Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Simpanan Om-Om


__ADS_3

Aku mencoba menghubungi Darren. Tapi nggak ada sama sekali nada sambung. Sepertinya dia mematikan ponselnya atau mungkin saja dia sudah kehabisan baterai. 


Sebenarnya kemana dia? Apa mungkin dia sedang terlibat suatu masalah? Astaga … kenapa hari ini begitu banyak masalah. Sungguh hari yang berat buatku. Tak bisakah aku beristirahat lebih cepat malam ini.


Kucoba menempatkan diri di posisinya. Seandainya aku mempunyai sebuah masalah, kemana aku akan pergi? Hmm … sebuah tempat yang sunyi pastinya. Tapi di mana? Tempat yang sunyi dan nyaman bagiku adalah kamarku sendiri. Sangat berbeda dengan dia.


"Ra, Darren ngilang!" ucap Shinta yang tiba-tiba muncul kembali di depan pintu. Gadis itu memperlihatkan wajah cemasnya. "Kamu tahu nggak, kemana perginya kira-kira?" tanyanya.


"Kamuu … sudah coba telpon dia?" tanyaku memastikan bahwa bukan hanya panggilanku yang sengaja diblokirnya. Siapa tahu orang lain bisa menelponnya.


"Sudah, tapi nggak ada jawaban." Shinta mendecak mengekspresikan rasa khawatirnya. "Mana sudah malem lagi."


Tak lama kemudian, Raka pun muncul dengan knalpot motornya yang sangat berisik. Aku rasa dia sengaja memodifikasi motornya untuk menarik perhatian orang, karena aku tahu dia senang sekali mengutak atik motor kesayangannya itu.


"Kita cari bareng, yuk. Orang tuanya bingung, tak tahu lagi harus cari dia kemana," ajak Raka setelah menyingkap kaca depan helm teropongnya. 


Melihat kecemasan di wajah kedua temanku, tentu saja aku tak sampai hati. Lagi pula Darren juga temanku. Bagaimana jika aku mengabaikannya, kemudian sesuatu yang buruk terjadi? Tidak … tidak. Aku nggak bisa tinggal diam dan menyesal belakangan. Tapi .... Kenapa orang tuanya nggak lapor polisi juga. Makin banyak yang nyari, bukannya lebih cepet ketemu.


"Kenapa kalian nggak ngelapor aja sih ke polisi?" Kurasa dengan bantuan polisi yang jumlahnya tidak sedikit dan tersebar dimana-mana itu, pasti lebih mudah untuk menemukan Darren.


Disamping itu mencari Darren di seluruh penjuru kota sendiri bukan ide yang bagus. Ini akan menghabiskan banyak waktu dan kurasa kurang efektif.


"Nggak bisa, Ra." Raka segera menimpali. "Sebelum dua puluh empat jam, nggak bisa dikatakan hilang."


Pria itu kembali menyalakan mesin motornya. Dia kembali menatapku kali ini dengan tatapan datar. "Ya udah. Kalau Tiara nggak mau ikut cari, nggak usah dipaksa. Kita pergi cari dia sendiri, Shin! Sampe dia ketemu! Bagaimanapun aku yakin Darren akan melakukan hal yang sama jika itu menimpa kita." 


Raka menurunkan kembali kaca helm teropongnya dan menjalankan kuda besinya tanpa mempedulikan kami lagi. Suara bising knalpotnya kembali terdengar memecah keheningan malam. Ish! Dia emang keras dan selalu sedingin itu padaku. Entah apa pula salahku.  

__ADS_1


Shinta mendecak kesal. "Aku pergi sekarang," pamitnya tiba-tiba.


Sepertinya kalimat saranku menjadi boomerang bagiku. Mereka menganggapku sengaja tak ingin repot ikut mencari Darren.


Aku menangkap lengan Shinta dengan cepat. Kutatap sepasang matanya dan dengan tegas mengatakan, "aku ikut!"


***


Suasana malam terasa dingin, walau aku dan Shinta berada di dalam kendaraan beroda empat. Tak ada banyak kalimat yang terucap. Kami hanya berfokus pada jalanan, menelisik di antara pejalan kaki, mencari sosok yang kami cari. 


"Gimana Ka? Ada kabar dari yang lainnya?" tanya Shinta melalui benda pipih yang ada di dalam genggamannya. 


"Apa? Mereka melihatnya di sana? Ngapain dia ke sana malam-malam gini?" oceh Shinta pada lawan bicaranya. "Aneh-aneh aja. Ya udah deh, aku sama Tiara nyusul ke sana."


"Pak, puter balik. Kita ke resto Green Hill," ucap Shinta pada sopir pribadinya. Gadis itu memasukkan kembali ponselnya dalam tas kecilnya. "Huh! Bikin repot aja si Darren!" 


"Shin, dia … udah ketemu kan?" tanyaku. "Aku turun di sini aja, kalo kamu mau ke sana. Biar kamu pulangnya nggak muter-muter."


"Ish! Apaa  sih? Bukannya ikut nenangin dia, malah mau main kabur aja," ucapnya terdengar kesal.


"Siapa yang kabur?" tanyaku masih tak mengerti arah pembicaraannya.


"Ya, kamu lah! Masa aku," sahutnya sedikit sengit. "Dia nggak pulang karena liat kejadian tadi di sekolah. Kamu nggak tahu, sih, berita yang beredar saat ini."


"Berita apaan? Aneh!" 


Shinta mendecak seakan merasa kesal. "Masa sih siswi pinter seperti kamu nggak bisa nebak apa kabar yang mungkin beredar?" 

__ADS_1


"Udah deh! Kamu juga tahu, aku paling nggak suka tebak-tebakkan," sahutku mulai ikut kesal. "Ngomong aja yang jelas."


"Semua yang liat juga bakal nebak sama seperti aku. Kamu simpanan om-om!" Suara Shinta terdengar keras, bahkan mungkin jika dia mengucapkannya dengan nada sedikit lembut pun akan terdengar keras bagiku. Seperti sedang menamparku pada sebuah kenyataan yang seharusnya aku perhitungkan.


Aku menelan kasar salivaku. Ah … mungkin lebih tepatnya ini adalah sebuah pil pahit yang harus kunikmati karena sebuah kesalahan yang aku lakukan. Yaa … aku mencintai orang yang salah. 


Tapi … tidak! Seharusnya bukan orang yang salah! Dia memang lebih tua dariku. Tepatnya jauh lebih tua dariku. Tapi kata simpanan itu sama sekali tidak benar. Dia belum beristri. Aku masih berhak mendapatkan cintanya.


"Apalagi setelah kejadian dengan Pak Seno. Kamu, sudah merampas Pak Seno dari tunangannya," lanjut Shinta. "Kenyataan itu seperti sebuah pembenaran dari gosip yang ada."


Sebuah tamparan seakan tak cukup kuterima. Gadis itu kembali menamparku dengan sebuah kalimatnya lagi. Jadi bahkan sahabatku sendiri, sekarang mencurigaiku. Itulah sebabnya dia datang ke rumahku.


Perlahan kukumpulkan segenap keberanianku. Aku tidak bisa tinggal diam! Aku bukan gadis seperti itu. Sama sekali bukan seperti yang dia bayangkan. Aku tidak ingin dianggap remeh. Setidaknya, aku tidak ingin kehilangan dia sebagai sahabatku.


"Shin, kita udah kenal berapa lama?" tanyaku dengan suara lirih. Kutahan segenap perasaan sedihku atas semua tuduhan yang tidak pada tempatnya itu. "Kamu masih sahabatku, bukan?" 


"Sahabat tidak akan membodohi sahabatnya sendiri," sahutnya dengan nada ketus. 


"Jadi kamu pikir aku berbohong?" tanyaku kemudian. "Seandainya kamu tahu, bahkan pria itu belum beristri. Jadi … kata simpanan itu terlalu kejam, seandainya pun kami mempunyai sebuah hubungan." 


Entah kenapa cairan hangat itu mengalir begitu saja melintasi pipiku. "Sedari awal … aku tak pernah berbohong padamu. Dia Om Damar, orang yang memakaiku sebagai modelnya – juga Darren."


Tiba-tiba kurasakan sebuah pelukan di tubuhku. Shinta memelukku! Dia menepuk-nepuk punggungku dengan lembut.


"Maaf … maafkan aku, Tiara," lirihnya di telingaku. "Aku percaya padamu, Sahabatku. Setidaknya, sekarang aku tahu alasannya...."


Aku mengusap kasar air mataku. "Alasan?"

__ADS_1


Gadis itu menganggukkan kepalanya. Seulas senyuman terselip di bibirnya. Sebuah senyuman penuh misteri. Apa sebenarnya yang ada di dalam pikirannya.


__ADS_2