
"M–maksud Om?" tanyaku dengan gugup.
Mataku membulat ketika deretan gigi putih itu terlihat menyusul senyuman indahnya. Pria itu mendekatkan wajahnya dan berbisik padaku.
"Perutmu tidak bisa berbohong. Dia baru saja memohon padaku, untuk membawamu makan malam," lirihnya di telingaku.
Ish! Malu-maluin aja nih, perut. Kenapa juga pake acara berisik. Sepertinya dia menyadari kalau aku merasa sangat malu. Om Damar tiba-tiba saja tertawa.
"Kenapa? Apa kamu nggak dengar? Bukan cuman perut kamu yang bunyi, perut aku juga sudah protes nih," lanjutnya. Aku rasa dia hanya ingin agar aku melupakan rasa malu akibat suara perut yang tak sopan itu.
"Yuk, nanti kamu jadi susah loh, kalau aku pingsan di sini karena kelaparan," dalihnya agar aku segera mengiyakan ajakannya.
Akhirnya aku menganggukkan kepalaku. Tak ada jalan lain. Tak mungkin aku menyuguhkan mie instan untuk dimakan bersamanya. Sementara mama tak pernah sekalipun membiarkan aku melakukan aktivitas di dapur. Mama selalu ingin aku fokus dalam pelajaranku.
Sesaat kemudian kami berdua telah berada di jalanan. Sementara kereta besi itu membelah jalanan beraspal dengan keempat rodanya. Suasana gemerlap lampu terlihat menghiasi jalanan yang kami lewati.
"Kita mampir ke rumah aku dulu, ya. Badanku sudah gerah, pingin mandi," ucapnya. "Kamu nggak keberatan kan?"
"Euuh … kenapa nggak nanti aja, Om. Setelah selesai makan malam," sahutku. Sebenarnya aku merasa kurang nyaman untuk datang ke rumah pria yang bahkan baru aku kenal. Ada rasa khawatir yang tak kuketahui alasannya.
"Sini … sini," ucapnya sambil melambaikan tangannya. "Kecium, nggak? Bau acem kan?"
__ADS_1
"Apaan Om?" tanyaku tak mengerti.
"Sini deh," ucapnya sekali lagi. Kali ini pria itu mengangkat tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang kemudi. "Masa sih nggak acem?"
"Nggak kok," sahutku sekenanya. Tentu saja aku tidak mendekatkan diri sesuai perintahnya. Ngapain juga aku harus cium bau keteknya.
"Ah … sini, deh. Aku nggak mau malu dan nggak percaya diri. Gimana coba kalau nanti aku ketemu pelangganku. Udah baunya acem, pake kaos promosi, bawa cewek cantik juga. Bisa-bisa semua orang mikir aku ini sopir kamu," lanjutnya tanpa bisa ditolak.
Aku tertawa terkekeh. "Om Damar, memangnya tergolong yang menilai seseorang dari penampilan ya?"
"Ah … bukan gitu juga, sih. Cuman … nggak akan bisa disangkal, orang lain pasti menilai kita dari penampilan kita. Itu sudah bukan rahasia lagi," sahutnya. "Tapi sebenarnya bagaimana kita berpenampilan – kerapian, kebersihan diri – adalah cara kita untuk menghargai diri sendiri. Tak perlu memikirkan bagaimana kesan kita terhadap pandangan orang lain."
"Eehm … bener juga sih, Om." Aku mengangguk-anggukkan kepala menyetujui ucapannya. "Kita nggak perlu membentuk penampilan kita sesuai keinginan orang lain."
"Ish …. Ada-ada aja, si Om. Mana ada acara peluk-pelukan," sahutku dengan tawa lepas.
"Kamu yakin nggak mau peluk aku?" tanyanya menggodaku.
"Dih … Om jangan mesum, ih. Tiara masih sekolah, Om. Inget … inget," ucapku yang disambut tawa terkekehnya.
Kereta besi itu melaju memasuki sebuah wilayah perumahan paling mewah di kota kami. Terlihat sederetan bangunan mewah berlantai dua dan tiga dengan desain arsitektur gaya eropa menyambut kami di sepanjang jalan utama perumahan.
__ADS_1
Jalanan luas dengan pohon-pohon besar berdiri tegak menantang, sebagai pembatas antara arah keluar dan masuk kendaraan, terlihat semarak di antara lampu jalanan. Suasana sunyi khas perumahan mewah yang bahkan para penghuninya mungkin tak saling mengenal satu sama lain.
Kendaraan itu berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar tinggi, seolah benteng untuk memisahkan dunianya dengan dunia luar. Seorang penjaga dengan tergopoh berlari mendorong pagar itu hingga terbuka dengan lebarnya.
Sebuah rumah dengan dua lantai dengan eksterior minimalis terkini dan penerangan lampu kuning elegan di sekitarnya. Hmm … terlihat seperti rumah dalam sinetron-sinetron yang sering kulihat bersama mama.
Om Damar mengemudikan mobilnya masuk ke dalam rumah dan memarkirnya di carport. Aku masih mengamati sekelilingku dengan gugup. Bahkan aku tak berani melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumahnya.
"Masuklah," ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku. "Apa yang kamu takutkan? Aku tidak memelihara anjing, harimau ataupun singa."
"Euuh … bu–bukan itu yang aku takutkan, Om," ucapku setengah berbisik. "Aku takut … ada orang yang bakal marah saat aku masuk ke dalam sana."
Pria itu mengerutkan keningnya. "Marah? Siapa yang akan marah?"
"Mungkin saja itu … istri Om?" tanyaku masih tak yakin bahwa dia masih sendiri, bahkan tak mempunyai kekasih. Bagiku terasa mustahil pria tampan dan mapan sepertinya belum memiliki tambatan hati sampai berusia sematang ini.
Pria itu tertawa terkekeh. "Astaga Tiara," ucapnya sambil menggelengkan kepalanya. "Masuk … masuklah. Mari aku kenalkan kamu pada istri-istriku di dalam."
Mataku membulat. Apa aku nggak salah dengar? Barusan dia mengatakan akan memperkenalkan aku pada istri-istrinya. Bukankah itu berarti dia bahkan memiliki istri lebih dari satu orang.
Lalu … apa maksudnya dia mencoba merayuku dengan mem booking satu studio untuk sebuah film perdana, merayuku dengan sebuah cincin berlian, bahkan berjanji untuk menungguku hingga aku siap dengan sebuah hubungan percintaan yang serius.
__ADS_1
Jika itu yang terjadi, maka itu berarti dia bukan pria baik-baik.