Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Asisten Arzen


__ADS_3

Sesuai dengan yang dikatakan oleh Bi Suro, pukul setengah tujuh pagi, sang tuan muda datang, dengan setelan kerja lengkap beserta dasi dan juga jas. Jova melirik dengan ekor matanya. Kagum? Yah, sedikit ada rasa kagum, sebenarnya andai laki-laki itu sifatnya sedikit hangat dan tidak terlalu semena-mena, bisa menghargai orang lain, nilainya pasti plus-plus dan plus, banyak nilai positinya.


Ganteng, badan perfect, atletis kulit bersih cenderung putih, rapih, dan orangnya tidak terlalu neko-neko, pakai kolor aja dia sudah terlihat ganteng, tapi sayang memang Tuhan itu menciptakan makhluknya tidak ada yang sempurna, contohnya Felix, minus di sifat, akhlak dan cara menghargai sesama nol besar.


"Apa Jojo sudah turun Bi?"


"Sudah Tuan, sejak pukul enam, sekarang ada di luar sedang menunggu Anda," jawab Bi Suro, dengan suara yang cukup kencang sehingga Jova yang kupingnya masih normal merekam dengan jelas perbicangan mereka.


"Yah, baguslah, memang dia harus rajin, kalau mau tinggal di sini, aku nggak suka ada orang pemalas tinggal di rumahku, meskipun itu di rooftop.


Sontak kembali Jova melebarkan kedua matanya, rasanya ingin ngunyah laki-laki itu.


"Apa dia bilang pemalas. Hey Bambang tukang bakso, duluan juga aku yang bangun, aku ibadah dulu, mnyuci mandi, lah dia. Oh Tuhan.... kuatkan aku sama kata-kata dia yang tajam setajam silet." Jova terus mengumpat laki-laki yang bersetatus sah menjadi suaminya, tangan Jova terus mengusap-usap dadanya. Felix memang jarang berbicara, bahkan bisa dibilang irit cenderung pelit berbicara, tetapi jangan di tanya kalau sekali ngomong, be-gal lewat bisa langsung ngibrit saking tajam mulutnya.


Jova hanya bisa diam duduk menunggu suaminya sarapan, dengan pura-pura acuh, tetapi matanya sesekali melirik-melirik ketika telinganya menangkap  Felix yang sedang menikmati sarapan pagi dengan nikmat. Sekali-kali ia ikut menelan salivanya ketika Felix juga menelan makananya.

__ADS_1


"Tidak apa Jo, kamu sudah biasa puasa sunah anggap saja ini lagi puasa." Hibur Jova pada dirinya sendiri. Sembari mengusap kembali dadanya.


Uhuk... Uhukk... laki-laki yang sedang menikmati sarapan dengan damai tersendak.


"Mampus!! Tidak nawarin sih," gumam Jova dalam batinya. "Karma itu adil."


Tidak lama datang laki-laki paruh baya,  yah dia adalah asisten Arzen.  Setelah berkenalan dan berbasa basi. Arzen lalu masuk menemui Felix  entah berbicara apa dengan Felix, telinga Jova tidak bisa mengupingnya, tetapi memang sepertinya pembicaraan mereka tidak boleh diketahui oleh Jova. Lalu laki-laki itu kembali lagi di mana Jova berdiri.


"Ayok!"


Jova langsung bergegas mengikuti langkah laki-laki yang tidak kalah tampan dari suaminya, ia pun naik mobil Arzen.


Jova baru tahu ternyata dia akan bekerja di supermarket yang menjual segala kebutuhan rumah tangga.


"Jadi Tuan Felix itu pengusaha supermarket?" tanya Jova, teralu lucu bukan, ketika Felix adalah suaminya, tetapi tidak tahu pekerjaanya dan tidak tahu juga usaha apa yang mebuat dia bisa kaya raya seperti itu.

__ADS_1


Arzen justru tertawa dengan renyah. "Apa sebegitu polosnya kamu Jova, sampai laki-laki yang menyadang suami kamu tidak tahu dia bekerja sebagai apa," kelakar Arzen dengan tawa yang tidak kunjung berhenti, seolah pertanyaan Jova adalah hal yang sangat lucu.


"Itu semua karena perjaka  tua itu sangat menyebalkan, jangankan untuk berbicara baru mau tanya saja di bentak duluan," sungut Jova, dengan bibir monyong sempurna.


"Perjaka tua??" Arzen kembali terkekeh, dan Jova pun buru-buru membekap mulutnya yang lancang, bisa-bisanya ngomong tanpa ada rem.


"Mati aku! Tolong Anda jangan sampaikan apa yang tadi saya ucapkan yah, nanti Tuan Felix bakal gantung saya. Saya masih pengin hidup." Wajah bersalah ditunjukan oleh Jova memang kadang-kadang mulutnya terlalu jujur, sehingga sulit untuk diajak berbohong.


"Tidak, aku tidak akan menyampaikanya sama Tuan Felix, tapi itu juga ada saratnya." Arzen menaik turunkan alisnya dengan senyum jahil.


"Ck, kalian sama saja, sama-sama tidak mau rugi. Katakan, karena kebaikan saya tidak berlangsung lama." Jova menatap kesal pada Arzen.


"Gue minta nomer telepon loe!"


Deh! Jova langsung tersentak kaget. Pandangan mata Jova saat ini sedang menatap Arzen.

__ADS_1


"Wah ada lagi buaya cari mangsa. Ternyata kota Jakarta adalah pertenakan buaya, dan biawak."


#Taukan yah siapa Biawak dan siapa Buaya?


__ADS_2