
"Astaga, Ren. Jangan yang aneh-aneh deh," sahutku. Aku segera berlalu menuju toilet yang terletak di pojok kedai minuman itu.
Tak berapa lama kemudian kami berdua telah melenggang masuk ke dalam kawasan taman hiburan. Terlihat beberapa manusia berkostum badut sedang melambaikan tangannya pada kami.
Tiba-tiba Darren menggenggam tanganku dan menarikku, mengajakku ke sebuah wahana dengan berbagai patung hewan yang berputar di atasnya. Carousel! Sebuah permainan klasik, tapi tentu saja cukup memalukan jika aku harus naik ke atasnya.
"Ayo!" ajaknya sambil menarik tanganku ke dalam baris antrian.
"Euuh! Kamu yakin mau naik carousel," tanyaku sedikit heran. "Nggak malu apa?"
"Hidup hanya sekali. Kenapa nggak kita gunakan kesempatan ini sebaik mungkin?" sahutnya tanpa melepaskan tanganku.
Seorang petugas menegur kami berdua. "Jadi naik, Dik? Kasih jalan buat yang lain, dong."
Aku mengedikkan pundakku. Mau tak mau, akhirnya aku pun masuk ke dalam wahana yang sangat kekanakan itu. Duduk di atas pelana sebuah replika kuda dengan musik kekanakan yang diputar bersamaan dengan berputarnya wahana permainan itu.
"Tiara …"
Cekrek!
Mataku membulat ketika sebuah kilatan cahaya menerpa wajahku. Pria muda yang duduk di atas tunggangannya – tepat di sebelah itu – tersenyum puas sambil melihat hasil foto di layar ponselnya.
"Haish! Iseng amat sih," batinku.
Sekali lagi Darren mengambil sebuah gambar dengan ponselnya. Tapi kali ini tanpa ragu aku memasang wajah konyolku, tentu saja agar dia tak menyimpannya di dalam galerinya.
Pria muda itu tertawa terkekeh. Dia kembali mengambil gambar-gambar kami. Aku tetap pada niatku, membuatnya ilfil dengan hasil fotonya hingga dia berhenti mengabadikan kegiatan kami, tepat saat wahana itu berhenti berputar.
Aku melompat turun dari atas replika kuda itu. "Udah yuk," ajakku.
"Sekali lagi. Mau nggak?" tanyanya sambil mengangkat satu telunjuknya.
"Nggak, ah. Pusing," sahutku cepat.
"Dih … baru segitu juga udah pusing," ujarnya sambil tertawa terkekeh. "Belum juga naik yang itu." Darren menunjuk sebuah wahana roller coaster yang entah panjang lintasannya berapa meter itu.
__ADS_1
Aku menyilangkan kedua tanganku di dada. "Ren, emangnya kapan terakhir kali kamu ke taman hiburan semacam ini?"
Pria itu mengangkat dan menunjukkan sepuluh jari tangannya ke hadapanku.
"Saat kamu berusia sepuluh tahun?" tebakku.
Darren menggelengkan kepalanya.
"Hmm …" Aku menarik sudut bibirku. "Jadi sepuluh tahun yang lalu?"
Pria muda itu menggelengkan kembali kepalanya.
Aku mengangkat kedua tanganku sambil mengedikkan pundakku. "Astaga, Darren. Jadi kapan dong?"
Darren menarik sudut bibirnya dan tersenyum lebar. "Sepuluh bulan yang lalu."
Aku menepuk keningku. "Astaga, tapi kenapa kamu …."
Pria muda itu memegang kedua tanganku. "Karena kali ini berbeda," ucapnya. Sepasang mata itu menatapku dengan begitu dalam. "Karena hari ini aku bersamamu."
Perlahan kutarik kedua tanganku, lepas dari genggamannya. Euuh … bagaimana mungkin dia mencoba merayuku. Tapi Darren kembali menangkap salah satunya dan kembali menarikku ke wahana lain di taman hiburan itu.
Langkahnya terhenti di sebuah wahana dengan sebuah kereta di dalamnya. Mataku membulat ketika melihat wahana yang dipilihnya. Tapi lagi-lagi aku tak bisa berkutik ketika dibelakangku mulai dipenuhi oleh antrian yang semakin mendesak untuk segera maju menyelesaikan giliranku.
"Nggak usah takut, semua yang di dalam itu cuman boneka, kok. Tinggal kita tembak aja lampu merah sasarannya," ujarnya saat kami sudah berada di atas kereta. "Gampang aja kan?"
"Trus kalo tembakan aku nggak kena sasaran gimana?" tanyaku dengan sedikit cemas.
Darren tersenyum miring. "Paling juga sasarannya ngejar kamu."
"Heh!" seruku dengan mata membulat. "Nggak jadi ah!"
Aku hendak turun dari kereta itu, tapi lagi-lagi Darren menarikku untuk kembali duduk di sampingnya. "Kenapa? Kamu takut? Kan ada aku."
Ah … bener-bener nggak lucu. Dan lagi-lagi terpaksa aku harus duduk dan menikmati wahana ini, saat kereta yang terdiri dari deretan gerbong yang hanya berisi masing-masing dua orang itu mulai bergerak meninggalkan pintu masuk.
__ADS_1
Kereta itu bergerak memasuki sebuah lorong yang sangat gelap. Suara dentangan antara roda besi dan rel yang beradu seolah mengundang para penghuni di sepanjang lorong itu untuk bersiap menyambut kedatangan kami.
Suara teriakan dari dalam lorong gelap terdengar bersama dengan suara tembakan yang memecah keheningan ruangan dingin dengan aura misterius itu.
Cahaya remang mulai terlihat saat gerbong kami menerobos sebuah rumbai pembatas. Tak ada jalan untuk kembali. Jalan itu hanya dirancang untuk mengantar kami ke pintu keluar.
Telapak tanganku mulai terasa dingin, bahkan mulai berkeringat. Titik-titik lampu berwarna merah mulai terlihat di mana-mana seiring suara misterius yang berderak.
Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan terdengar dari sampingku. Darren terlihat asik menembak semua target sasaran di depannya. Terlihat sebuah peti terbuka dan suara kekehan tawa terdengar bersamaan dengan meluncurnya sesuatu berwarna putih mendekat ke arahku.
Mataku membulat karena terkejut. Dalam keremangan itu baru kusadari bahwa itu adalah wujud seorang wanita dengan pakaian putihnya. Sontak aku berteriak dengan kencang.
Darren menggenggam satu kiriku, sementara tangan kirinya masih asik menembakkan senjatanya ke arah target sasaran.
Kali ini sebuah peti mati yang bergantung di dinding lorong gelap itu tiba-tiba seakan mau roboh ke arah kami. Bukan hanya itu, tulang belulang yang ada di dalamnya seakan menjuntai hendak menyentuhku. Sekali lagi aku berteriak karena terkejut.
Namun Darren malah tertawa seperti benar-benar menikmati wahana yang membuat jantungku seakan tak berhenti berpacu.
"Bantu aku tembak setiap lampu berwarna merah di dinding, Ra. Ini sangat seru," pintanya.
"Seru apaan … yang ada bikin kaget, tau!" sahutku dengan kesal.
"Yaelah … kan udah aku kasih tau, kalau semuanya cuman boneka," lanjutnya. "Nggak usah takut. Kan ada aku." Pria muda itu tertawa pelan sambil menaik turunkan sepasang alisnya.
"Siapa juga, ya takut! Aku bilang kaget, kok," sanggahku.
Enak aja, dia mau bilang aku penakut, gitu? Nggak lah, ya. Nggak ada itu namanya hantu! Manusia nggak boleh takut sama hantu, kan?
Aku mencebikkan bibirku dengan kesal. Rasanya seperti tertantang untuk menunjukkan keberanianku. Aku bukan cewek cengeng penakut yang bakal bersembunyi di balik punggung orang lain karena sebuah boneka.
Kupegang senjataku dan mulai kubidik ke arah lampu-lampu berwarna merah itu. Hmm … sepertinya aku mulai bisa membaca cara kerja wahana ini. Ya … aku tahu bagaimana boneka-boneka itu bisa bergerak seperti ini.
Semua bukan karena sensor kehadiran kami, tapi sebanyak apa lampu itu berhasil kami tembak. Jika tembakan meleset, boneka hantu itu tak akan bergerak. Seperti ini ….
__ADS_1
Dor!
Kulepaskan sebuah tembakan. Dan terdengarlah suara tawa dengan sesuatu yang melayang di atas kepalaku. Sontak aku berteriak dengan keras ….