Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Rumah atau Istana?


__ADS_3

Setelah melewati perjalanan yang panjang bahkan memakan waktu belasan jam untuk sampai ke Ibukota. Jova sendiri sampai beberapa kali tertidur, tetapi tidak juga sampai ke tempat tujuan.


Dengan mata yang masih berat wanita itu membuka matanya, ketika mobil yang ia tumpangi sudah mulai berjalan pelan. Tebakan Jova mungkin ia akan istirahat, atau bahkan mengisi bensin, tetapi tebakannya kali ini salah. Mobil mewah itu masuk ke halaman rumah yang nampak mewah.


Jova sendiri tercengang ketika melihat rumah yang ada di hadapanya itu, rumah dengan dua lantai, modern kontemporer yang mewah dan besar berdiri kokoh membuat untuk beberapa saat Jova mengaguminya.


Felix sendiri melirik wanita yang ada di sampingnya dengan ekor matanya. "Jangan norak deh, ayo buruan turun!" Lagi-lagi suara dingin itu membuat gendang telinga Jova menegang.


Tanpa protes dan juga tanpa banyak membuang waktu Jova membawa tas yang hanya berisi beberapa setel pakaian yang masih layak dia gunakan.


Ia mengikuti apa kata suaminya, turun dari dalam mobil mewah itu. Langkahnya setengah tergesa mengekor di belakang Felix. Dalam batinya entah beberapa kali wanita itu mengagumi rumah mewah itu. Sungguh suaminya bukan orang biasa, bahkan baru tahu kalau juragan Guntoro sekaya ini, padahal di kampung rumahnya tidak semewah ini, besar, dan luas tetapi lebih kebangunan jawa kuno (Joglo), tidak seperti rumah anaknya yang lebih modern. Selera Felix dalam hal hunian memang patut diacungi dia jempol.

__ADS_1


"Ini adalah rumahku, kamu boleh tinggal di rumah ini, tetapi tidak boleh berkliaran sembarangan dalam rumahku, aku tidak suka kehidupanku ada yang ganggu, aku tidak suka brisik, dan aku juga tidak suka ada orang asing ada di dalam rumah utamaku." Felix berhenti berjalan secara tiba-tiba, dan berbicara sebelum benar-benar masuk ke dalam rumahnya. Memberitahukan apa saja yang tidaak boleh Jova lakukan.


"What? Orang asing? Bukanya kita sudah menikah? Kalau menikah sudah jadi suami istri, tetapi kenapa dia bilang orang asing?" tanya Jova dalam batinya tidak sama sekali mengerti dengan yang Felix inginkan dalam pernikahan ini, sedetik kemudian dia berkata A dan sedetik kemudian lagi dia akan berubah hingga Z. Namun, Jova memilih diam tidak menjawab ucapan Felik.


"Apa loe keberatan, Jojo?" tanya Felix dengan nada bicara yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Jova yang masih berdiri tepat di belakang Felix pun langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat.


"Tidak, mana berani saya keberatan dengan aturan Anda, Tuan. Justru saya sampai detik ini masih mengucapkan rasa terima kasih pasalnya Anda sudah sudi memberikan tumpangan gratis, meskipun itu di gudang yang terletak di atap rumah Anda." Jova menekankan 'Gudang dan Atap Rumah'. "Selain tempat tinggal yang gratis, saya juga akan dijanjikan pekerjaan, jadi justru saya ucapkan terima kasih."


"Bagus, tahu diri juga kamu."


Jova pernah masuk rumah orang terkaya di kampung tempat tinggalnya, tetapi baru kali ini dia masuk ke rumah orang yang lebih kaya lagi, dan orang itu adalah Felix, suaminya sendiri.

__ADS_1


Satu wanita paruh baya menyambut mereka. Ah, salah lebih tepatnya menyambut tuan rumahnya, yaitu Felix.


"Bi ini wanita yang aku ceritakan kemarin, besok dia akan bertemu denganĀ  Arzen, dan dia akan menempati gudang di rooftop. Atur semuanya jangan sampai dia berkliaran di dalam rumah ini, tanpa izin dari aku."


Deg!!! Hati Jova sangat sakit, ketika mengetahui watak sesungguhnya siapa suaminya.


Seharusnya Jova tidak kaget, tidak sakit hati dan tidak kecewa. Namun, dia sebagai wanita yang dalam agama dan hukum sah sebagai istri dari manusia kulkas itu sangat kecewa dengan ucapan Felix, apalagi laki-laki itu tidak menatap Jova sama sekali.


Ekor mata Jova melihat ke arah Felix yang naik ke lantai dua tanpa memperdulikan Jova. Tanpa terasa bulir air mata pun kembali jatuh dengan elegan, mewakilkan perasaanya saat ini. Hancur berkeping-keping, sakit tapi tidak berdarah. Mendapatkan suami yang jauh dari impiannya.


Ia menjerit dalam batinya, belum satu jam dia sampai di Jakarta dan masuk ke rumah laki-laki yang telah menikahinya, tetapi dia sudah dibuat menitikan air mata kekecewaan sekaligus kesedihan.

__ADS_1


"Apakah aku akan tetap bertahan dengan pernikahan Ini? Sampai kapan aku bisa melewati ujian ini? Oh Tuhan kenapa rasanya jantung ini sangat sesak?"


...****************...


__ADS_2