
Entah kenapa aku menangkap ada nada ketidakberesan di jawaban om Marcel. Seperti sebuah firasat buruk yang melintas begitu saja di dalam pikiranku.
“Kenapa Om? Bukunya hilang?” tanyaku karena penasaran.
“Enggak, nggak hilang.” Om Marcel melunakkan nada bicaranya.
“Ya udah, Tiara nitip dulu. Besok Tiara ambil.”
Rasanya begitu lega mengetahui bahwa buku itu telah ada di tangan yang tepat. Di tangan om Marcel. Tentu saja tak akan ada yang berani berurusan dengan pemilik Big Star itu walaupun kadang tingkahnya begitu menyebalkan ketika berhadapan dengan cowok macho.
“Eh, tapi …." Sepertinya om Marcel masih ingin mengatakan sesuatu.
Tapi aku sudah terburu menutup panggilanku dan membereskan kekacauan yang telah kubuat akibat kepanikanku tadi. Yang penting buku itu aman. Aib tersimpan rapi. Titik!
“Tiara, kamu nggak jadi makan?” Suara mamaku kembali terdengar melengking seolah aku berada di tempat yang sangat jauh.
Aku tahu, mama tak akan berhenti memanggilku untuk segera makan hingga aku benar-benar duduk dan menikmati masakan olahannya di meja makan.
"Iya Ma," sahutku sambil beranjak dari lantai, tempat buku-bukuku sempat terserak.
Kubuka tudung saji di atas meja makan. Terlihat sepanci soto ayam dan segala pernak pernik bahan pelengkapnya. Aroma sedap soto yang menguar di ruangan itu, menambah riuh suara cacing-cacing di dalam perutku yang sedang menuntut untuk dikenyangkan.
Mama meletakkan sepiring nasi di hadapanku. Dengan cekatan, wanita setengah baya itu mulai meracik hidangan itu ke atas nasi di piringku dan menyiramnya dengan kuah kuning soto yang masih mengepulkan asapnya.
"Ma, akhirnya Tiara dapat job itu," ucapku mengawali pembicaraan kami. "Untung saja om Marcel belum menemukan kandidat model penggantiku."
Wanita itu menarik sudut bibirnya, memperlihatkan seulas senyumannya. "Rejeki nggak akan tertukar, Tiara. Semua sudah diatur oleh yang di atas."
Aku melihat ke atas. "Siapa, Ma?" godaku sambil tertawa terkekeh.
Mama mencubit gemas pipiku. Walau dia terlihat kesal, tapi aku yakin dia menikmati kebersamaan kami. Bagaimanapun aku harus bisa menyisihkan waktu untuk menemani masa tersulitnya saat ini.
"Udah, jangan bercanda terus, cepat makan."
__ADS_1
Namun baru sesuap makanan masuk ke dalam perutku, terdengar suara bel pintu. Ada seseorang yang datang, dan yang pasti itu bukan Shinta, Raka ataupun Darren, karena jika mereka yang datang, tidak mungkin menekan bel, melainkan langsung nyelonong seperti di rumah mereka sendiri.
"Ish! Siapa sih?"
Aku hendak berdiri, tapi mama menahanku.
"Udah, habiskan dulu makan siangmu. Biar mama yang lihat siapa yang datang." Wanita itu melepas apron yang masih melingkar di pinggangnya, dan menggantungnya di sebuah pengait tempel di dinding dapur, sebelum bergegas keluar.
Aku melanjutkan acara makan siangku, melahap cepat makanan favoritku yang terasa gurih di lidah. Memang soto buatan mama yang nomer satu.
Kudengar suara seseorang. Sepertinya tamu yang datang adalah seorang pria. Hmm … mungkin saja seseorang yang hendak memesan katering mama. Ah … semoga saja mama dapat job besar kali ini.
Aku hendak memasukkan satu suapan lagi ke dalam mulutku, ketika seseorang masuk ke dalam ruang makan rumah kami.
"Silahkan masuk, Tiara baru saja makan siang."
Aku menoleh ke belakangku. Dan hal yang membuatku terkejut, tamu yang datang ternyata adalah pria itu. Pria yang kutemui di kantor Om Marcel! Ah … siapa namanya tadi …. Om Damar!
BRAK!
"Om Damar … kok bisa kemari?" tanyaku tanpa sadar.
Pria itu menarik sudut bibirnya. Digaruknya ujung hidungnya sambil menggelengkan kepalanya. Ah … mungkin dia sudah menyadari kekonyolanku. Aku bukan seorang model yang terlihat luar biasa seperti yang tampak di foto-fotoku. Aku hanya gadis biasa yang tampak luar biasa dalam tampilan sebuah gambar cetak. Bisa jadi … dia akan membatalkan kontrak baru yang akan kutandatangani besok.
Aku meremas kedua sisi rok abu-abuku, menahan rasa gelisah yang muncul. Entah kenapa jantungku kembali berdebar dengan kencang. Sepasang mata itu kembali membuat jantungku berdetak lebih kencang. Apalagi saat menyadari pria itu perlahan bergerak mendekatiku.
"Om Marcel yang memberikan alamat ini padaku." Suara bariton itu terdengar di telingaku. "Tentu saja setelah aku memaksanya."
Aku menatap sepasang mata itu, berusaha mencari tahu tujuan kedatangannya yang sebenarnya. Mungkinkah dia mencari tahu sedetail ini tentang profil model iklannya? Tak ada sebuah jawaban pun yang kutemukan.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh datang kemari?" tanyanya dengan wajah innocent nya.
Aku mengangkat kedua tanganku dan melambaikannya dengan cepat. "Enggak … enggak, Om," sahutku. "Euuh … maksudku … boleh, boleh kok, Om."
__ADS_1
Kutarik sudut bibirku memaksakan diri untuk menghadirkan seulas senyuman untuknya. Kudorong kursiku masuk ke dalam meja. Rasa laparku hilang dalam seketika. Bahkan nasi soto ayam itu pun sudah tak menarik lagi untuk ku santap.
"Loh … kenapa makannya nggak diterusin?" tanya om Damar.
"Udah kenyang, Om." Aku menggigit bibirku, berusaha mengatasi perasaan tak nyaman yang semakin menjadi.
"Ya udah. Kalau gitu, kita bicara sebentar." Pria itu mengeluarkan sebuah buku dari dalam saku jas nya.
Sepasang mataku membola. Buku itu … buku itu, scrapbook buatan Pak Seno yang diberikan padaku tadi siang. Bukankah seharusnya buku itu ada di Big Star, di tangan Om Marcel?
"Bisa kita bicara tentang buku ini sebentar, Tiara?" ulang Om Damar.
Aku melihat sekelilingku. Untung saja mama sedang tidak ada di sana. Sepertinya dia sengaja memberiku privacy. Tapi … aku tidak mau dia mencemaskanku jika mendengar masalah yang terjadi di sekolahku.
Kuhela napas panjang. "Kita bicara di luar. Kuganti pakaianku dulu."
Om Damar menganggukkan kepalanya. Aku dapat melihat senyuman di wajahnya, mungkin saja itu sebuah senyuman ejekan atau sebuah senyuman kemenangan.
Setelah mengganti pakaianku dengan pakaian santaiku, aku segera keluar.
"Ma, Tiara keluar sebentar," pamitku. Mama yang masih sibuk dengan pembicaraan di teleponnya, hanya menganggukkan kepalanya sambil melambaikan tangan.
Aku berjalan pelan menyusuri jalanan menuju taman bermain yang terdekat dengan rumah. Kumasukkan kedua tanganku ke dalam saku celana pendekku.
Kulihat langit cerah yang berwarna biru dengan awan yang berarak. Sementara anak-anak kecil terlihat begitu riang bersepeda di jalanan kecil menuju taman.
"Jadi apa yang perlu kita bicarakan, Om?" tanyaku sambil menghentikan langkahku. Kutatap wajah pria yang berdiri di sampingku. Pria berusia matang itu terlihat tenang. Seolah tak ada masalah yang tak dapat diselesaikan olehnya.
Bentuk wajahnya, rahang tegasnya dengan bulu halus yang tercukur rapi itu memperjelas kharisma yang dimilikinya.
"Tentang pria pembuat buku ini. Siapa dia? Apa dia kekasihmu?"
Sebuah pertanyaan yang membuat tenggorokanku seakan tercekik. Haruskah aku menceritakan semuanya?
__ADS_1