
"Kenapa?" tanyanya seakan merasa begitu penasaran.
"Eh … Enggak. Cuman … eh …" ucapku dalam kegugupan.
Pria itu tergelak. "Makanya, jangan tidur terlalu malam," ucapnya seolah tak ada suatu beban apapun.
Aku mencebikkan bibirku dengan kesal. "Gara-gara siapa, coba."
Kulihat jalanan yang kulalui. Kurasa ada yang salah. Ini bukan jalan pulang ke rumahku. Tunggu! Sebenarnya dia mau mengajakku kemana? Menculikku? Ah … nggak mungkin. Dia pria baik-baik. Seandainya dia mau berbuat jahat, dia bisa melakukan sejak dulu.
"Kita mau kemana sih?" tanyaku.
"Sebentar. Sebenarnya aku keluar karena harus melakukan sesuatu. Tapi … karena seseorang mengatakan padaku kalau kamu ada di jalanan, aku memutuskan menjemputmu lebih dulu," ucapnya dengan begitu tenang.
"Heh! Seseorang? Om Damar memata-mataiku?" tebakku.
Pria itu mengangkat jempolnya dan memperlihatkannya padaku. "Aku punya banyak CCTV. Aku bisa melihat kamu dimana-mana," ucapnya dengan suara yang terdengar serius. "Bahkan aku dapat melihatnya dari ujung kukuku."
Aku mengerutkan keningku. "Heh! CCTV di kuku jarinya? Masa sih, dia sampai sebar seseorang buat ngikutin aku?" batinku.
Rasanya terlalu berlebihan, toh aku bukan bukan artis, bukan model ternama yang perlu dikuntit macam ini. Astaga … bener-bener bikin aku nggak nyaman deh.
Tiba-tiba tawanya meledak.
"Kamu mikir apaan sih? Kok manyun gitu?" tanya pria itu sementara tangannya memutar kemudi kendaraannya memasuki sebuah wilayah pertokoan terbesar di kota kami itu.
"Enggak … nggak ada kok," ucapku sedikit gugup. Nggak mungkin aku katakan semua yang ada di dalam pikiranku. Nanti bisa-bisa dikiranya aku ke-pede-an lagi.
"Ya udah, ya udah. Sekarang kamu ikut aku," ucapnya setelah memarkirkan mobilnya di sebuah lahan parkir VIP mall itu. "Aku butuh bantuanmu untuk melakukan sesuatu."
__ADS_1
Heh! Gila aja dia parkir di sini. Bayar parkir per jamnya aja udah seratus ribu. Hmm … mungkin saja dia nggak berniat berlama-lama di sini. Yaa … mungkin urusannya nggak bakal makan banyak waktu. Tapi, bantuan apa sih yang dibutuhkan seorang pria serba bisa seperti dia dari aku? Aneh-aneh aja ah.
"Ayo turun," ajaknya sesaat setelah mematikan mesin mobilnya.
***
Kami melangkah masuk ke area pertokoan. Nggak terlalu ramai sih, mungkin karena ini bukan jam-jam bebas ya. Semua masih berada pada jam sibuknya di kantor dan juga di sekolah. Jadi … sebenarnya situasi sangat aman buat aku.
Sebenarnya aku memperhatikan beberapa kejanggalan sejak kami masuk ke dalam mall. Mulai dari para petugas keamanannya yang terlihat lebih ramah, tidak seperti biasanya. Mereka bahkan membungkukkan badannya seolah kami berdua adalah orang penting saja.
Lalu beberapa pramuniaga yang sedang berjaga di depan pintu itu seolah menatapku dengan pandangan yang sangat aneh. Benar-benar membuatku merasa sangat canggung.
Ah … apa mungkin karena Om Damar terlalu memperlihatkan keakrabannya padaku.
"Om, turunin dong tangannya," perintahku setengah berbisik. "Mereka pada ngeliatin kita tuh."
Om Damar malah menebarkan tatapannya pada sekelilingnya. Dengan rasa percaya diri, pria itu semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggangku.
"Kenapa? Bukankah seharusnya kita buat saja mereka semua iri," bisiknya.
Aku menengadahkan wajahku, menatap pria di sampingku. "Astaga, malu kan …. Apa kata orang nanti?" gumamku lagi.
"Kenapa harus malu? Kita tidak mencuri apapun dari siapapun. Kita tidak merugikan mereka. Dan …." Pria itu tampak mengernyitkan keningnya. "Peduli amat dengan kata orang lain."
Aku melotot, menunjukkan ketidaksetujuanku atas perkataan yang baru saja dilontarkannya. Tentu saja aku peduli, aku yakin pasti mereka sedang sibuk bergosip tentang seorang siswi SMA yang sedang membolos bahkan berkencan dengan seorang om-om.
Tapi belum sempat aku mengatakan pendapatku, Om Damar menarikku masuk ke dalam sebuah butik. Butik yang dipenuhi dengan deretan gaun mewah. Ew … gaun-gaun itu yang biasa kulihat dalam infotainment, berada di dalam lemari para artis terkenal.
Glek!
__ADS_1
Aku menelan kasar salivaku. Tentu saja aku bingung, buat apa Om Damar membawa aku kemari? Bukankah dia seorang pria? Untuk apa dia mencari gaun wanita?
"Aku mau minta bantuan kamu untuk memilih gaun tercantik di toko ini," ucapnya padaku. Sesaat kemudian Om Damar menjentikkan jarinya. Dan dua orang pramuniaga butik pun menghampiri kami.
"Ew … Om. Eeh …. Gaun? Kenapa gaun, Om?" tanyaku masih tak mengerti. "Maksudku kenapa aku harus pilihkan gaun buat Om. Om nggak bakal nyamar pakai gaun itu, kan?"
Tiba-tiba tangan Om Damar mendarat di keningku. "Astaga, pikiran macam apa itu? Siapa yang mengatakan aku akan memakai gaun itu?"
"Aduh!" teriakku ketika kurasakan tepukan di keningku. Aku mulai mengusap keningku sambil mencebik dengan kesal. "Ish! Tega amat sih."
Hah! Jadi buat apa gaun ini, eh … lebih tepatnya untuk siapa sebenarnya gaun ini? Kenapa Om Damar memintaku untuk memilihkannya? Jika ini masih berhubungan dengan pekerjaannya, mungkin saja gaun ini untuk sekretarisnya.
Ish! Kalau gitu …. Aku pilihkan aja gaun yang biasa-biasa. Aku nggak mau Om Damar tertarik sama cewek lain. Apalagi sekretarisnya. Hmm … seperti apa kira-kira sekretaris Om Damar. Cantikkah?
"Memangnya Om Damar mau acara apaan sih? Mau gaun malam atau gimana?" tanyaku masih dengan perasaan kesal. "Yang pake kurus apa gemuk? Kulitnya putih atau ijo?"
Kulihat kedua pramuniaga itu menahan tawanya.
Ish … apaan sih yang lucu? Nggak tau apa kalau aku lagi sebel. Seharian ini seperti musibah buat aku. Terlambat sekolah, dikerjain sama si Darren. Eh … sekarang malah disuruh milihin gaun buat seorang cewek yang entah siapa sama Om Damar.
Emang siapa kemarin yang bikin aku nggak bisa tidur karena gombalan dan nyanyiannya itu. Apa semua kalimat yang diucapkannya itu palsu? Lalu … buat apa kalung itu? Apa dia terbiasa melakukan semua ini pada setiap wanita yang disukainya?
"Acara makan malam sama relasi bisnis biasa sih. Kalo postur sama kulit pemakainya nanti ya … hmm, kamu tahu Cinta Laura nggak sih?" Om Damar tiba-tiba menyebutkan nama seorang artis cantik peranakan bule dan tentu saja hal itu membuatku terkejut.
Haish! Pasti dia cantik sekali. Aku bisa bayangkan Om Damar melangkah dalam setelan hitamnya dengan tangan bertaut di pinggang menggitar seorang wanita muda yang cantik nan anggun.
"Kalau gitu yang ini aja." Aku langsung menunjuk sebuah gaun hitam dengan gemerlap rumbai yang seolah hidup itu.
Hmm … aku yakin, penampilannya akan terlihat norak dengan gemerlap dan rumbai yang semarak dalam gerakannya. Membayangkannya saja aku sudah merasa senang.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu aku ingin kamu mencobanya untukku."
Senyuman di bibirku lenyap dalam sekejap. Heh! Kenapa aku harus mencobanya?