Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Dukungan Untuk Jova


__ADS_3

Felix pun menatap bahagia pada asisten pribadinya yang mana ini adalah kabar bahagia yang benar-benar bahagia, dari pada dirinya mendapatkan harta melimpah. Ya, meskipun harta melimpah juga termasuk kebahagiaan juga sih. Apalagi kalau untuk penulis melimpah banget.


Hari terus bergulir, kasus Jova semakin viral dan bahkan ada dukungan dari para pengamat hukum, artis, dan pengusaha, mereka banyak mengatakan kalau bukti sudah cukup seharusnya yang berwenang sudah bisa langsung ketuk palu jangan melanjutkan sidang yang memakan waktu, selain mengeluarkan beban yang banyak saat sidang juga pastinya kejadian seperti ini justru mencoreng nama baik mereka karena dianggap tidak melindungi warga tidak bersalah.


Dari kasus ini sudah bisa dinilai dengan kasat mata. Apalagi dari kamera CCTV sudah jelas dua pengendara itu justru seolah sudah sengaja menyetel jalanan yang cukup sepi, atau bahkan ada komplotanya, polisi harus tegas menindak jangan terfokus pada pelaku pembunuhan, tetapi pada teman korban yang masih dijadikan saksi. Tekan terus agar terbuka semua jaringanya. Itu yang mereka katakan.


Felix semakin merasakan ada harapan yang semakin besar ketika kasus sang istri bukan hanya menjadi topik hangat untuk rakyat biasa, tetapi juga menjadi topik yang hangat juga untuk para petinggi pemimpin negri ini. Bahkan dengan terang-terangan masuk televisi untuk dibahas dengan pengacar yang hebat-hebat. Dan tentunya itu bisa membuat Jova bisa bebas tanpa syarat karena yang dia lakukan untuk membela diri.


Felix pun yang awalnya sangat malas untuk berselancar di sosila media, tapi sejak kasus sang istri viral dia kembali aktif diakun-akunnya. Bahkan followers-nya naik berkali-kali lipat selain kaum Hawa yang senang menggodain Felix, banyak juga dukungan dari kaun Adam. Kini laki-laki itu seolah memiliki sodara baru yang bahkan lebih perhatian. Tidak hanya komen yang positif dan berusaha untuk menguatkan.


Bahkan banyak juga dari pada artis dan juga pengusaha memberikan dukungan dari pesan pribadi. Seperti malam ini. Felix lagi-lagi tidak bisa memejamkan matanya. Entah mengapa dirinya tidak bisa tertidur. Setelah tadi siang dia sempat mengunjungi Jova untuk makan siang bersama. Memang laki-laki itu kalau sedang kangen sering membawa makanan untuk makan bersama, dan cerita-cerita tentunya.


Seperti siang tadi Felix pun langsung menceritakan apa yang terjadi di luaran sana. Yang mana Jova mendapatkan dukungan sangat luar biasa dari warga bahkan bukan yang tinggal di Indonesia, mereka yang kebetulan tinggal di luar negri pun memberikan dukungan. Bahkan banyak yang ingin tahu bagaimana kondisi Jova saat ini. Saking polisi menutup kasus ini, dan juga Felix yang tidak menggunakan dunia maya. Mereka sampai tidak tahu perkembangan Jova. Sedangkan yang mereka inginkan kasus Jova transparan. Da setiap saat ada informasi terbaru dari Jova.


Senyum samar terlihat dari bibir Jova, di wajah pucat dan lelahnya. Terutama ketika Jova membaca komen-komen dari masyarakat yag dia sendiri tidak tahu semua.


"Apa yang kamu rasakan setelah jadi artis?" tanya Felix setengah bercanda. Karena laki-laki itu tahu Jova sedang tidak enak badan lagi, itu bisa Felix lihat dari wajahnya yang pucat.


"Apaan artis kok dipenjara. Tapi berhubung ditanya perasaanya, tentunya senang dan bahagia yah, merasa sekarang tidak sendiri. Aku merasa kalau saat ini menemukan kekuatan baru." Jova pun tidak henti-hentinya mengucapkan rasa terima kasihnya kepada siapa pun di luaran sana yang telah mendukungnya.


*******


Kini Felix di dalam kamar terus menatap jepretan kamera yang barusan dia ambil bersama Jova, "Kenapa aku lihat wajah kamu pucat banget Jo. Apa kamu kembali sakit?" batin Felix melihat wajah Jova yang saat ini seperti kurang sehat.


Pandangan mata Felix menatap ke jam di dinding kamarnya yang menunjukan tengah malam, tetapi matanya kembali tidak bisa ia pejamkan. Tangan Felix mengusap ranjang sampingnya di mana Jova biasanya tidur.

__ADS_1


"Sudah hampir dua bulan aku tidur sendiri. Aku tidur di kasur yang empuk sedangkan kamu tidur di alas yang seadanya. Apa kabar kamu Jo? Apa kamu sudah tidur?" tanya Felix. Kini laki-laki itu berjalan menuju ke sofa ia akan tidur di sofa mungkin dengan tidur di sofa dia akan merasakan sama dengan sang istri rasakan.


Baru juga Felix merasakan kalau dirinya terlelap, tetapi dia sudah terbangun karena bunyi telepon. Dengan nyawa yang baru setengah Felix melangkahkan kakinya dan merain ponsel yang ada di atas kasur. Kedua mata lelaki itu langsung melebar sempurna ketika kepala lapas menelepon. Pikiran laki-laki itu tentu tidak bisa berpikir secara normal. Pasti terjadi sesuatu dengan sang istri.


[Ada apa Buk?] tanya Felix dengan nada yang terlihat cemas, begitu mengangkat sambungan telepon yang masuk.


[Mohon Anda datang ke rumah sakit kemarin Jova di rawat. Kondisi Jova kembali drop!]


Gigi-gigi Felix langsung saling beradu ketika mendengar ucapan kepala lapas. Tanpa pikir panjang laki-laki itu langsung mengambil konci mobilnya. Bahkan Felix tidak sempat mengganti pakaian tidurnya.


"Pantas kamu tadi pucet banget Jo, ternyata kamu memang sedang merasakan sesuatu. Kamu sakit apa lagi Jo?" gerutu Felix sepanjang perjalanan laki-laki itu benar-benar tidak bisa berikir jernih. Entah apa yang sebenanya terjadi pada Jova dan kenapa dia selalu  seperti ini sakit-sakitan.


"Apa di dalam penjara kamu banyak menerima siksaan sampai kamu bolak-balik sakit."


Setelah menempuh perjalan yang cukup jauh, untung saja jalanan Ibukota sedang berdamai dengan dirinya sehingga tidak membutuhkan waktu lama kini Felix sudah sampai di rumah sakit.


"Kenapa di tempatkan di ruang kelas tiga lagi sih Mbak, kan aku sudah bilang untuk Jova ruang satu saja, biar saya yang bayar pribadi," ucap Felix dengan nada tingginya.


"Iya maaf Tuan, itu semua karena permintaan kepala lapas," jawab penjaga yang ada di resepsionis.


"Aku minta pindahkan sekarang juga," bentak Felix dia benar-benar marah dan kesal karena untuk kesekian kalinya Jova sakit.


Lagi, dengan kekuatan uang semuanya beres dalam waktu singkat. Felix menatap Jova yang terbaring dengan lemah dan juga bibir yang setengah membiru, kembali hatinya tercubit. Felix pun mengambil gambar Jova yang sedang terbaring dengan lemah. Untuk pertama kalinya dirinya memposting Jova di dunia maya. {Mohon doakan untuk Jova, semoga bisa melewati ini semua. Banyak yang sayang sama kamu Jo. Kamu pasti melewati kesulitan ini semua.}( emot peluk, dan love banyak)Itu adalah caption yang Felix tulis, dan baru saja terkirim sudah banyak yang membanjiri komen di akun milik Felix. Padahal saat ini masih jam tiga pagi, tetapi banyak yang masih terjaga.


Felix menutup ponselnya setelah beberapa ia balas komen yang mendoakan kebaikan untuk Jova.

__ADS_1


"Apa yang kamu rasakan?" tanya Felix dengan tangan menggenggam Jova dan sebelah tanganya mengusap rambut Jova yang setengah basah karena keringat.


Bukanya Jova menjawa pertanyaan Felix tetapi justru wanita itu menangis. Meskipun Felix sudah tahu kalau sang istri pasti sudah lebih banyak menangis, itu bisa dilihat dari kedua matanya yang merah dan bengkak.


"Hai, jangan nangis dong aku jadi ikut sedih." Felix berlaga seperti orang yang tengah menangis. Tentu tujuanya agar Jova tertawa. Namun, tawa wanita itu sudah hilang, atau memang wanita itu benar-benar lupa bagaimana caranya tertawa.


"Maafkan aku..." Suara parau Jova akhirnya keluar menandakan kalau dia memang sedang bersedih, bahkan sangat sedih.


"Aku akan selalu memaafkan kamu, apapun kesalahan kamu," jawab Felix dengan memberikan segurat senyum terbaiknya.


"Aku adalah wanita yang jahat, aku tidak bisa menjaga anak kita. Maafkan aku, silahkan kamu marah sama aku. Aku akan terima," ucap Jova dengan lirih.


Deh!!! Jantung Felix seolah hilang dari porosnya, ketik mendengar ucapan Jova.


"Apa sih Jo masksud kamu? Anak kita? Apa kamu selama ini hamil?" tanya Felix suaranya sudah bergetar dengan hebat ketika mengucapkan pertanyaanya.


Jova hanya diam dam mengangguk dengan pasrah.


"Kenapa Jo? Kenapa kamu nggak ngomong kalau kamu sedang hamil anak aku? Apa sebegitu buruknya aku, sampai kamu tidak mau memberitahukan kalau kamu sedang hamil?" tanya Felix dengan suara yang meninggi.


Namun, Jova hanya diam saja tidak mau menjawab bahkan untuk menangis pun dia sudah tidak lagi menangis.  Wanita itu sudah sampai ditahap lelah dan benar-benar pasrah. Kemana pun jalan hidupnya dia sudah sangat terima sekali pun di dalam penjara selama hidupnya.


Namun Felix kembali sadar bahwa yang ia lakukan sudah salah. Jova pasti juga sedih dengar ini semua.


Felix kembali menggenggam tangan sang istri.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku hanya terkejut. Aku tidak marah kok. Aku hanya bingung kenapa kamu merahasiakan ini semua dari aku."


__ADS_2