Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Cukup Pacarnya!


__ADS_3

"Tiara!" 


Suara Shinta menyadarkan aku bahwa aku sedang tidak sendirian. Aku segera memalingkan wajahku dari Om Damar yang sedang asyik memilih perhiasan bersama wanita cantik pemilik toko. 


"Ada apaan sih?" tanya Shinta, gadis itu ikut mencari tahu apa yang sedang mencuri perhatianku. 


"Euuh … enggak. Nggak ada, kok," sahutku segera menggamit tangan sahabatku itu menjauh dari tempat itu. 


"Kenapa?" Shinta tertawa terkekeh. "Hmm … jangan-jangan kamu udah bayangin suatu saat kelak, seorang pangeran berkuda bakal ngelamar kamu dengan sebentuk cincin berlian dengan mata yang besar."


"Kok tau aja sih, kamu. Tapi yang jelas, pangeran berkuda itu cuma ada di film doang. Kita harus hidup realistis. Boro-boro dapat cincin bertahtakan berlian dari sang pangeran tampan, cari cowok yang tulus aja udah langka," keluhku. 


Bahkan pria yang semula kupikir tulus mencintaiku, ternyata sudah mempunyai kekasih. Hmm … untung saja aku belum menerima cinta Om Damar. Bisa kubayangkan jika wanita pemilik toko tadi marah dan menjambak rambutku. Ah … pasti benar-benar mengerikan.


"Iya sih." Shinta menghela napas panjang. "Udahlah … nggak usah buru-buru. Pasti suatu saat kita akan ketemu tuh, sama yang namanya jodoh." 


"Ho-oh." Aku menganggukkan kepalaku menyetujui ucapannya. Yang terpenting bagiku, dia tak lagi mencari tahu siapa yang kuperhatikan di toko perhiasan tadi. 


"Halo, jodoh. Kamu dimana sih? Kok nggak nyampe-nyampe, apa perlu aku yang nyusul?" Ucapnya seolah sedang menerima panggilan dari seseorang. "Kita ketemuan di tengah jalan aja, ya?" 


Gadis itu melirik ke arahku lalu tertawa terkekeh seolah sedang mempermainkan aku. 


"Ish! Apaan sih," ucapku. Kucubit pinggangnya dengan gemas. 


"Auw …" teriaknya. “Abisnya kamu aneh banget. Jodoh kamu tuh, sudah nunggu di resto. Ntar lagi juga ketemu. Apa perlu aku seret dia kemari sekarang juga?” 


“Dih … apaan, sih. Aku sama dia cuman teman biasa, kok,” sanggahku.


Tiba-tiba Shinta menepuk-nepuk punggungku. “Ra … Ra, liat deh!” Gadis itu menunjuk ke arah sebuah toko di sebelah kios boneka. “Sepertinya kita cari kado buat Darren di sana aja.”

__ADS_1


“Boleh … boleh juga, tuh,” sahutku dengan acuh. “Apapun yang menurut kamu cocok, deh.” 


Kami pun masuk ke dalam toko arloji itu. Terlihat di dalam etalase berbagai macam merk jam tangan, mulai dari merk biasa hingga merk ternama, mulai dari bandrol yang ramah di dompet hingga harga yang luar biasa mahal. Bahkan ada yang seharga satu unit motor!


“Jadi yang mana nih?” tanya Shinta. Sepasang mata gadis itu menelisik satu demi satu jam tangan dalam lemari kaca display itu.


Aku mengedikkan pundakku. “Nggak tau, ih. Pusing, pada nggak ramah di kantong.” Aku mengalihkan pandanganku kembali keluar dari toko itu. 


Sepasang mataku membulat ketika melihat sosok yang kukenal itu berjalan melewati toko yang kami singgahi. Dengan cepat aku menundukkan badanku, berbuat seolah-olah tali sepatu kets yang kupakai terlepas, tentu saja untuk bersembunyi. 


Celaka! Bagaimana kalau dia melihatku di sini? Atau jangan-jangan dia memang sengaja mengikutiku. Aku ingat sekarang, mungkin dia mengikutiku karena aku mengatakan akan jalan-jalan dengan Shinta. 


Astaga, bagaimana jika dia bertemu dengan teman-temanku nanti. Pasti aku akan dibully karena mempunyai hubungan dengan pria berumur. Padahal di antara kami berdua tak ada hubungan spesial. 


“Kenapa?” bisik Shinta yang ternyata ikut menunduk dibelakangku.


“Memang kenapa tali sepatu kamu? Aku nggak liat ada masalah sama tali tali itu.” 


Jawaban gadis itu membuatku mati kutu. Kenapa juga aku punya teman se-rese ini sih? Kenapa dia bisa tau setiap detil yang aku lakukan? 


“Aku kasih tau, ya. Hari ini kamu aneh banget, Ra.” Gadis itu mengerutkan keningnya dan kembali berdiri.


“Udah, Kak. Bungkus aja yang ini. Sepertinya teman saya sedang nggak enak badan ini. Jadi bungkusnya agak cepat ya,” ucap gadis itu pada sang pelayan toko sembari menyerahkan kartu hitamnya sebagai alat bayar.


Aku mengerucutkan bibirku. Astaga, benar-benar nggak nyaman rasanya diperlakukan seperti orang aneh oleh sahabat sendiri. Tapi … aku nggak ada keinginan sedikitpun untuk menceritakan masalah yang aku hadapi. Seolah ada yang melarangku untuk menceritakan pada siapapun. 


***


“Nah … apa kataku!” teriak Raka. “Emang si Shinta ini numero uno!” 

__ADS_1


“Nih … kado buat kamu, Ren!” Shinta menyodorkan tas berisikan jam tangan yang telah dibelinya pada Darren, temannya yang sedang berulang tahun pada hari itu.


“Iya, makasih ya udah pada dateng," sahut pria muda itu saat menyambut kedatangan kami. 


Meja panjang itu sepertinya sengaja disiapkan bagi tamu undangan Darren. Setiap kursinya telah penuh berisi, hanya tersisa tiga kursi yang berdampingan. 


"Sialan! Sepertinya Shinta sengaja menipuku agar aku mau datang ke acara ini," batinku. "Bahkan semua tamunya hanya teman-teman si Darren. Gila! Untung aja aku nggak banyak menceritakan rahasiaku."


Darren menarik kursi untukku. Dengan pasrah aku duduk mengikuti keinginannya, sementara Shinta duduk dengan tenangnya di sebelahku. Sepasang matanya menelisik ke seisi ruangan resto. 


"Om dan Tante nggak datang, Ren?" tanya Shinta. Sepertinya dia tak berhasil menemukan sosok yang dicarinya. 


Aku tertawa kecil. Ternyata dia tidak menipuku. Mungkin malah dia yang sedang tertipu oleh Darren. 


"Mama sama Papa lagi ke luar kota," sahut Darren.


"Lalu abang kamu?" 


Shinta akhirnya keceplosan menanyakan sosok yang dicarinya. Dan itu membuatku tertawa terkekeh. Sepasang mata gadis itu melotot padaku. 


"Nggak … maksudku, ehm … masa sih, kamu ulang tahun tapi nggak ada keluarga yang dateng." Kelihatan sekali kalau Shinta sengaja mencari alasan untuk menutup rasa malunya.


"Abang tadinya mau dateng, tapi managernya maksain dia untuk tanda tangan kontrak dengan apa gitu," sahut Darren sekenanya.


Shinta mengerucutkan bibirnya. Terlihat wajahnya begitu kecewa. Tentu saja, itu adalah alasan baginya untuk datang ke acara ini. Seandainya saja dia tahu, abang si Darren nggak bakal datang, tentu saja kami tak akan pernah muncul di acara yang didominasi oleh cowok ini.


"Ah … udahlah, Shin. Nggak usah bahas itu. Kita happy-happy ajalah. Jangan bikin mood brother kita yang lagi ulang tahun ini ngedrop," pungkas Raka. "Lagian, bukannya udah cukup tuh, ada Tiara, pacarnya di sini."


Heh! Apa dia bilang? Pacar?

__ADS_1


__ADS_2