Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Sang Pengganggu


__ADS_3

Kini Jova telah duduk di pangkuan Felix hal yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan. Bahkan saking geroginya hingga tubuh pun  menegang sempurna dan keringat dingin bermunculan.


"Jo, apa aku salah kalau sampai detik ini aku masih menyimpan dendam, dan belum sepenuhnya memaafkan Papahku?" tanya Felix dengan tatapan yang mengiba.


Sifat alamiah penyayang pun muncul ketika Jova merasakan kalau Felix butuh kasih sayang. Tangan Jova perlahan mengusap rambut Felix, ia hanya memberikan kekuatan untuk laki-laki yang menyandang sebagai suaminya, bahwa saat ini ia tidak sendiri ada Jova yang siap berbagi kesedihan.


"Aku tidak tahu seberapa dalam luka Mas yang disebabkan oleh Juragan Guntoro, tapi kalau Mas sakit mengingatnya, kenapa tidak coba Mas lupakan, dan berdoa agar tangan Tuhan saja yang bekerja untuk membalaskan sakit yang Mas alami, baik Mas ataupun ibu Mas hingga akhir hayatnya. Percayalah kejahatan sekecil apapun tidak akan lolos dari keadilan Tuhan. Biarkan Tuhan yang bekerja karena hukuman bagi Tuhan sudah sesuai porsinya, andai Juragan Guntoro tidak mendapatkan keadilan di dunia ini, belum tentu dia lolos dikeadilan Tuhan di akhirat kelak. Dia akan tetap mendapatkan hukuman atas semua kejahatan yang telah dia perbuat." Jova  yang melihat kalau Felix sedang dalam mode kebimbangan pun mencoba menasihatinya agar tidak salah jalan. Apalagi ini menyangkut ayah biologisnya.


Felix membalas tatapan Jova dan menyandarkan kepalanya di dada Jova. Bagi felix mungkin biasa, tapi bagi Jova hal itu hampir saja membuat jantungnya loncat.


"Terima kasih, karena telah membuat aku nyaman. Jujur sejak aku mencoba menerima kamu, hati aku jadi lebih tenang, aku tidak lagi kesepian, aku seolah menemukan sosok pendamping hidup yang bisa mengerti aku. Aku tidak pernah terpikirkan kalau kamu, gadis yang di awal pertemuan membuat aku kesal justru sekarang di dalam pelukanmu aku merasakan ketenangan. Kedamaian yang sudah lama pergi kini aku bisa merasakaan kembali dari hangatnya perlakuan kamu." Felix malah melingkarkan tanganya ke pinggang Jova. Tambah kaku tubuh Jova gerak salah nggak gerak tubuh serasa mati.


"Jo, apa kalau kamu tahu masa lalu aku yang banyak sekali berbuat dosa kamu akan menjauh dan meninggalkan aku?" tanya Felix, suaranya terdengar sekali kalau Felix tengah menyesali semua perbuatanya.


Jova pun kembali menghirup nafasnya dalam. Memang Felix tidak menjabarkan dosa apa yang telah ia perbuat, tetapi setidaknya dari semua masalah yang pernah Felix alami, Jova bisa menyimpulkan bahwa dosa Felix pasti bukan perkara yang ringan.


"Apa kamu sudah menyesali semua perbuatan dosa yang sudah pernah kamu lakukan, dan berjanji tidak akan lagi mengulanginya lagi?" tanya Jova bersikap bijak, meskipun dalam hati sakit. Namun setiap hamba bukan sama-sama pendosa hanya Allah menutup aib kita.


#Kita dihargai, bukan karena kelebihan yang ada, kita dipandang baik bukan karena kita benar-benar baik. Namun karena Alloh masih menutup aib kita.


"Andai aku diizinkan baik ke masa lalu, aku pasti akan memperbaiki semua kesalahan-kesalahan itu dan aku tidak akan mengambil hal bodoh yang meninggalkan bekas di hatiku. Aku selalu dihantu oleh perasaan bersalah itu," jawab Felix, sangat bersyukur karena kini di bisa menceritakan semua yang di rasakanya. Sehingga sedikit tali-tali penyesalan itu terbuka, dan membuatnya bernafas sedikit demi sedikit.


"Kalau gitu Mas tutup aib-aib itu sebagaimana Allah menutup aib Mas, karena kalau aku tahu, apa saja yang telah Mas lakukan di masa lalu, takutnya menjadikan hati ini berat untuk mencintai Mas dengan tulus. Cukup jadikan kesalahan Mas dulu untuk memberikan penyesalan dan sebagai acuan agar lebih baik lagi," jawab Jova dan hal itu membuat hati Felix damai, dan sejuk, seperti diguyur dengan air terjun.


Ia sempat takut kalau Jova akan  marah dengan kelakuanya, tetapi ternyata jawaban Jova justru membuat Felix sangat beruntung karena itu tandanya istrinya itu memang ingin memperbaiki bersama kesalaahan Felix dulu bukan menghakiminya.


Happp...

__ADS_1


"Ah... Mas kamu mau apa?" tanya Jova dengan suara yang setengah memekik, karena terkejut tubuhnya tiba-tiba setengah melayang. Felix hanya tersenyum penuh kemenangan.


Brugghh... Felix meletakan tubuh Jova dengan hati-hati di atas kasur empuknya.


"Mas kamu mau apa?" tanya Jova ulang, ah meskipun naluri birahinya sudah bisa menebak bahwa laki-laki itu pasti juga ingin mengajaknya senam irama.


"Bikin Felix junior, biar rumah ini makin ramai dan kamu ada yang menemani," jawab Felix dengan suara setengah berbisik-tepat di balik telinga Jova hingga tubuhnya meremang hebat.


"Bu... bukanya katanya nanti malam, aku belum ketemu cemong. Aku sudah kangen banget sama cemong," balas Jova dengan suara yang setengah tersengal.


"Jangan sebut nama lain selain aku ketika kita akan melakukan penyatuan, karena aku cemburu." Felix terus mencu-bu setiap jengkal tubuh Jova yang sudah setengah telanjang.


"Tapi itu hanya seekor anak kucing yang lucu dan menggemaskan," protes Jova kembali.


Happp... Ehmzz... justru kini bibir mereka saling bersatu hingga Jova tidak bisa membela cemong lagi.


#Sabar yah cemong momy kamu lagi dihukum sama dedy kamu.


Felix yang sudah berpengalaman pun tidak butuh waktu lama untuk melepaskan kain yang menempel di tubuh Jova. Jova pun yang tidak sadar kalau dirinya sudah telanjang langsung mencari selimut untuk menutupi tubuhnya yang sudah polos seperti anak bayi baru lahir.


"Mas, ini pertama bagi aku, apa nanti akan sangat menyakitkan?" tanya Jova sembari memegangi selimutnya agar tidak terjatuh dari dadanya.


"Tidak karena aku akan melakukanya dengan pelan-pelan saja, aku tahu bagaimana harus bermain dengan perempuan yang masih belum berpengalaman," jawab Felix yang saat ini laki-laki itu juga sudah membuka pakaianya sendiri.


Biarkan saat kali ini sendiri, tapi nanti juga Jova akan tahu mana yang membuat suami bahagia yaitu salah satunya pakaiannya yang dibukakan.


"Tapi nanti kalau sakit?" tanya Jova terlihat sekali ketegangan di wajah polosnya.

__ADS_1


"Kamu boleh gigit aku di sini, sini atau sini terserah atau boleh cakar aku dengan kuat, atau panggil aku dengan suara manja kamu," jawab Felix dengan jari telunjuk, menunjuk, dada, pundak dan juga bagian lenganya.


"Apa kalau aku menjerit, gigit dan cakar sakitnya akan berkurang?" tanya Jova yang ia sebenarnya sedang  berusaha mengulur waktu penyatuanya, dia terlalu gerogi sehingga sebisa mungkin ia menggulurnya sembari mengumpulkan keberaniannya.


"Tidak sih, hanya saja aku jadi lebih semangat buat bikin dedeknya," kelakar Felix sembari memeluk tubuh Jova lebih kencang.


"Kamu Mas, malah membuat aku jadi tambah deg-degan," balas Jova dengan mencubit Felix.


Pasangan suami istri yang sudah siap untuk melakukan penyatuan pun terkejut ketika ada panggilan masuk ke ponsel Jova.


"Siap?" tanya Felix sembari mengintip layar telpon Jova.


Jova mengangkat bahunya sebagai tanda bahwa ia tidak tahu siapa gerangan yang menelepon.


"Angkat saja mungkin penting," balas Felix sembari tangan terus memainkan bukit kembar berbuah kacang berwarna coklat, hingga konsentrasinya terganggu karena tangan Felix yang justru sangat nakal.


[Hallo...] Sapa Jova dengan lembut.


[Hallo, Felixnya ada?] tanya seseorang dari sebrang telepon yang sudah bisa Jova ketahui siapa dia, dari wajah dan suaranya Jova masih mengenalinya. Begitupun Felix yang sudah paham siapa yang melakukan panggilan video. Dua tangan Felix malah sempat mengibas-ngibaskanya agar Jova mengtakan kalau Felix tidak ada.


[Ada perlu apa yah Mbak?] tanya Jova, kepo dong ada mantan suami yang langsung mencari suaminya, sedangkan maksud Felix memberikan nomor ponsel Jova adalah agar Naya merasa tidak enak menghubungi Jova, tetapi ternyata beda wanita itu tetap menghubungi Jova untuk mencari Felix.


[Aku ada perlu pada dia,] jawab Naya dari sebrang telepon yang belum tahu kalau Jova dan Felix sedang bersiap akan melakukan senam seirama.


Jova pun justru memiliki ide jahil agar Naya di sebrang sana kepanasan.


"Mas Felix ketiduran," balas Jova dengan menghadapkan kameranya pada dirinya yang tubuhnya terbungkus selimut, sebagai wanita yang pernah menjadi istri tahu dong kalau Jova sedang dalam keadaan tidak berpakaian itu tandanya apa. Belum lagi Felix yang ketiduran pasti kecapean sudah olahraga di pagi menjelang siang.

__ADS_1


Nut...Nuttt... Panggilan telepon langsung terputus.


HAHAHA.... kok kabor...


__ADS_2