Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Malam Reuni


__ADS_3

Malam itu cuaca sangat cerah, secerah wajah Om Damar ketika menjemputku. Senyuman manis tak lepas dari bibirnya saat pria itu menatapku. Hmm … tak bisa ku sangkal, dia juga terlihat spesial malam ini, lebih dari penampilan rapi yang biasa kulihat sehari-hari. Dia dengan setelan jas dan kemeja skinny nya memperlihatkan bentuk tubuhnya yang jelas akan membuat iri semua pria di sekitarnya.


Sepertinya terlalu aneh jika kami berdua berpenampilan seperti ini, apalagi kalau tujuannya hanya untuk sekedar datang ke sebuah acara reuni tahunan. Bisa-bisa kami akan menjadi pusat perhatian. Ah … bukan cuma itu, mungkin kami berdua akan menjadi bahan pembicaraan selama setahun ke depan.


Gedung tempat diselenggarakannya acara reuni tahunan itu adalah sebuah hall yang cukup besar. Namun ruangan luas itu seakan tak mampu menampung keriuhan acara temu kangen para alumni yang sudah terpisah selama lima belas tahun itu. 


"Damar!" teriak seorang pria dengan kemeja batik bermotif mega mendung khas cirebonan itu. Seulas senyuman terlihat di bibirnya. Tangannya yang terulur segera disambut hangat oleh Om Damar. 


Kulihat mereka berdua saling ber hi five dengan caranya yang cukup unik, lalu menabrakkan kedua lengannya, sebelum berpelukan dengan gerakan saling menepuk punggung masing-masing. Sepertinya mereka sangat akrab. "Tumben lo dateng, Dam! Gue kira lo nggak akan pernah datang ke acara reuni sekolah kita." 


Aku melihat wajah tampan itu tersenyum tipis. "Kenapa harus nggak datang? Aku pasti datang kalau ada waktu luang," sahut Om Damar. "Aku nggak bisa memaksakan diri untuk datang, kan kalau pekerjaan lagi numpuk."


Tiba-tiba pria itu menatapku. Karena merasa tak nyaman, aku segera menebarkan pandanganku ke arah lain. Melihat dekorasi dan banner yang terpasang di dinding ruang gedung. 


"Akhirnya lo bisa lupain dia, kan?" Suara pria itu kembali terdengar. "Bagus. Seharusnya lo bisa lakuin itu sejak dulu."


"Tirta! Lo dimana sih," teriak seorang wanita yang sedang melangkah menghampiri kami. Wanita anggun dengan riasan natural ala ibu muda itu tiba-tiba mencubit pinggang pria itu. Tangannya terlihat menggandeng seorang gadis berusia sepuluh tahunan. "Udah gue bilang, jagain Stevie sementara gue ke kamar mandi. Eh, malah asik di sini."


Pria bernama Tirta itu tampak meringis sambil mengaduh sesaat. "Aduh … aduh, jangan gitu dong Shel. Mungkin lo bisa berkuasa di rumah, tapi kalau di luar gini … please, jaga image gue." 


"Apa? Lo malu kalo ketahuan takut sama istri lo? Jangan harap ntar malem dapat jatah, kalau jaga satu putri sendiri aja nggak becus," ucap ketus wanita itu lagi. "Bisa nyesek aku urus banyak anak sendirian, ntar."


Om Damar terlihat tertawa kecil. Kurasakan tangannya kembali melingkar di pinggangku. Seakan hendak mengatakan bahwa sudah saatnya baginya untuk memperkenalkan aku pada semua teman dekatnya. 

__ADS_1


Wanita itu mulai memperhatikan kehadiranku. 


"Pacar lo, Dam?" Suara wanita itu terdengar kembali dalam irama yang tenang. 


"Dia … satu-satunya wanita yang bisa membuat jantungku berdetak," ucap Om Damar kali ini entah kenapa dengan suara yang begitu lantang. "Calon pemilik hati yang sudah lama kosong ini."


Wanita itu tersenyum sinis sambil menatap Om Damar dengan pandangan yang tak menyenangkan. "Setelah lo bikin kekacauan belasan tahun yang lalu, sekarang untuk apa lo muncul kembali?" Wanita itu menyilangkan kedua tangannya di dadanya. 


"Shel …. Udah, udah! Jangan bikin keributan, malu," ucap pria bernama Tirta tadi. Pria itu berusaha menenangkan hati istrinya yang entah kenapa tiba-tiba menyerang Om Damar dengan kalimat-kalimat yang tak menyenangkannya itu.


"Apa? Lo masih mau bela temanmu ini?" tanya wanita itu menepis tangan suaminya. 


Om Damar tersenyum sambil menggaruk keningnya. "Shel, aku tahu kamu sayang banget sama dia, seperti saudara kamu. Tapi … kamu nggak tahu jelas kejadian hari itu kan? Aku paham kamu marah, karena kamu nggak tau apa yang sebenarnya terjadi."


Aku semakin kebingungan. Tentu saja aku juga merasa penasaran. Jika memang ada sesuatu yang buruk di masa lalu Om Damar, bukankah aku juga berhak untuk mengetahui semuanya? Hmm … baiklah, akan kusimpan pertanyaan ini. Om Damar harus menjelaskan semuanya.


Seorang gadis berusia belasan tahun, dengan wajah blasteran tiba-tiba saja mendekati kami. "Stevie, aku sudah mencarimu kemana-mana. Yuk, kita main!" 


Aih … wajah cantiknya bak malaikat. Bibirnya yang merah merekah alami, kulit putihnya, dengan pipi yang merona, dan mata bulat dengan manik coklat terang bak boneka barbie. 


"Fretty, mommy sama daddy kamu sudah datang?" tanya wanita itu. 


Gadis bak boneka barbie itu diam. Entah kenapa tatapannya tertuju padaku. Ew … mungkin saja dia merasa tak nyaman karena aku terlalu lama mengagumi parasnya. 

__ADS_1


Tiba-tiba gadis itu menarik sudut bibirnya dan mengulurkan tangannya padaku. "Kakak cantik, apa mau main bersama kita juga?" tanyanya. Aku terkejut mendengar pertanyaannya. 


"Ew … a–" 


Baru saja aku mau menjawab pertanyaan itu, Om Damar segera menyeretku menjauh dari mereka.


"Permisi, kita harus menemui yang lainnya," ucap pria itu. 


Mau tak mau, aku harus menarik kembali tangan yang sudah kuulurkan untuk menyapanya. Heran deh, sepertinya ada sesuatu yang hendak Om Damar hindari atau bahkan sembunyikan dari aku. 


Nggak … nggak. Aku nggak boleh berburuk sangka. Om Damar sudah membawaku ke acara ini, itu berarti dia sudah menunjukkan keseriusannya padaku. Rasanya sangat keterlaluan jika aku menuduhnya yang tidak-tidak, apalagi tanda bukti yang jelas.


Aku melihat sekelilingku, semua orang terlihat tertawa dan berbincang dengan akrab. Hingga gadis cantik tadi kembali mendekatiku. Kali ini di tangannya terlihat seorang wanita cantik dengan rambutnya yang indah. 


"Mommy, bolehkah Fretty duduk sama kakak cantik itu?" tanyanya pada sosok wanita cantik itu. Aku melihat ada perubahan di air muka wanita itu saat melihat Om Damar. 


Tapi wanita itu seakan meredam emosinya. Dia menatap putrinya dan berkata dengan lembut. "Bermainlah dengan Stevie. Ada yang perlu mommy bicarakan sebentar dengan mereka."


Ew … ada apa ini? Eh … sebentar. Sepertinya aku pernah melihat wajah ini. Sepertinya wajah ini tak asing bagiku. Tapi … dimana aku pernah melihatnya?


Aku yakin! Aku yakin pernah melihat wajahnya. Aneh sekali, apa ini sebuah de javu? Aku bukan orang yang mudah melupakan sesuatu. Tapi kenapa aku bisa lupa? 


Sebenarnya siapa dia? Apa ada hubungannya dengan masa lalu Om Damar seperti yang dikatakan oleh istri pria bernama Tirta tadi? 

__ADS_1


Ah … terasa seperti kepingan puzzle yang tak dapat kuraba bentuk akhirnya. Ini benar-benar menyebalkan. 


__ADS_2