
Kulangkahkan kakiku menyusuri koridor sekolah. Rasa nyeri masih terasa di pergelangan kaki kananku. Tapi aku berusaha mengabaikannya. Mungkin seharusnya obat semprot pereda nyeri itu kubawa saja lain kali.
Koridor sekolah itu mulai sepi. Tentu saja karena semua siswa sudah pulang sejak tadi, hanya karena harus menemui Pak Halim untuk mengumpulkan tugas saja, akhirnya aku pulang jauh lebih lambat.
Anehnya, aku merasa ada sesuatu yang nggak beres. Sesuatu yang nggak semestinya saat ini. Aku merasa seseorang sedang mengamatiku. Mau berlari, tapi kakiku terasa ngilu.
Sesekali aku berhenti dan menoleh untuk memperhatikan sekelilingku. Aneh! Tak terlihat siapapun. Mungkin … ini hanya perasaanku saja.
Berasumsi tak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan, pasti akan membuat perasaanku jauh lebih tenang. Aku menghela napas, mengeratkan tali tas ransel dengan kedua tanganku dan kembali melangkah.
Namun langkahku berhenti, ketika kulihat beberapa foto yang seperti sengaja dan baru saja menempel di dinding. Heh! Siapa sih yang iseng gini? Kenapa dia seperti sengaja mau bikin aku kesal. Apa sebenarnya maunya?
Mungkin ini adalah ulah orang yang sama. Kurasa aku nggak bisa mengabaikan hal ini lagi. Mungkin seharusnya saat itu aku seharusnya bertindak, tidak menunggu hingga kejadian itu terulang untuk yang kedua kalinya.
Kuambil satu demi satu foto yang menempel sekedarnya di tembok itu. Foto-fotoku selama di sekolah dan foto saat Om Damar menolongku kemarin! Jadi … sudah dipastikan, siapapun pelakunya ada di sekolah ini.
Kuamati satu per satu foto di tanganku. Aku nggak suka cara seperti ini. Kenapa dia harus bersembunyi layaknya pengecut! Apa sebenarnya keinginannya? Kenapa harus menerorku seperti ini?
Segera kuputar badanku untuk mengamati sekelilingku. Sekilas kulihat sebuah pergerakan. Ada seseorang yang sedang menguntitku! Aku yakin itu! Dia ada di sekitarku saat ini.
Aku mendecak kesal. "Semua ini hanya tindakan yang dilakukan oleh seorang pengecut!" umpatku dengan gusar.
Tak bisa menahan rasa penasaran, aku pun berusaha mencari tahu dengan berjalan ke arah pergerakan tadi. Siapa tahu aku bisa menangkap basah pelakunya.
Tapi tak ada siapapun di balik dinding itu. Kosong! Tak ada siapapun di sana. Mungkin dia sudah pergi. Ah … sudahlah, sebaiknya aku pulang. Aku perlu mengistirahatkan kakiku yang mulai terasa nyeri ini.
__ADS_1
"Siapa yang pengecut?" Suara itu membuatku melompat karena terkejut. Aku segera berpaling ke asal suara.
Dan … tepat di belakangku berdirilah sang kapten basket sekolah kami. Kulihat keringat mengucur di keningnya, sementara tangannya memeluk bola berwarna orange gelap dengan kedua tangannya.
"Ka–kamu belum pulang?" tanyaku sembari menetralkan keterkejutanku.
Pria muda itu menarik sudut bibirnya. Dia mengulurkan tangan kanannya dan menempelkannya pada keningku. "Normal. Aku rasa setelah peristiwa kemarin otakmu kembali normal."
Aku mendengus kesal. Sepertinya Ricky mulai memancing perkara denganku. "Apa kamu pikir biasanya aku nggak normal, gitu? Apa kamu pikir semua cewek yang nolak kamu itu pasti nggak normal? Cih … ge er sekali sih!"
Ricky tiba-tiba tertawa. "Bukankah seleramu selama ini om-om? Mulai dari Pak Seno sampai om-om kemaren," ejeknya. "Ada untungnya kamu jatuh kemarin, otak kamu jadi bergeser ke tempat semula. Jadi sekarang kamu bisa melihat bahwa aku jauh lebih baik dari para om-om kamu, kan?"
Mataku membulat. "Heh! Enak aja ngatain otak aku geser!"
Pria muda itu kembali tertawa mengejek. "Jadi gimana? Setelah melihat kegantengan Ricky-mu ini, apa kamu berubah pikiran dan menerima aku jadi pacar kamu?"
Sudahlah, dia nggak akan pernah berubah. Untuk apa aku menanggapi ucapannya? Percuma. Yang ada hanya rasa sakit hati jika aku terus melayani perkataannya.
Masih kudengar suara pantulan bola basket itu. Setidaknya aku tahu, bukan Ricky pelakunya. Dan tentu saja, dia nggak mungkin akan bertingkah seperti pengecut. Bukankah seorang don juan sepertinya akan dengan mudahnya menyatakan cinta, lalu memutuskannya dengan seenak hati bahkan bukan hanya pada satu atau dua orang saja. Dengan begitu banyak pengalamannya, mustahil dia bertindak seperti seorang pengecut.
Jika bukan Ricky, bukan Darren. Lalu siapa dia?
Aku masih disibukkan dengan berbagai macam pikiran di otakku. Tentu saja tentang misteri sang penguntit. Seandainya saja Om Damar bisa membantuku memecahkan masalah ini, tentu aku akan sedikit tenang.
Tin! Tin!
__ADS_1
Suara klakson terdengar sangat keras, membuatku kembali melompat saking terkejutnya. Mungkin karena pikiranku yang sedang melayang-layang, sehingga aku tak menyadari kehadirannya di dekatku.
"Aku dah nunggu kamu lama di sini," ucap Om Damar saat membuka kaca mobilnya. Kulihat senyumannya yang khas terselip di bibirnya.
"Om Damar sengaja jemput Tiara? Om nggak sibuk?" tanyaku setelah duduk di sampingnya. Kukenakan sabuk keselamatan dan menautkannya pada penguncinya.
"Siapa juga yang nggak khawatir kalau kekasihnya berangkat sekolah walau kakinya sedang terkilir," sahutnya.
Astaga …. Bukankah itu terlalu berlebihan.
"Apa seharusnya aku memakai kursi roda supaya Om tak perlu mencemaskan aku?" tanyaku berniat menggodanya.
Pria itu menjentikkan jarinya. "Good idea!" serunya dengan penuh semangat.
Aku menepuk keningku sambil menggelengkan kepala.
"Aku bukan anak kecil, Om. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan," ucapku. "Seandainya ada sesuatu pun, aku tahu aku bisa mengandalkan Om."
Kali ini pria itu tersenyum lebar. Tangannya terulur dan mulai mengacak lembut puncak kepalaku.
"Aku tahu … aku tahu. Tapi … bagaimanapun juga, aku tak bisa berhenti mencemaskanmu, Tiara," ujarnya. "Bagiku, kamu sangat berarti. Kamu terlihat seperti sebuah bola kaca, sebuah bola kristal yang indah. Dan … aku tak berani, ehm … tak akan pernah melepaskannya karena aku selalu takut seandainya bola kristal itu kulepaskan, akan retak ataupun pecah."
Aku tertawa sambil menggelengkan kepalaku. Tentu saja karena ini menurutku sangat lucu. Bagaimana mungkin dia membandingkan aku dengan barang sejenis itu?
"Om, kalau begitu … apa perlu Tiara ditaruh di museum aja. Buat pajangan. Jadi nggak boleh ada yang sentuh supaya nggak pecah," sahutku menanggapi kalimat yang kuanggap sebuah rayuan semata itu. "Tiara bukan benda mati, Om. Tiara bisa bertahan, bahkan perlu kekuatan besar untuk menghancurkan sebutir mutiara."
__ADS_1
Pria itu menghela napas panjang. Tatapannya terlihat kosong, lurus menatap jalanan. "Mutiara … Mutiara," ucapnya dalam ******* yang masih dapat kudengar.
Hmm … aneh, kenapa ekspresi wajahnya berubah?