
Felix berjalan dengan langkah yang lebar ketika dirinya membawa kabar bahagia. Rasanya dia tidak sabar ingin segera memberi tahu kabar bahagia ini pada sang istri. Kini kondisi Jova juga sudah jauh membaik, apalagi kemarin sang ibu juga menjenguknya, dan juga Sumi yang bercerita tentang anak angkatnya yang sangat menggemaskan. Melihat vidio-vidio cemong yang sangat lucu.
Yah ini adalah hari ke tiga Jova di rawat di rumah sakit paska pemulihan keguguran yang ia alami. Hubungan Jova dan Felix pun sudah kembali membali. Ketegangan di antara mereka sudah hilang. Kini yang ada mereka kembali saling melengkapi seperti sebelumnya.
Baik Jova maupun Felix tidak lagi ingin membahas atas apa yang terjadi, kini Felix benar-benar fokus untuk masa depan dirinya dan Jova.
Brakkk... Suara pintu yang dibanting oleh Felix berhasil mengagetkan Jova yang sedang menulis. Hampir dua bulan ia meninggalkan dunia literasi, masih untung penggemarnya masih saja menunggu kisah kelanjutan dari novel yang ia tulis. Meskipun para penbaca tidak jarang ada yang bertanya ada apa gerangan, kenapa cerita yang ia tulis tidak dilanjutkan. Namun, Jova berusaha memberikan alasan yang masuk akal. Jova hanya memberikan alasan bahwa dirinya terkena musibah, untuk musihbahnya sendiri Jova tidak menjelaskanya, karena sudah pasti nanti jati dirinya bakal ada yang tahu. Sedangkan selama ini Jova menulis juga menggunakan nama pena yang semua orang tidak tahu siapa di balik nama pena yang ia gunakan.
"Astaga, kamu kenapa sih Sayang... Apa tidak bisa pelan-pelan masuknya," pekik Jova, seraya berkacak pinggang dengan wajah yang menunjukan kemarahanya.
"Tidak bisa, sebab ini adalah kabar sangat- sangat dinanti-nati sama kamu. Kamu juga pasti tidak bisa bersikap biasa saja," balas Felix sembari duduk di hadapan Jova. Tangan laki-laki itu terulur membekap pipi Jova kanan dan kiri.
"Aku sangat bahagia," ucap Felix dengan tatapan yang sangat dalam menatap sang istri.
"Iya aku juga bisa lihat kalau kamu sedang sangat bahagia, tetapi bahagia kenapa? Apa kamu tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi jangan bikin aku mati penasaran," balas jova sembari meminta Felix menurunkan tanganya dari wajah Jova.
"Coba kamu tebak aku kira-kira bahagia kenapa?" tanya Felix, sembari bibirnya masih terus melengkung sempurna.
"Aku yang sudah bebas," balas Jova dengan santai.
__ADS_1
Felix sontak melebarkan kedua bola matanya. "Loh, kenapa kamu sudah tahu? Padahal aku baru saja mau memberi tahu," balas Felix dengan mencebikan bibirnya dengan sempurna.
Jova pun tertawa dengan renyah. "Yah, kamu memang telat bahkan dokter Evi, pengacara Prabu juga sudah memberiathukan belum di sosial media isinya berita tentang aku." Jova menjawab sembari terkekeh karena melihat reaksi Felix yang sangat menggemaskan.
Yah, mereka meskipun tidak tahu Jova dengan langsung karena foto yang tersebar Jova sedang menggunakan masker dan juga baik Jova maupun Felix tidak pernah memposting fotonya sendiri. Mereka selalu mengunggah bagian tubuh seperti tangan. Entahlah laki-laki itu tidak nyaman kalau ada yang mengenalnya. Begitu juga dengan Jova, kurang nyaman ketika privasinya terganggu.
"Pengacara Prabu, sudah kasih tahu kamu? Bahkan dia tadi berbicara dengan aku seolah tidak tahu apa-apa," ucap Felix dengan menunjukan wajah kesalnya dengan sang pengacara.
"Hahaha... udah-udah. Aku sudah tahu kok, dan aku sangat senang. Meskipun mereka masih menggali kasus ini, tetapi aku dengan senang hati akan memberikan kesaksian yang jujur," ucap Jova dengan bibir terus melengkung sempurna, menggambarkan kalau dia sangat bahagia. Meskipun dia belum sepenuhnya bebas karena bisa saja dari saksi akan kembali menjadi tersangka, tetapi setidaknya Jova bisa bebas dan berkumpung dengan keluarganya. Terutama sang anak angkat yang sudah sangat kangen. Bahkan Jova sudah membayangkan kalau tubuh cemong saat ini sangat besar.
Itu yang diceritakan oleh Sumi dan juga sang ibu yang merawat cemong. Iya sa'at ini usia cemong sudah lebih dari tiga bulan sehingga badanya pasti sudah sangat gembul.
"Baiklah kalau kamu sangat senang pulang, hal yang pertama ingin kamu lakuin apa?" tanya Felix, ia ingin memberikan kejutan untuk sang istri, sesuai yang istrinya mau.
"Kamu sudah tahu apa yang ingin aku lakukan," jawab Jova dengan tatapan yang malas.
"Ok baiklah, selain cemong, apakah ada lagi?" tanya Felix, kembali.
Jova nampak berpikir dengan keras. "Aku sebenarnya ingin ke makam Ayah dan Jini, tapi itu pasti akan memakan waktu yang sangat lama, jadi aku rasa nanti saja deh barengan hari raya Idul Fitri," balas Jova.
__ADS_1
"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan kamu. Kalau gitu aku akan mengabarkan orang rumah untuk bersiap menyambut kepulangan kamu. Akan aku hias rumah dengan balon-balon lucu, dan bunga-bunga indah agar terkesan romatis," kelakar Felix sembari membayangkan penyambutan yang romantis.
"Hist, tidak usah aku suah mengabarkan kepulanganku pada Ibu dan juga Bi Suro, kalau yang balon-balon tidak usah aku bukan anak kecil lagi," tolak Jova.
"Yah, padahal aku sudah membayangkan kalau hal itu pasti akan sangat romantis, dan kamu akan sangat menyukainya dan memeluk aku dengan mesra," balas Felix dengan memeragakan dia memeluk Jova.
Sehingga Jova pun terlihat kembali tertawa dengan renyah. Mereka pun merayakan hari bahagianya dengan mengobrol santai, dan saling bercerita.
Sedangkan di tempat lain tepatnya di rumah Felix.
Sumi, Lasmi, Arzen, Bi Suro dan beberapa tim yang lain membuat kejutan untuk Jova di mana nanti malam menurut informasi Jova akan pulang ke rumah mereka sehingga, sesuai dengan yang Felix inginkan saat ini di rooftop sudah dibikin sesuai yang Felix mau. Mereka kerja dengan sangat profesional sehingga dalam waktu tiga hari sudah rapih dan juga saat ini bukan hanya cemong yang jadi anak-anak Jova, tetapi ada sepuluh kucing berhidung pesek dan dengan wajah yang sangat menggemaskan. Yah, menggemaskan tapi bagi Jova yah, bagi Felix mah tetap saja menggelikan.
"Beruntung banget yah Jova punya suami kayak Bos Felix yang sangat perhatian, mau pulang saja kejutanya istimewa banget, aku jadi pengin buru-buru punya suami deh," racau Sumi dengan menatap kagum sama dekor rooftop selain banyak balon-balon lucu bunga-bunga yang indah, juga ada lampu-lampu yang romantis udah gitu tempatnya nyaman untuk berkencan. Terus di temanin dengan kucing-kucing yang lucu.
"Loh bukanya kemarin katanya udah jadi calon suaminnya Jong-kook. Kenapa nggak minta dinikahi saja apa sudah tidak jadi Jong-kook selingkuh?" kelakar Arzen sangat senang meledek Sumi yang halunya melebihi othornya.
"Apaan tidak dong selamanya akan jadi kekasih nomor satu," balas Sumi, enak saja calon suaminya dikatakan selingkuh.
"Kirain udah nggak jadi calon istrinya Jong-kook lagi aku bakal maju, lumayan buat teman tidur dari pada kedinginan mana musim ujan butuh selimut yang bisa membuat berkeringat." Arzen menaikan turunkan alisnya.
__ADS_1
Bruggg... Sumi menepuk pundak Arzen dengan kuat. "Kalau ngomong mesum."
"Loh, mana yang mesum sih Sum, kamu mah ada-ada saja."