutkan? Sepertinya ini sudah keterlaluan!


__ADS_2